Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 40


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Xena memilih memalingkan muka menatap mega dari luar jendela, dia sebal karena harus duduk bersisian dengan Evan terlebih hatinya masih merasa dongkol. Kejujurannya ke Hana dirasa Xena tidak ada artinya, karena Evan masih bisa menjeratnya dan kini lebih parah dari sebelumnya.


Beberapa menit yang lalu Xena dan Evan berbincang dengan Prawira dan Hana yang duduk tak jauh dari mereka. Pasangan yang sudah berumur itu terang-terangan menyebut jika dia dan Evan sungguh sangat cocok, karena memiliki nasip yang sama-hampir bercerai. Namun, yang membuat Xena semakin sebal adalah perkataan Evan bahwa istrinya tidak mencintainya, maka dari itu dia ingin bercerai.


Bukankah ucapan pria itu bagai sindirian nyata?


“Jangan makan tempatku!” ketus Xena saat tangan Evan tanpa sengaja menyentuh sisi kursi yang dia duduki.


Bukannya kesal, Evan malah tertawa dan menengok ke arah Prawira dan Hana yang sedang bermesraan. Couple goal bagi Evan, masih bisa seromantis itu saat usia tak lagi muda.


“Xen, menurutmu apa Pak Prawira dan Bu Hana masih bisa melakukan itu?”


Pertanyaan Evan membuat netra Xena membeliak lebar. Menurut Xena pertanyaan itu terlalu mesum untuk ditanyakan.


“Melakukan apa?”


Xena mengerjab, keterlambatan otaknya merespon setiap pertanyaan Evan kelak akan menjadi senjata yang dimanfaatkan pria itu untuk mengerjainya.


“Oh yes oh no, umurmu berapa?” sindir Evan. “Hal seperti itu tidak tahu.”


“Bukannya tidak tahu, tapi pikiranku ini sangat murni, jauh dari hal-hal mesum Tuan Evan,” ketus Xena, dia tekuk lengannya ke depan dada dan kembali memalingkan muka.


“Bagaimana rasanya setelah terjebak dengan kebohongan sekarang kamu terjebak dengan kejujuran,” sindir Evan yang berbicara sambil tersenyum tanpa menoleh gadis di sebelahnya, dia menyentuh jam tangan mewah di pergelangan tangan seolah membetulkan letaknya yang kurang pas.


“Ev, sebenarnya apa sih maumu?” Xena akhirnya tidak bisa menahan emosi, meski harus menggunakan suara kecil nyaris berbisik sejak tadi, takut terdengar Hana dan Prawira yang sepertinya sedang tidur.

__ADS_1


“Bersenang-senang denganmu."


Evan seketika menoleh, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Xena. Bibir pria itu tersenyum tipis mendapati istrinya menelan saliva.


"Sial! mahkluk apa dia sebenarnya?" Xena berdehem lantas kembali menoleh jendela.


_


_


_


_


Setelah perjalanan udara dan darat akhirnya mereka sampai ke pulau Kilikili di malam hari. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, pulau itu sekarang sudah memiliki sebuah bangunan resort yang bisa dipakai dan disewa untuk liburan.


“Tidak masalah, ini lebih baik dari pada sepi,” jawab Evan sambil melihat siapa orang lain yang ada di sana. “Sepertinya artis, atau mungkin model yang sedang melakukan pemotretan?”


Xena menatap ke arah orang-orang yang menjadi obyek pembicaraan Prawira dan Evan, nampak beberapa orang sedang berbincang sambil menikmati makan malam. Mereka pun lewat begitu saja mengikuti petugas resort yang mengantar menuju kamar.


Xena sedikit heran saat melihat Prawira dan Hana masih berjalan lurus saat petugas yang membawa koper miliknya berhenti di depan sebuah kamar.


“Mereka?”


Xena seperti penasaran lalu menoleh Evan, dia heran mendapati pria itu membuka pintu kamar tepat di sebalahnya.

__ADS_1


“Meraka tentu saja memakai kamar spesial, begitu pun tak tahu,” sinis Evan, senyum mencibir terbit di wajahnya sebelum masuk ke dalam kamar.


Xena pun salah tingkah, dia merasa malu karena masih ada petugas yang membawakan kopernya.


“Terima Kasih.”


Gadis itu lantas masuk dan menutup pintu, dia benar-benar dibuat kesal dengan tingkah Evan. Dari pada terus jengkel dan menguras tenaga, Xena memutuskan membongkar koper miliknya, tapi tiba-tiba saja dia penasaran dengan pemandangan di luar. Kaki gadis itu melangkah membuka korden, di mana sebuah pintu geser berada di baliknya. Sebuah teras yang menghadap langsung ke laut membuat bibir Xena tersenyum lebar, dia pun bergegas membuka pintu, wajahnya terlihat begitu bahagia, hingga sama sekali tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan tertiup angin laut. Hingga sebuah suara membuat Xena menoleh dan memasang muka masam.


“Dasar! Apa kamu tidak pernah melihat laut?”


Xena merapikan helaian rambutnya yang nampak berantakan, dan masih terus memasang muka kesal ke Evan. Pria itu ternyata sudah berdiri sejak tadi di teras kamarnya sendiri sebelum gadis itu keluar.


“Tidak pernah, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku pergi ke pantai,” jawab Xena.


Evan mengernyit, dia pikir Xena pasti sengaja mengatakan hal itu. Jelas satu tahun yang lalu saat hubungan mereka membaik, mereka pernah berjalan-jalan di panti bersama.


“Ah … aku ingat.”


Ucapan Xena membuat Evan tersadar dari kenangan manis itu. Ia mencoba bersikap biasa tapi pikirannya berkata bahwa gadis sebelah kamarnya itu pasti akan mengeluarkan bom cabe dari bibir tipisnya.


“Aku ingat pernah ke pantai dengan seorang pria yang berpura-pura sebentar lagi akan mati saat itu, padahal dia masih bisa menghamili selingkuhannya,” sindir Xena.


“Kamu.” Evan syok.


“Apa?”

__ADS_1


Xena membusungkan dada, hatinya bersorak kegirangan melihat Evan mati kata. Dia membalik badan tanpa mengucapkan selamat malam untuk masuk kembali ke kamar. Sementara itu, Evan hanya bisa tersenyum penuh ironi, sebelum dia disadarkan dengan dering ponsel yang berada di sakunya.


[ Setengah jam lagi kita makan malam, aku sudah meminta disediakan meja tepat di tepi pantai, jadi pakailah jaket tebal ]


__ADS_2