
Xena yang sudah manyun menekuri lantai dan melihat sepatunya sendiri. "Jujur saja, Ev. Saat aku kabur dari kamu sebenarnya aku merasa lebih bebas, tidak terbebani. Tidak terbersit sekalipun untuk kembali padamu. Aku menikmati hidupku saat itu, Ev. Dan aku takut akan melakukan hal yang sama.
"Xen! Lihat aku!" Evan tarik pundak Xena dan membuat mata mereka beradu. Evan sengaja mengunci pandangan istrinya lalu mendesah begitu panjang. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi agar Xena percaya.
"Tolong katakan, bagaimana caranya agar kamu percaya aku. Bagaimana caranya agar kamu yakin. Aku itu tidak akan macam-macam."
Xena yang memang tidak paham dengan hati sendiri pun menggeleng pelan. Dia ingin percaya Evan, hanya seja kejadian lampau membuatnya meragu.
"Kamu itu over thinking. Aku akui aku memang pernah menyakiti kamu, tapi aku sudah sadar kalau kamu berharga. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Percaya aku."
**
Hari berikutnya, setelah pulang dari kantor Xena berkunjung ke rumah Hari. Rencananya dia ingin melihat keadaan papanya itu. Namun, tanpa dia duga ternyata di sana dia juga melihat papa mertuanya. Di sana, di ruang tamu papa kandung dan papa mertuanya sedang asyik bermain catur.
Xena yang setengah kesal pun berdengkus. Karena bukannya di sambut, kedua lelaki tua itu justru hanya menoleh sebentar lalu kembali melihat papan catur. Bagi Xena itu sangat menyebalkan. Seolah dia tak sebeharga pion yang ada di papan hitam putih kotak-kotak itu
"Pa ...."
__ADS_1
"Hmm." Hari dan Dimitri menyahut serentak dengan nada yang sama. Melihat itu Xena pun semakin kesal.
"Aku mau ngomong," tutur Xena lagi.
"Ya," sahut keduanya lagi.
Menyadari itu Xena pun mengerti bahwa dia tidak akan bisa mengalihkan pandangan dua laki-laki itu dari papan catur. Mengerti itu semakin resah Xena. Dia rebahkan punggung yang lelah ke sandaran sofa lalu mendesah begitu panjang hingga membuat Hari dan Dimitri saling adu pandang.
"Apa aku terima saja uang dari Evan? Dia menawarkan bantuan, katanya ini membangun yayasan untukku," tutur Xena.
Sekarang Dimitri menegakkan duduknya, lalu menatap sang menantu yang sedang resah bersandar di sofa.
"Sebenarnya aku ingin menerima bantuan Evan, Pa, cuma aku takut," balas Xena. Penuturan itu membuat Dimitri memijit kening.
"Takut kenapa?"
"Ya takut saja."
__ADS_1
"Xena begini, dengar Papa baik-baik. Evan itu suami kamu jadi wajar dia membantu. Dan juga, kamu sama Evan itu sama-sama anak tunggal. Mau bagaimanapun nanti harta papa itu tidak akan lari kemana selain ke kalian. Kalau kamu tidak ingin menerima uang Evan pun, Papa akan senang hati membantu."
"Iya," timpal hari. "Papa juga rela menjual peternakan beserta sapi-sapi kesayangan Papa agar anak Papa ini bahagia."
Xena agak terkejut dengan penuturan sang ayah. Apalagi saat melihat sama sekali tidak ada keraguan di matanya saat mengatakan itu.
Sungguh, Xena bahagia. Kendatipun demikian dia tetap merasa ada yang mengganjal. Satu sisi dia bahagia karena dihargai dan disayangi, tapi satu sisi juga merasa tidak enak hati. Peternakan itu adalah usaha ayahnya yang dibesarkan seperti anaknya sendiri. Xena pun kembali mengembuskan napas panjang.
"Tidak semudah itu, Pa." Mata Xena menatap hari dan Dimitri secara bergantian. "Aku itu sebenarnya ingin menerima bantuan Evan, hanya saja takut dia mengulangi hal yang lalu. Bagaimana jika kedepannya dia malah berselingkuh? Aku tidak ingin nantinya yayasan yang sudah aku bangun susah payah malah jadi pertengkaran saat di pengadilan. Malu, Pa."
Dimitri hanya geleng-geleng kepala dan agak kaget saat melihat Hari menatapnya sinis.
"Hei, berhentilah menatap seperti itu. Aku ini sahabatmu, Har."
"Tapi tetap saja anakmu pernah menyakiti anakku," balas Hari ketus.
Dimitri hanya berdengkus. Dia lantas menatap wajah frustasi dan lelah Xena.
__ADS_1
"Dengar Papa baik-baik. Papa pastikan Evan tidak akan berselingkuh lagi dari kamu. Jika dia berselingkuh, papa sendiri yang akan menyunat barangnya sampai habis. Kamu tenang saja. Oke!"