Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 87


__ADS_3

Setelah dari rumah papanya, Xena pun pulang dan menyiapkan makan malam. Dia sendiri yang menyiapkan itu semua dan meminta pembantu rumah tangganya untuk beristirahat saja. Saat menyiapkan tak henti bibirnya bersenandung. Sekarang dia sudah mantap akan menerima bantuan Evan. Setelah membicarakan keresahan hati ke papa mertua, Xena merasa sedikit lega. Dia merasa ada pendukung dan Evan tidak akan mungkin macam-macam jika mertuanya saja sudah menjamin.


Saat sedang menata makan malam Xena mendengar suara mesin mobil di depan. Bergegas dia menuju pintu hendak menyambut. Dia sangat yakin kalau yang datang adalah Evan.


Benar saja, di ambang pintu Xena sudah melihat suaminya datang dengan menenteng tas kerja. Terlihat agak lelah, tapi Xena dengan wajah ceria menyambut dan memberinya pelukan.


"Selamat datang suamiku," ucap Xena sembari menepuk punggung Evan pelan.


Evan yang keheranan hanya bisa mengangkat alis. Dia tatap wajah Xena saat istrinya itu mengurai pelukan.


"Sayang kamu belum tidur?" tanya Evan.


Xena menggeleng. "Bagaimana aku bisa tidur saat suami sedang lembur?"


Ujung bibir Evan tertarik, dia bahagia.


"Kamu pasti lelah. Ayo masuk, aku sudah siapkan makan malam. Tapi sebelum itu kamu mandi dulu. Di kamar mandi aku sudah siapkan air hangat," lanjut Xena sembari mengambil alih tas yang Evan pegang, lantas menuntunnya menuju kamar. Lagi-lagi dibalas Evan dengan kerjapan mata dan senyum saja.


"Ayo, kita ke kamar. Aku sudah siapkan segalanya," lanjut Xena.


Tak ada yang bisa Evan lakukan selain menurut. Dalam hati begitu banyak pertanyaan yang seperti berdesakan ingin dikeluarkan. Hanya saja dia urung melakukan itu melihat betapa manisnya Xena bertingkah malam ini.

__ADS_1


Nyatanya, Xena tidak hanya menyiapkan air mandi, wanita itu juga menunggu dan menyiapkan baju tidur untuknya. Evan lagi-lagi hanya bisa diam saja dan melakukan hal sewajarnya.


"Sudah rapi, ayo turun kita makan," ajak Xena setelah memastikan suaminya memakai baju. Lalu, menggandeng begitu mesra, dan lagi-lagi Evan tak berkata. Dia begitu fokus menikmati momen bahagia yang diciptakan Xena khusus untuknya.


Saat di meja makan pun Xena terus melayani, senyumnya begitu merekah dan membuat nafsu makan Evan bertambah. Setelah menyantap habis makanan yang tersedia, Evan pun menatap Xena yang masih saja mengunyah. Tatapan cinta yang begitu tulus.


Xena yang merasa waktunya sudah tepat pun menghentikan kunyahan. Dia mendorong sisa makanan yang ada di mulut dengan menenggak setengah gelas air putih.


"Kenapa?" tanya sembari mengelap bibir dengan sapu tangan.


Evan cuma menggeleng. "Kamu cantik malam ini."


"Ya, katakan saya. Aku siap mendengarkan. Bahkan aku siap mengabulkan apa saja."


Ditatap penuh cinta oleh Evan membuat Xena semakin gugup. Dia raup oksigen banyak-banyak, lantas membuangnya perlahan. Bibirnya juga kembali tertarik.


"Ev, aku sudah putuskan. Aku akan menerima bantuan kamu. Seperti yang kamu bilang, niat baik harus disegerakan. Di luaran sana banyak anak berbakat yang butuh bantuanku. Jadi ... jadi ...."


"Jadi?" Evan ikut mengulang.


"Jadi bisakah kamu membantuku?"

__ADS_1


Senyum Evan makin lebar. Dia pegang tangan Xena dan menggenggamnya erat. Xena bahkan bisa merasakan ada kehangatan yang menjalar dari tangan ke pipi. Dia tersipu.


"Demi kamu, aku akan melakukan apa pun. Aku akan menyerahkan hal ini pada kontraktor yang andal agar tidak mengecewakanmu."


"Makasih, Ev."


Evan mengangguk. "Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih karena sudah mempercayai aku. Aku yakin, apa pun yang terjadi di hubungan kita kedepannya, aku tidak akan mengungkit hal ini."


Mata Xena langsung menyipit. Diberi tatapan membunuh begitu tak pelak membuat senyum Evan sirna, dia justru mencium punggung tangan Xena begitu khidmat.


"Tapi tenang saja, aku janji tidak akan ada apa-apa. Aku janji akan selalu setia dan mengutamakan kamu hingga pertengkaran jenis apa pun tidak akan berarti di hubungan kita."


_


_


_


_


Next

__ADS_1


__ADS_2