
Siang itu Xena datang ke rumah papanya membawa koper, bukannya senang melihat putrinya datang. Hari malah bernyanyi dengan nada balonku ada lima yang liriknya diganti untuk menyindir.
“Aku minggat dari rumah, gara-gara gosip media, berbohong sudah cerai padahal masih cinta. Aku berpura-pura dor, biar tak ketahuan. Pisah sama suami, pulang ke rumah papi.”
Xena memasang muka masam, sedangkan hari merasa tak berdosa sama sekali setelah menyelesaikan lagu itu.
“Kalau tidak boleh ke sini, ya sudah aku pergi lagi,” ancam Xena.
“Lho … lho .. lho kok marah?” tanya Hari yang keheranan karena niatnya tadi hanya bercanda. Tanpa diberitahu, dia juga yakin Xena melakukannya untuk kebaikan bersama.
Terlambat, Xena terlanjur murka. Ia serahkan kopernya ke pembantu yang menyambutnya lalu memutar tumit kembali menuju mobil yang terparkir di halaman.
“Sen, mau kemana? woi … Xenxen,” teriak Hari sambil tertawa-tawa. Pria itu yakin putrinya pasti akan kembali karena meski marah Xena meninggalkan kopernya.
***
Membawa mobilnya menembus jalanan yang sepi siang itu, Xena bingung harus pergi kemana. Ia tidak punya arah tujuan hingga pikirannya tertuju ke suatu tempat.
Beberapa menit kemudian mobil Xena nampak memasuki halaman sebuah rumah mewah. Ia memutuskan datang ke rumah Hantoro, berpikir setidaknya dia bisa menikmati makan siang yang dibuat oleh Hantari.
__ADS_1
Pembantu rumah itu baru saja membukakan pintu, di saat yang bersamaan Hantari berjalan menghampiri karena penasaran siapa yang bertamu siang-siang. Wanita paruh baya itu tertawa bahagia melihat sang keponakan. Ia langsung memeluk Xena, kemudian merangkulnya masuk ke dalam.
“Tante aku lapar, tante masak apa hari ini?” tanya Xena tanpa basa-basi.
“Tante masak gulai ikan, ayo kita makan sambil ngobrol.”
Xena menganggukkan kepala cepat, dia tak sabar menikmati masakan Hantari yang selalu bisa mengingatkannya ke almarhumah sang mama, terlebih Hantari bersikap sangat hangat. Ia begitu telaten dalam menyiapkan makanan untuk Xena.
“Selain lihat berita, Tante juga dapat cerita dari Om kamu. Apa iya harus berpura-pura begitu, Xen? Apa suamimu mau?” tanya Hantari di sela makan siang.
Xena jelas tahu apa yang dimaksud Hantari. Ia hanya mengangguk lalu menyuapkan makanan ke dalam mulut.
“Kami takut ada yang memata-matai, jadi mulai hari ini aku akan tinggal di rumah papa dulu,” ucap Xena.
“Tante flu?” Xena berpura-pura bego, salah sendiri Hantari bertanya dengan memperagakan gerakan orang bersin-bersin.
“Hadeh masa kamu nggak tahu?”
Xena terkekeh, keluarga Hantoro memang tidak ada yang tidak lucu, bahkan putri angkat mereka juga sangat lucu. Namanya Anya dan sepertinya gadis itu masih di sekolah dan belum pulang.
__ADS_1
“Entahlah Tante, aku sedang tidak memikirkan hal berbau dua satu plus.” Xena berbohong, jelas baru kemarin dia memancing Evan dan berhasil membuat pria itu melepaskan jangkar kapal.
“Kalau kamu butuh tempat untuk bertemu, kamu suruh saja Evan ke sini. Masih ada kamar kosong milik Kirana di lantai atas, dia juga paling seminggu sekali datang dan tidak pernah menginap.”
Xena tertawa geli, pikirannya sudah kemana-mana. Bagaimana bisa dia menjadikan kamar itu hanya sebagai tempat untuk bertemu dan melapas rindu? Jelas akan sangat memalukan, karena semua orang pasti sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukannya dan Evan jika berada di kamar berdua.
“Kirana bilang ranjang di kamarnya itu keramat, setelah melakukan hatchim-hatchim di sana dia langsung hamil. Itu terjadi dua kali, bukankah sangat mengherankan?” Hantari memasang muka serius sampai Xena bergidik ngeri dibuatnya.
“Apa aku harus mencobanya?” tanya Xena kemudian.
_
_
_
_
Like
__ADS_1
Komen
Mamacih geng