
“Kita hanya pelatihan satu hari ‘kan? kenapa membawa koper?” tanya Xena saat Evan memintanya berkemas. Pria itu bahkan sengaja tidak berangkat bekerja, dia berkata check in hotel sudah bisa dilakukan jam dua belas siang.
“Setelah pelatihan selesai aku ingin kita staycation di sana sampai Sabtu,” jawab Evan yang sibuk memilih kemeja.
Xena tidak bisa mencari alasan, jika memang itu yang Evan mau dia akan menurutinya. Bukan karena dia sudah mulai bisa kembali percaya pada pria itu, melainkan karena ingin memberikan Evan kesempatan, melakukan apa yang diinginkan hingga jika dia masih bersikukuh untuk bercerai, pria itu tidak akan meminta kesempatan kembali.
“Tapi Ev, sebaiknya jangan terlalu dekat di sana. Anggap saja kita tidak saling kenal.”
Evan menghentikan tangannya yang baru akan meletakkan kembali gantungan baju ke almari. Ia berjalan keluar dari kamar ganti dan mendekat ke Xena yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.
“Kenapa?”
“Bukankah banyak orang dari Lembaga dan yayasan lain yang ikut, aku takut jika mereka tahu kita-“ Xena menjeda kalimat. “Bukannya tidak perlu aku jelaskan secara gamblang? aku takut dikira melakukan nepotisme mendapatkan dana CSR itu, meskipun iya,” ucap Xena dengan setengah berbisik di akhir kalimat.
“Itu hanya pikiranmu saja, sudah tidak usah mengada-ada. Cepat mana baju yang akan kamu bawa, kita cukup membawa satu koper saja,” sungut Evan.
_
_
__ADS_1
_
Bak selebritis papan atas, Xena memakai topi, kacamata hitam dan juga masker saat datang ke hotel bersama Evan. Tingkahnya sukses membuat Evan kesal. Jika bisa, pria itu bahkan ingin membuang topi dan kacamata yang dikenakan Xena karena terlihat sangat aneh.
“Bisa tidak kamu melepaskan topi dan kacamata itu.” Evan akhirnya berbicara saat mereka berdua berada di dalam lift.
“Memang ada masalah?” tanya Xena santai.
“Tentu saja, bukan hanya membuat orang tidak mengenalimu. Kamu juga membuat mereka berpikir yang macam-macam, apa kamu tahu? kita terlihat seperti pasangan selingkuhan yang akan ngeroom berdua.”
Xena menecebik kesal, dengan berat hati dia melepas topi di kepala dan menggenggamnya erat. “Puas?” bentaknya ke Evan.
***
Xena masuk seorang diri ke dalam ruang pelatihan yang sudah disiapkan perusahaan Evan. Ia terlihat menyisir setiap sudut ruangan sebelum akhirnya menyapa dua orang peserta yang sudah duduk di salah satu meja yang sudah ditata panitia. Mereka pun sempat berkenalan, dan Xena memilih untuk diam jika tidak ditanya.
Gadis itu memilih membuka laptop, menghubungkannya dengan sambungan internet yang tersedia dan berselancar di dunia maya. Hingga dua orang yang duduk di dekatnya mulai membicarakan sesuatu yang membuatnya melebarkan daun telinga.
“Kamu tahu, kata atasanku ada satu Lembaga atau yayasan yang lolos menerima dana CSR ini padahal tidak melengkapi persyaratan.”
__ADS_1
“Benarkah? kenapa bisa begitu?”
“Ya, mungkin karena memiliki orang dalam. Lagi pula semuanya memang akan lebih mudah ‘kan kalau kita memiliki orang dalam.”
Xena berpura-pura tidak mendengar, ternyata keresahannya terjawab juga. Tidak mungkin masalah dana CSR ini bisa disembunyikan. Ia memilih cuek sampai dua orang itu berbincang kembali.
“Oh … ya tadi ada yang melihat pemilik perusahaan pemberi dana CSR ini masuk ke hotel bersama wanita. Ia memakai masker bahkan kacamata seolah tidak ingin dikenali semua orang, apa mungkin gundiknya?”
_
_
_
_
like
komen
__ADS_1
😘