
Xena menoleh saat Evan membuka pintu mobil untuk turun, suaminya itu berjalan membuka gerbang rumahnya sendiri tak seperti biasa.
“Kenapa? apa mereka sibuk nonton sinetron di saluran burung berenang sampai tidak membukakan pintu?” gumam Xena. Ia lantas menanyakan hal itu kepada Evan saat suaminya masuk kembali ke mobil.
“Entah, sepertinya mereka tahu bahwa kita hanya ingin berdua.”
“Apa maksudmu?” Xena memalingkan muka, tidak lucu jika Evan melihat pipinya merona karena malu, dia jelas wanita yang sudah dewasa, ucapan seperti itu jelas membawa pikirannya ke hal-hal berbau dua puluh satu plus.
Turun dari mobil, Xena sudah merasa ada yang aneh mendapati banyak kelopak mawar yang tertata di lantai. Hingga Evan membuka pintu dan Xena pun semakin terperanga. Rasanya seperti tidak sedang berada di rumah.
“Ev, apa ini acara penghargaan insan perfilman, kenapa ada karpet merah?”
Evan mengunci pintu rumah lantas mendekat, dia tersenyum melihat Xena terkesima dengan apa yang sudah disiapkan.
“Aku punya satu lagi hadiah untukmu.” Evan mengulurkan tangan, dan dengan senang hati Xena menyentuh tangan pria itu. Mereka berjalan menaiki anak tangga dan sesekali Xena masih menoleh, dia merasa seperti sedang berada di negeri dongeng. Kenapa suasana rumah bisa berubah seperti ini.
“Ev … kapan kamu menyiapkan semua ini?” tanya Xena menelisik. “Apa kamu mengusir semua pembantu?” tanyanya kemudian menyadari tidak ada satu pun pembantu yang menyambut kepulangan mereka tadi.
“Aku tidak mengusir, aku meminta mereka mengambil waktu istirahat selama … “ Evan menjeda kata. “Tiga hari mungkin.”
“Apa? lalu siapa yang akan membersihkan rumah?” Xena seketika kaget, dia membayangkan bagaimana rumah akan berantakan beberapa hari ini.
__ADS_1
“Dasar ibu rumah tangga!” cibir Evan. “Sudah tidak perlu dipikirkan, kita bisa memanggil jasa bersih-bersih rumah harian.” Evan semakin menarik tangan Xena hingga keduanya sampai di depan pintu kamar.
“Ev … “ Xena semakin malu, mungkinkah dia harus ikut pergi berlayar suaminya malam ini juga.
“Aku punya hadiah spesial untukmu.” Evan membuka pintu dan Xena semakin kaget melihat sesuatu yang ditutupi sebuah kain putih. “Aku tidak tahu kamu akan menyukainya atau tidak, tapi yang jelas aku berusaha mendapatkan ini.”
Mulut Xena menganga saat kain itu ditarik Evan dan lolos ke bawah. Sebuah lukisan dari salah satu pelukis terkenal terpampang di depan matanya. Wanita itu buru-buru mendekat dengan kedua tangan yang dia pakai untuk menutupi mulut.
“Ev dari mana kamu mendapatkannya?” Xena terlihat begitu senang hingga tanpa sadar menoleh dan langsung memeluk Evan sambil melompat-lompat seperti anak kecil. “Aku tidak menyangka kamu bisa mendapatkan lukisan ini.”
Evan tertawa, tak melewatkan kesempatan dia usap punggung Xena lembut. Beruntung Madame Zi menjelaskan sesuatu padanya tadi. Pelukis yang lukisannya dia beli, jarang sekali memperjualbelikan lukisannya, dia lebih suka menjual karyanya dalam bentuk digital.
“Kenapa? apa kamu malu?” tanya Evan, dia sentuh dagu Xena dengan jari telunjuk agar istrinya itu mau mendongak menatapnya.
Sunyi, Xena tak menjawab pertanyaan Evan. Hingga pria itu memberanikan diri mendekatkan wajah. Melihat tidak ada penolakan, Evan pun tersenyum. Direngkuhnya pinggang Xena dan dia kecup dalam-dalam bibir gadis itu. Sepi, hanya sesekali suara decapan dari bibir mereka yang beradu. Xena pasrah, dia bahkan tidak bisa menolak saat Evan menurunkan tangan dan menyentuh bagian belakang tubuhnya yang indah.
**
Memejamkan mata dengan kening yang saling menempel, Xena bisa merasakan betapa dekatnya dia dan Evan sekarang. Hingga, sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Evan.
“Xen, bolehkah aku menyentuhmu?”
__ADS_1
“Kamu sudah menyentuhku,” lirih Xena.
“Kamu jelas tahu, maksudku lebih dari itu.” Evan menjauhkan badan, dirangkumnya pipi Xena lalu dipindainya wajah gadis itu dalam-dalam. “Aku ingin kita menyatu.”
Evan merasa cukup lama Xena menjawab, padahal gadis itu memberi jawaban tidak ada dua menit setelah pertanyaan tadi dilontarkan. Xena mengangguk, memberikan persetujuan bahwa Evan boleh melepaskan jangkar agar titanicnya bisa berlayar.
Senyum penuh arti terbit di bibir Evan, dia kembali mencium bibir Xena, tapi kali ini tangannya mulai nakal dan merayap ke bagian punggung gadis itu, menurunkan resleting dan mulai melucuti jas dan kemejanya sendiri.
Xena yang memang masih memendam perasaan ke Evan selama ini juga tidak bisa menutupi apa yang dia rasakan, sentuhan Evan membuatnya terbang melayang, dia tanpa ragu membalas ciuman Evan. Dia bahkan mencengkeram belakang kepala pria itu erat seolah tidak ingin Evan menghentikan apa yang dilakukan.
Dan malam itu Titanic berhasil berlayar. Merengkuh indahnya samudra cinta.
_
_
_
like❤
komen
__ADS_1