
Duduk dan menunduk bak tersangka kasus penggelapan dana bantuan sosial, Xena benar-benar tidak bisa lari lagi dan berbohong. Di depan Hana dan Prawira yang sebenarnya hanya mampir ke rumah Evan setelah bersepeda, Xena mengakui bahwa dia sebenarnya adalah istri Evan.
Menghela napas dan geleng-geleng kepala, Hana tak menyangka bahwa Xena akan berbohong seperti ini.
“Benar kata ibuku dulu, sekali kita berani berbohong, maka kebohongan itu pasti akan membuat kita berbohong lagi.”
Xena tak bisa menjawab ucapan Hana, meskipun mereka teman tapi jelas dia sudah menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri, sehingga ucapan Hana barusan seperti memarahinya dengan cara halus.
“Sebenarnya kami memiliki masalah, dan itu jelas tidak bisa kami sampaikan secara gamblang ke orang lain, tapi satu hal yang pasti. Kami memang sempat berencana untuk berpisah,” ucap Evan mencoba membuat suasana sedikit mencair. Ia tidak ingin Xena terlalu disalahkan. Meski pada awalnya dia geram karena istrinya itu berbohong soal statusnya, tapi melihat wajah Xena yang nampak begitu menyesal, dia pun tidak bisa tinggal diam.
“Lalu, dana CSR itu-“ Prawira menjeda kalimat, tanpa menyelesaikan apa yang ingin dia ucapkan, Evan sudah tahu ke mana arah pembicaraan pria ini.
“Tidak akan ada masalah, tenang saja!” Evan seperti membuat barikade untuk melindungi Xena. “Lagi pula kata tim yang menyeleksi, di antara semua proposal konsep sekolah gratis Xena nilainya di atas rata-rata.”
Mendengar pembelaan dari Evan, Xena sampai menoleh. Ia tak menyangka bahwa pria yang duduk di sebelahnya ini mau membantunya menjelaskan ke Prawira dan Hana. Pikiran Xena benar-benar buntu, dia terlalu takut dan merasa bersalah sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.
_
_
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka mengantar Prawira dan Hana sampai ke depan rumah untuk pulang. Prawira ternyata sempat menelepon hotel tempat mereka menginap kemarin, menanyakan keberadaan Evan. Namun, resepsionis berkata Evan sudah keluar. Mereka juga tidak merencanakan mampir ke rumahnya tadi, Hana dan Prawira benar-benar kebetulan lewat.
“Kamu baik-baik saja ‘kan?” tanya Evan melihat muka kuyu Xena.
“Aku baik-baik saja.” Dengan lemah lesu, Xena mengayunkan kaki menuju lantai atas. Ia masuk ke dalam kamar lantas merebahkan tubuh tengkurap di atas ranjang.
Evan yang menyusulnya menjadi kasihan, dia pun mendekat dan duduk di sisi ranjang. Melihat Xena yang tak bergerak, dia ikut merebahkan badan, tubuhnya sejajar dengan Xena bedanya Evan telentang menghadap langit-langit kamar.
“Apa kamu benar baik-baik saja?” Evan bertanya untuk yang kedua kali, dia toleh Xena yang tengkurap dengan kepala yang menoleh ke kanan.
Perlahan Xena memutar leher hingga mereka pun bersitatap. Mata gadis itu mengerjab karena kaget. Wajahnya dan Evan begitu sangat dekat. Namun, bukannya langsung berpaling, Xena malah menghela napas, rasanya benar-benar lelah terus bersandiwara dan menipu perasaan seperti ini.
“Ev,” lirihnya dengan suara yang hampir tidak terdengar sama sekali.
“Apa kamu menyukaiku?”
Evan tersentak, tak menyangka Xena akan bertanya soal perasaan, apa mungkin setelah ketahuan Hana dan Prawira terbuka hatinya.
“Sangat, aku sangat menyukaimu. Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu? kamu sempurna!"
__ADS_1
Xena tersenyum, entah senyuman bahagia atau cibiran yang jelas dia kembali bertanya ke Evan setelahnya. “Kalau cinta, apa kamu mencintaiku?"
"Aku akan memikirkan lagi tentang pernikahan ini, dengan syarat kamu harus bisa menunjukkan ketulusanmu padaku," imbuhnya.
“Aku mencintaimu, aku akan menunjukkan itu padamu,” jawab Evan tanpa berpikir.
“Benarkah?" tanya Xena lagi.
"Hem!" Evan menganggukkan kepala mantap.
"Kalau begitu, bisakah kamu membelikanku ketoprak yang ada di seberang perumahan? Aku lapar.”
_
_
_
Ngekkk ngokkkk 🤣🤣🤣
__ADS_1
Like dan komen ya geng, di vote dikasih hadiah juga mau biar aku bisa jajan kinderjo di bodoamart
mamacih