Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 84


__ADS_3

Di ruang kerja yang pencahayaannya agak remang Xena terus menghela napas. Pandangannya menerawang jauh. Di sana lampu semua padam kecuali lampu kecil yang ada di meja.


Xena mendesah, pertengkaran tadi pagi dengan Evan membekas begitu dalam. Sebagai istri dia berusaha memahami niat baik Evan, tapi tetap tidak bisa. Belum lagi sebagai seniman harga dirinya amat terluka. Hasil karyanya sama sekali tidak dihargai dan itu oleh lelaki yang paling dicintai. Serasa ditikam lalu ditaburi garam.


Sekarang sudah lebih dari jam delapan malam dan suasana kantor sedang sepi. Baik Ridwan maupun Tika sudah lama pulang. Tak ada siapa-siapa di sana selain Xena. Namun, meski begitu wanita yang mengenakan blazer panjang itu tak berniat beranjak. Dia enggan pulang, malas menatap Evan yang nantinya malah akan berakhir pertengkaran lagi.


Di ruang kantor itu Xena merenung menatap layar komputer. Lekat dia melihat design bangunan yayasan dimana akan dibangun sekolah gratis dan galeri, juga sanggar seni. Bangunan yang sudah lama dia inginkan dan mencoba mewujudkannya sekuat tenaga.


Hanya saja setelah kejadian demi kejadian yang menimpa Xena pun berpikir, haruskah menerima saja bantuan dari Evan? Akan tetapi, sejujurnya dia juga agak takut. Takut nantinya bantuan itu malah akan menjadi gono gini jika hubungan mereka tidak baik lagi. Masa depan tidak bisa diprediksi, bukan?


"Apa aku harus menceritakan ini ke Papa?" gumam Xena. Dia raih ponsel dan nomor Hari sudah tertera di depan mata.


Namun, bukannya memanggil Xena justru diam saja. Niat untuk meminjam uang pada papanya urung dia lakukan. Xena sangat yakin papanya pasti tidak akan membantu, malah akan nyinyir.


Xena mendesah makin panjang. Bahkan intensitasnya sudah semakin sering. Dia merasa ada di jalan buntu. Serasa berhadapan dengan tembok besar. Mau mendobrak tidak daya. Mau memanjat tidak ada apa pun untuk berpegangan. Xena ingin meminta tolong, takutnya malah orang jahat yang datang. Semuanya terasa buntu.


"Apa aku pakai saja uang yang ada?" lanjut Xena yang masih saja terus bergumam.


Namun, ketika mengingat nominal yang tersisa di ATM yang tak seberapa lagi Xena pun jadi semakin murung. Setelah dana CSR itu dikembalikan dia murni membayar sewa kantor dan menggaji dua karyawannya sendiri. Tabungannya menipis.


Xena merebahkan kepala yang berat ke sandaran kursi, lalu memutar posisi. Sekarang dia menghadap dinding dan lukisan anak kecil yang terpajang menjadi titik fokusnya. Setelah sekian lama menatap, Xena pun memejamkan mata.


"Apa aku menyerah saja? Apa aku kubur saja keinginanku?" gumamnya pelan. Terdengar lebih putus asa.


Kini mata Xena kembali terbuka. Rasa kecewa membuatnya seperti menelan duri. Dia sebenarnya sangat ingin terkenal seperti Leonardo da Vinci yang diagung-agungkan oleh banyak orang, bahkan karyanya—Mona Lisa—menjadi mahakarya luar biasa dan dipajang di Museum Louvre, Paris, Prancis.


"Ya, sepertinya aku memang harus seperti itu. Pelukis biasa seperti aku tidak akan mungkin menjadi terkenal. Karyaku tidak cukup bagus untuk dicari. Aku tak layak."


Setelah bergumam begitu mata Xena pun mulai berkaca-kaca, pandangannya mulai terpecah dan tak memerlukan waktu lama, kristal bening pun keluar dari kedua belah sudut matanya.

__ADS_1


Bagi Xena, menyerah akan mimpi itu sama saja menusuk diri dengan belati, tapi kenyataan dan kesulitan yang dihadapi benar-benar membuat mentalnya down. Terlebih saat begini tak ada satu orang pun yang mensupport. Tak ada tempat untuk bersandar, Xena sendiri. Saat begini dia berniat berhenti menggores kanvas di kertas.


"Ya, sepertinya aku memang tidak layak. Aku tidak pantas. Mimpi itu terlalu tinggi untuk aku gapai," lanjut Xena.


Tanpa Xena tahu, ternyata ada Evan yang berdiri di dekat pintu dan mengamatinya. Evan berbaur dalam kegelapan. Namun meski begitu dia bisa merasakan kalau istrinya itu tengah sedih, isak tangis Xena terdengar lirih dan pilu di telinganya. Belum lagi kala mendengar ******* putus asa Xena, Evan jadi tak berdaya. Dia merasa sedih dan perasaan bersalahnya kian besar. Dia sadar, Xena seperti ini pasti karena ucapannya tadi pagi.


"Berhentilah mendesah, Xen. Aku takut nanti gedung ini jadi ambruk dan kita terkubur di dalamnya," oceh Evan.


Xena yang kaget langsung berdiri. Dari kegelapan ruang dia perlahan melihat ada yang mendekat. Siluet itu semakin lama semakin jelas hingga dia yakin kalau yang datang adalah Evan.


Namun, alih-alih senang Xena justru menangis makin jadi. Dia dekati Evan lalu tanpa aba-aba memukul dada suaminya itu. Dia terus menghunjamkan pukulan ke Evan sebagai cara untuk meluapkan frustrasi. Dia kesal pada Evan, tapi lebih kesal pada diri sendiri yang tidak bisa mewujudkan mimpi.


"Pukul aku sepuasmu," ucap Evan.


"Kamu jahat, Ev. Aku benci kamu," balas Xena. Suaranya bergetar karena menyatu dengan isak tangis. Dia terus memukul dan Evan sama sekali tak keberatan. Lelaki itu seakan tahu bahwa tak ada yang Xena butuhkan selain meluapkan kekesalan.


"Pukul saja. Tidak apa-apa. Aku tidak sakit," balas Evan.


Perlahan Evan angkat kedua belah tangannya, lalu mengusap pipi Xena yang basah. "Maafkan aku, Xen. Aku terlalu bodoh karena tidak menyadari apa yang kamu mau. Aku terlalu congkak karena memiliki uang. Maaf. Aku salah."


Air mata Xena meluruh makin banyak. Evan jadi tak tega dan membawa Xena dalam dekapannya. Dia usap kepala Xena dengan pelan, penuh kasih sayang.


"Maafkan aku. Aku salah," ucap Evan lagi.


Xena pun membalas pelukan Evan. Dia peluk pinggang Evan dan membiarkan wajah terbenam di dada pria itu. Saat ini dia memang butuh seseorang untuk bersandar. Seseorang seperti Evan. Seseorang yang mengerti dia luar dalam.


"Kamu jahat," umpat Xena lagi, tapi sekarang tak memukul seperti tadi.


"Ya aku tahu, maaf karena menjadi jahat. Aku akan bertobat. Terimalah taubatku, Xen."

__ADS_1


Mendengar ocehan itu Xena tak bisa menahan senyum. Dia pun kembali membenamkan wajahnya dan mendengar detak jantung Evan.


"Aku ingin melakukan sesuatu sebagai permintaan maaf," ucap Evan lagi.


"Sesuatu?" ulang Xena. Dia lepas pelukan dan mata mereka berserobok lagi.


"Izinkan aku membeli satu lukisan kamu yang paling mahal."


Mata Xena menyipit.


"Tolong jangan salah paham. Aku membelinya sebagai bentuk kontribusi. Aku rencananya akan memajang ya di ruang kantor. Dengan begitu aku akan selalu mengingatmu. Dengan begitu aku akan semangat memulai hariku saat bekerja. Dengan begitu aku ...."


Lisan itu terjeda karena Xena menutup mulut Evan dengan tangan. Pun Evan, dia diam menatap Xena yang menghapus air mata. Mereka bertatapan lumayan lama.


"Terima kasih, Ev. Aku mencintaimu."


Senyum Evan seketika terukir. Dia tarik lagi kepala Xena dan menenggelamkan ke dada. Persetan dengan kemeja yang basah karena Xena. Saat ini, saat berdua bersama Xena dia sudah tak memerlukan apa pun. Senyum Xena adalah segalanya.


"Aku juga mencintaimu, Xena. Sangat."


_


_


_


next


jangan lupa tap love

__ADS_1


komen


__ADS_2