Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 80


__ADS_3

"Apa dia sudah tidur?" batin Xena. Pelan dia dorong pintu dan mendapati kamar agak gelap. Pencahayaan hanya berasal dari lampu tidur yang ada di nakas. Dari ambang pintu itu dia bisa melihat kalau Evan tengah berbaring memunggunginya.


"Ev, apa kamu sudah tidur?" tanya Xena sambil berjalan menghampiri. Namun, dia tak mendapati pergerakan yang berarti dari Evan. Embusan napasnya pun keluar agak panjang. Rasa sesal membuatnya jadi tidak tenang.


"Sudah terlelap rupanya," gumam Xena lagi.


Agar kembali tentram Xena pun memutuskan membersihkan diri di kamar mandi. Seharian bekerja membuat otot menegang dan tubuh lengket karena berkeringat. Xena sadar, yang dibutuhkannya malam ini hanyalah air hangat.


"Masih ingat pulang?" Suara berat Evan membuat Xena yang baru saja selesai berganti baju sampai berjengket. Mata Xena juga melotot saking tak percaya. Dalam keterkejutan itu dia mulai bertanya, benarkah yang dilihatnya itu adalah Evan? Sebab, tadi dia sudah memastikan kalau Evan tertidur pulas.


Namun, keterkejutan itu Xena usir jauh. Dia pikir ini kesempatan baik untuk mengajak Evan makan malam dan meminta maaf pasal pertengkaran mereka tadi pagi.


"Sudah bangun, Ev? Aku kira tadi kamu tidur," ucap Xena dengan nada suara lembut. Dia lap rambutnya yang masih setengah basah dengan handuk kecil, lalu mendekati Evan dan duduk di sisinya. Xena juga menggenggam erat tangan kekar suaminya itu.


"Apa kamu sudah makan?" lanjut Xena lagi dengan nada yang masih sama, penuh perhatian.


"Makan?" Evan langsung menyipit sinis. Dia sungguh tak habis pikir, seharian memendam rasa kesal dan yang pertama kali ditanyakan Xena adalah masalah perut.


"Aku tidak lapar," ketus Evan. Dia tarik tangannya lalu beringsut agak jauh dari sang istri.

__ADS_1


"Ev ...." Xena mendesah berat. Sekarang di matanya Evan tak ubah bocah kecil yang tengah merajuk.


"Lagi pula untuk apa peduli padaku? Yang kamu pedulikan itu hanya urusanmu saja. Istri macam apa yang sama sekali tidak mengabari suaminya? Apa aku patung di sini?" sungut Evan yang semakin menjadi.


Lagi, yang dilakuan Xena adalah menghirup napas panjang, lantas membuangnya perlahan. Disentuhnya pundak Evan lalu mendekatkan tubuh lagi.


"Maafkan aku, Ev. Di kantor sibuk. Aku dan yang lainnya sedang berusaha menjual lukisan. Aku sedang berusaha mengumpulkan uang, Ev. Mengertilah."


"Mengerti?" ulang Evan. Semakin tersulut emosinya. Dia pun berdiri dan melihat Xena yang mengerjap.


"Xen, coba katakan, apa kurangnya aku? Apa statusku di sini?" cecar Evan. Kilatan kebencian terpancar dari matanya.


"Ev?"


Sementara itu, Xena yang paham kalau situasi sedang tidak memungkinkan untuk berdebat pun memilih mengabaikan. Kekesalan suaminya juga sudah meninggi. Jadi dia akan mencoba mengalah pada Evan malam ini.


"Bukan seperti itu, Ev. Aku begini karena aku ingin uang hasil kerja sendiri. Uang hasil jerih payah sendiri itu rasanya beda," jelas Xena lagi.


"Beda apanya?" sambar Evan. "Apa kamu mau bilang kalau uang hasil meminta rasanya pahit, sedangkan hasil jerih payah sendiri rasanya manis, begitu?" cecar Evan, semakin dongkol hatinya. Dia pun memalingkan muka dan memunggungi Xena. Tangannya juga sudah bersedekap.

__ADS_1


"Kamu memperlakukan aku seolah aku tidak berguna di sini," lanjut Evan lagi. Sekarang suaranya tak setinggi tadi. Dia sadar, meninggikan suara bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Hanya saja dia masih kesal dan tak tahu cara meredamnya.


"Maafkan aku, Ev. Aku bukan tidak menghargai kamu. Aku hanya ingin mencoba segalanya sendiri, berusaha sendiri maka hasilnya akan berbeda. Ini bukan tentang berapa nominalnya dan siapa yang memberi. Ini tentang usahaku untuk mendapatkannya. Jadi aku mohon mengertilah, jangan marah-marah seperti ini," ucap Xena yang masih berusaha agar Evan mengerti.


Namun semua jauh dari ekspektasi, Evan malah terkekeh hambar.


"Bagaimana bisa aku tidak marah? kalai kamu ada di posisiku, apa kamu bisa tenang? Aku merasa tidak dihargai di sini."


"Ayolah, Ev. Jangan seperti ini, jangan terlalu menuruti emosi begini." Xena tarik sisi kaos Evan, menariknya sedikit keras agar sang suami mau kembali duduk di sisi ranjang. Xena juga sengaja mengabaikan wajah Evan yang cemberut kesal. Lantas, menggenggam tangan suaminya itu begitu erat.


"Ev, daripada kamu marah-marah begini lebih baik kamu beli salah satu karya aku, bagaimana?" usul Xena.


_


_


_


next

__ADS_1


like


komen


__ADS_2