
BRAK
Pantat Xena mendarat dengan mulus, sementara Evan menyanggah kedua tangannya di sandaran sofa tepat di samping kepala gadis itu yang kini menatapnya tanpa berkedip.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Evan sembari memindai wajah Xena yang cemberut.
“Aku marah, apa kamu tidak melihat mataku melotot?” jawab Xena yang seketika berkedip karena Evan meniup matanya.
“Hentikan! Seharusnya aku yang marah karena kamu pergi minum kopi dengan pria lain. Bukankah aku sudah memberitahumu dengan jelas harus menunggu di sini?”
“Apa kamu ingin aku mati kehausan, kamu bahkan tidak memberiku minuman,” elak Xena.
“Apa kamu tidak melihat kulkas di sana? apa kamu tidak bisa mengambilnya sendiri?”
Wajah Evan yang semakin mendekat membuat Xena mau tidak mau harus segera memalingkan muka. Dilihat dari segi manapun Evan memang tampan, dia tidak bisa membiarkan pria itu menyadari kalau dia sedang salah tingkah sekarang.
“Aku tidak melihat, lagi pula aku tidak akan mengambil sesuatu yang sama sekali tidak ditawarkan padaku.” Xena masih bertahan dengan argumennya yang mengada-ada.
“Alasan! Cepat bangun!” titah Evan.
Xena pun menoleh kembali, “Bagaimana aku bisa bangun kalau kamu mengurungku seperti ini? sepertinya sikumu sudah tidak sakit, aku akan pulang naik taksi, kamu pulang menyetir sendiri saja nanti.”
__ADS_1
Evan sadar sudah melakukan kesalahan, dia berpikir seharusnya lebih lama lagi berpura-pura sakit agar mendapatkan simpati dari Xena. Menegakkan badan dan mengibaskan tangan, pria itu berjalan dengan terpincang menuju meja kerjanya.
“Apa lagi? bukannya tadi kamu sudah bisa berjalan dengan normal,” gerutu Xena mendapati tingkah absurd Evan. Ia merapikan bagian belakang bajunya sebelum berdiri dan mendekat ke meja pria itu.
Dari kejauhan Xena bisa melihat Evan memegang ponsel lalu mengirimkan sebuah pesan, tak berselang lama sekretaris pria itu masuk membawa sebuah berkas dan diletakkan di atas meja.
Dengan mata kepalanya sendiri, Xena melihat Evan membubuhkan tanda tangan di sana, setelah itu Ricky sang sekretaris tersenyum penuh arti dan mengucapkan selamat kepadanya.
“Apa dana itu akan segera cair?” tanya Xena kegirangan.
Ricky menoleh pada Evan, hingga atasannya itu mengangguk seolah menyetujui apa yang dipikirkan olehnya tanpa berbicara.
“Hebat sekali, kalian bahkan berkomunikasi menggunakan ilmu kebatinan,” sindir Xena.
“Dua hari lagi Anda harus mengikuti pelatihan keuangan, jika Anda memiliki karyawan Anda bisa mengajaknya ikut serta, pelatihannya akan dilakukan di kota ini, meski kami menyediakan akomodasi untuk peserta dari luar kota, tapi mengingat tempat tinggal Anda tidak jauh dari hotel tempat pelatihan, terserah Anda mau menginap atau tidak,” ucap Ricky penjang lebar.
“Tentu saja aku akan memakainya,” ujar Xena tegas. “Lumayan juga bisa menjauh dari Evan sehari semalam,” gumamnya dalam hati.
“Kalau begitu apa kamarnya perlu saya upgrade ke president suit Pak?”
Xena kebingungan karena Ricky menanyakan hal itu ke Evan. “Tunggu! kenapa harus di upgrade, aku tidak apa-apa memakai kamar dengan tipe sesuai peserta yang lain.”
__ADS_1
“Maaf tapi Pak Evan juga ingin mengikuti langsung pelatihan itu untuk memantau, bukankah Anda berdua-“ Ricky menjeda kalimatnya. “Anda paham maksud saya ‘kan?” tanyanya ke Xena.
“Ah … tidak, tidak mau. Kalau begitu lebih baik aku pulang saja dari pada harus menginap satu kamar di hotel dengan dia.” Xena menggelengkan kepalanya, memalingkan pandangan lantas bersidekap.
“Kenapa? apa kamu takut suasana romantis kamar hotel membuatmu tidak bisa-“
Evan mengatupkan bibir karena Xena menatapnya tajam. Gigi gadis itu bahkan bergemerutuk kesal. Mendapati suasana sedikit mencekam, Ricky pelan-pelan berjalan mundur untuk keluar.
“Katakan apa rencana busuk yang sedang kamu rajut di kepalamu itu Evan Dimitri?”
_
_
_
_
_
Geng apa kabar?
__ADS_1
Sehat kan?
Terima kasih udah mampir love you