
Pulang ke rumah Evan di sore hari, Xena disambut pembantunya yang tiba-tiba memberikan sebuah kotak berukuran lumayan besar. Yayuk sang pembantu berkata bahwa dia harus memberikannya langsung ke Xena saat dia menginjakkan kaki di rumah. Ini perintah Evan.
“Apa dia sudah pulang?” tanya Xena heran.
“Tidak, sekretaris tuan yang mengantar, dia berpesan agar Nona membukanya.”
Setelah menyerahkan titipan itu, Yayuk pun undur diri untuk kembali melanjutkan tugasnya di dapur, dia meninggalkan Xena di ruang tengah sendirian. Terlalu penasaran dengan isi kotak itu, Xena pun memilih duduk dan membukanya.
“Apa ini?”
Xena bertanya-tanya mendapati sebuah gaun, tas tangan dan sepatu berhak tinggi. Diambilnya sebuah kartu ucapan yang menyertai ketiga barang itu. Keningnya mengernyit, tertulis di sana bahwa Evan akan menunggunya di sebuah restoran dan memohon dengan sangat agar dia datang.
Mengeluarkan untuk melihat lebih jauh gaun yang diberikan Evan, Xena dibuat geleng-geleng kepala dengan brand yang tertera di bagian belakang kerah gaunnya. “Untuk apa dia memberiku gaun mahal, apa makan malam ini spesial?” gumamnya.
Sementara itu, Evan sengaja tidak pulang ke rumah. Pria itu memilih pergi ke rumah sang papa dan bersiap-siap di sana sebelum dinner romantisnya. Sebuah setelan jas baru juga dia beli dan langsung dia laundry agar senada dengan gaun yang akan dikenakan Xena nanti.
Mendapati putranya hendak keluar rumah saat dia baru saja datang, Dimitri pun merasa heran, terlebih dia kemarin tidak disambut dengan ramah saat berkunjung ke rumah Evan. Pria paruh baya yang pulang bersama sang keponakan itu menghadang langkah sang putra semata wayang yang sudah rapi dan terlihat sangat tampan.
“Ada acara apa kamu sampai berpenampilan seperti ini?” tanya Dimitri.
Dengan gaya sombongnya Evan tak menatap sang papa, bukan tanpa alasan. Ia sangat membenci pria yang berdiri di sebelah papanya sekarang. Evan memutar jam tangan mahal di pergelangan tangan dengan gaya arogan.
“Acara spesial dengan istriku tercinta, apa lagi? semoga setelah ini tidak akan ada yang mengganggu rumah tangga kami lagi. Semacam pengganggu yang dengan sengaja memprovokasi orang untuk menghancurkan hubungan kami.” sudut bibir Evan tertarik, ekspresinya mencibir. Sindirannya itu sama sekali tidak dimengerti oleh Dimitri tapi jelas membuat Devgan tersenyum kecut.
Tak ingin berlama-lama melihat wajah sepupu yang sangat dia benci, Evan pun pamit pergi. Langkahnya yang lebar dan bibir yang tak henti-hentinya bersenandung riang membuat Dimitri ikut senang.
__ADS_1
_
_
Mengenakan gaun yang diberikan Evan, Xena melangkah ragu-ragu masuk ke dalam restoran yang suaminya sebutkan. Ia sempat bingung karena restoran nampak sangat sepi bahkan terkesan seperti sebuah restoran yang sedang tutup.
“Maaf, apa-“ Xena menjeda kata karena pelayan yang menyambutnya di depan pintu tersenyum dan semringah. Xena malah merasa kasihan, mungkinkah pelayan itu bahagia karena baru saja mendapat pelanggan pertamanya.
“Anda pasti Nona Xena. Mari saya antar!”
Xena jelas kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan si pelayan, meski begitu dia tetap mengekor di belakang. Sesekali dia menoleh ke kiri dan kanan seolah memastikan ada atau tidak pengunjung lain selain dirinya di sana.
Setelah tiba di bagian tengah resto pelayan pun mempersilahkan, dan Xena dibuat semakin terkejut karena Evan sudah berada di sana. Pria itu tersenyum hangat dan langsung mendekat. Mereka pun berhadapan dan Xena masih bingung untuk apa Evan mengundangnya ke sana. Ya, tentu saja dia tahu untuk makan malam bersama, tapi dalam rangka apa Xena masih belum bisa menerka. Terlebih nampaknya semua itu sudah disiapkan Evan dengan begitu matang. Mini orchestra, bunga-bunga, lilin yang menambah romantis suasana, sungguh luar biasa.
“Duduklah!” pinta Evan sambil menggeser kursi yang memang diperuntukkan untuk Xena. Istrinya itu hanya menurut, dan entah bagaimana Evan memberikan kode. Pemain orchestra mulai memainkan sebuah lagu.
“Dalam rangka apa kamu membuat makan malam seromantis ini,” tanya Xena sambil menikmati hidangan pembuka.
“Dalam rangka kamu yang tadi pagi memperlakukanku dengan sangat manis,” jawab Evan yang sama sekali tidak kehilangan senyumannya sejak tadi.
Xena pun menggelengkan kepala tak percaya, dia yang memang ingin kembali membuka hati dan menerima Evan pun merasa tidak ada masalah dengan hal itu. Mereka berbincang sambil menikmati hidangan utama. Hingga hidangan penutup keluar, sebuah kue cokelat dengan bentuk yang sangat cantik. Xena bahkan sampai tak tega untuk memakannya.
“Makanlah! Kamu harus memakan itu,” bujuk Evan. “Semua ini sudah dipersiapkan oleh Makcomblang bernama Madame Zi itu dan aku sudah membayarnya mahal,” gumamnya dalam hati.
Xena pun pada akhirnya membelah kue itu menggunakan garpu, hingga merasa aneh karena ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Apa ini?”
__ADS_1
Evan mengedikkan bahu saat istrinya itu bertanya, sampai Xena dengan sendirinya menyingkirkan bagian-bagian kue dan matanya membeliak mendapati sebuah kotak di dalamnya.
“Ev … ini-“ Xena terbeku, pandangannya beralih dari benda yang dia temukan itu ke Evan.
Ia pun berdiri dan mendekat, mengambil kotak itu dan membukanya, Evan bahkan berlutut sambil menunjukkannya kepada Xena, membuat putri Hari itu semakin terkejut karena sebuah cincin yang begitu indah berada di dalamnya.
“Xen, aku tidak akan memintamu menikah denganku karena jelas kita masih sepasang suami istri,” ucap Evan dengan begitu tulus. “Tapi dengan ini, aku memintamu agar bersedia memulai dari awal lagi perjalanan hidup denganku. Aku mohon padamu agar menutup cerita masa lalu kita dan membuka lembaran baru bersama. Apa kamu mau?”
Xena terbeku, dia benar-benar tidak menyangka Evan akan melakukan hal seperti ini. Tanpa bisa dia kendalikan, air matanya pun tumpah. Xena bahkan mengibaskan tangan kanannya ke depan muka karena pipinya terasa panas, dia benar-benar tersanjung dengan apa yang diucapkan Evan barusan.
“Aku akan memberimu kesempatan,” jawab Xena sambil menganggukkan kepala. Evan yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya tanpa meminta izin memeluk istrinya itu erat. Ia berjanji di dalam hati tidak akan pernah lagi menyakiti sang istri.
Setelah beberapa menit berpelukan, Evan pun menyematkan cincin itu di jari manis tangan kiri Xena sebagai pengganti cincin pernikahan mereka yang selama ini tidak pernah dikenakan oleh gadis itu. Namun, rangkaian acara malam itu jelas belum selesai karena masih ada rencana Madame Zi lainnya yang membuat Evan tak sabar untuk menunggu.
“Minta semua pembantu rumah Anda pergi setelah membantu saya malam nanti, bukankah hal yang paling menggesankan setelah makan malam yang romantis adalah ranjang yang erotis? Saya kan membuat Anda mendapatkan itu, jadi izinkan saya membuat rumah Anda, terutama kamar Anda sedikit berbeda. Saya akan pastikan lukisan mahal yang Anda beli sebagai hadiah untuk istri Anda, menjadi saksi bagaimana kencan ini ditutup dengan sangat epic.”
Nuna tersenyum setelah mengirimkan pesan itu ke Evan. Seperti Evan yang kini juga tengah tersenyum memandangi wajah Xena dan mengingat pesan dari si Madame Zi yang dia baca sore tadi.
_
_
_
Pencet jempolnya
__ADS_1
komen