Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 51


__ADS_3

Devgan tesenyum, dia bahkan berpura-pura tidak mengatakan apa-apa meski Xena jelas mendengar ucapannya tadi. Mereka keluar kantor menuju coffe shop untuk berbincang, meski tahu Devgan memiliki perasaan padanya, Xena memilih untuk mengingkari hal itu. Ia lebih nyaman berteman. Terkadang hal ini juga mengusiknya, Xena berpikir apa mungkin sebenarnya Evan juga lebih nyaman jika mereka hanya sebatas menjadi teman?


“Hot latte dan ice chocoberry.”


Xena kaget saat Devgan memutuskan minuman apa yang akan dia pesan. Pria itu bahkan sudah tahu minuman apa yang menjadi favoritnya meski sudah setahun mereka tidak ngopi bersama.


“Hanya Xena yang ke coffe shop tapi tidak memesan kopi,” canda Devgan.


Pria berwajah teduh itu melipat kedua tangan dan meletakannya ke atas meja. Wajahnya terihat begitu sumringah, matanya tertuju pada mahkluk cantik di depannya.


“Ya karena setiap kali melukis dan mengantuk, aku selalu minum kopi.”


Kalimat sepanjang itu Xena dan Devgan ucapkan secara bersamaan. Xena hanya bisa melongo, dia bahkan menggunakan buku menu untuk memukul lengan kekar sepupu suaminya itu, kesal bercampur malu menyelimuti hatinya.


“Bagaimana kamu bisa mengcopy ucapanku seakurat itu?” Xena tertawa tak percaya. Dia menyingkirkan buku menu lalu menopang dagu.


“Anggap saja ikatan batin.”


Xena terkekeh geli, baginya Devgan adalah pria yang lucu. Setiap wanita yang bertemu dengan pria itu pasti akan dibuat kagum dan terpesona dengan keramahannya.


Selang beberapa menit pesanan mereka pun diantar oleh pelayan. Tanpa menunggu Devgan mempersilahkan, Xena langsung menyesap minuman miliknya.


“Hanya kamu yang sepagi ini minum es.” Devgan meletakkan cangkir dengan elegan, pembawaannya yang tenang terkadang membuat Xena sedikit banyak membandingkannya dengan Evan.


“Aku tadi hampir memesan yang lain tapi kamu memesankannya lebih dulu.”


“Benarkah? kalau begitu aku panggilkan pelayan lagi.” Devgan merasa bersalah, dia menolehkan badan mencoba memanggil pelayan, tapi urung karena Xena mencegah.

__ADS_1


“Ayo lah Dev! Aku hanya bercanda,” seloroh Xena. Tawa renyahnya menggema karena dia berhasil membuat pria di depannya merasa tak enak hati.


Mereka pun kembali berbincang, hingga Xena mengingat perkataan Evan soal Devgan yang dengan sengaja memberitahu Jihan, bahkan menyuruh wanita itu berpura-pura hamil untuk memisahkannya dan sang suami satu tahun lalu.


“Apa kamu benar melakukan itu?” tanya Xena dengan air muka serius. bahkan tidak ingin sedetik pun mengalihkan tatapannya ke Devgan.


Devgan terdiam, bahkan urung menyesap kopinya meski bibir cangkir sudah berada tepat di depan bibir.


“Apa Evan yang mengatakan hal itu?”


“Bukan Evan tapi Jihan.” Xena memutuskan untuk berbohong, dia ingin melihat bagaimana reaksi Devgan.


“Ya aku memang melakukannya.”


Jawaban Devgan membuat Xena terkesiap, dia tak percaya pria itu akan sejujur itu. Meski awalnya ingin mengulik kebenaran, tapi mengetahui Devgan ternyata juga bisa berbohong, Xena merasa sangat kecewa.


“Kenapa Dev? Kenapa melakukan hal seperti itu?”


_


_


_


_


“Dari mana?”

__ADS_1


“Astaga!”


Xena yang berjalan menunduk sejak masuk dan keluar dari lift dibuat terjingkat karena suara Evan. Bibirnya pun sudah maju tiga senti melihat suaminya itu berdiri di dekat pintu ruang kerjanya. Xena menoleh Ricky yang berdiri tak jauh dari Evan. Menyadari kehadirannya membuat istri sang atasan tidak nyaman, dia pun pamit untuk pergi sebentar.


“Aku tanya dari mana? Kenapa tidak dijawab.” Evan mengulang kembali pertanyaannya, sedangkan Xena terlihat malas-malasan berdiri di depannya dengan kepala yang kembali menunduk.


“Apa kamu tidak mau menjawab? Kalau begitu aku tidak akan memberitahumu hasil rapat tadi.”


Ancaman Evan sukses membuat Xena mengangkat kepala, matanya menyipit memberi tanda bahwa dia tidak suka dengan sikap Evan yang selalu saja mengancamnya dengan dana CSR.


“Aku baru saja minum kopi bersama Devgan, kenapa? Ha?” sewot Xena.


Evan menaikkan sedikit dagu sebelum menarik sudut bibirnya. Dia dorong kening Xena dengan jari telunjuk sampai tubuh gadis itu limbung ke belakang.


“Dengarkan aku Nona Xena Fathari! Kalian itu bukan muhrim.”


“Sejak kapan kamu begitu religius? Sepertinya kamu memang butuh ke rumah sakit untuk melakukan CT scan kepala, otakmu geser."


Tepat setelah mendengar Xena mengucapkan kalimat itu, Evan melingkarkan lengan ke leher sang istri. Tanpa banyak bicara, dia menyeret Xena masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Evan!"


_


_


_

__ADS_1


bagi like dan komen


lup you


__ADS_2