
Satu tahun kemudian.
Xena terlihat sibuk menginstruksikan ke beberapa pekerja yang sedang membawa lukisan berharga, hasil karyanya. Semuanya di pajang di dinding dengan background cat warna putih tulang.
Setelah selesai dia pun menikmati semua lukisan yang hampir memenuhi dinding gedung. Gedung tiga lantai yang dibangun Evan khusus untuknya. Gedung yang dia gunakan sebagai galeri juga sekolah seni.
Sembari bersedekap, Xena berdiri menatap sebuah lukisan, lukisan bayi mungil hasil karyanya sendiri. Entah kenapa rasa lega berbalut bahagia membuatnya tak henti tersenyum. Impiannya akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Serasa mimpi, dia tak menyangka akhirnya akan meneguk hasil kerja keras selama ini.
"Bu Xena!" Tika memanggil sembari mendekat. Dia lantas berdiri di sebelah Xena yang terus menatap lukisan bayi itu. Bayi terbalut selimut putih yang sedang tersenyum sembari memainkan tangan. Indah dan menggemaskan.
"Bagaimana? Apa sudah kamu lakukan?" tanya Xena. Dia menoleh Tika sebentar lalu kembali menatap depan.
"Sudah, Bu. Sudah aku lakukan. Anak-anak mengerti dan mereka melakukan apa yang Ibu perintahkan," sahut Tika, sopan seperti biasa.
"Baguslah, sebenarnya aku tidak enak hati karena tidak bisa mengisi kelas seperti biasanya. Tapi apalagi yang bisa aku lakukan? Waktunya mepet. Nanti, setelah ini selesai aku akan memberi mereka kejutan sebagai permintaan maaf."
"Maksud Ibu Xena?" Dahi Tika mengerut.
Namun, kebingungan Tika itu dibalas Xena dengan ulasan bibir saja.
"Aku akan mentraktir mereka semua makan di luar. Kamu dan dan Ridwan juga akan aku beri bonus tambahan. Gaji kalian akan aku naikkan lima puluh persen dari sebelumnya," balas Xena. Kedipan mata menjadi akhir dari ucapannya barusan.
Sementara Tika, dia tersenyum senang ketika mendengar kata kenaikan gaji. Perasaan senang tidak bisa dikendalikan sama sekali. Rasa syukurnya berkali lipat. Dia semakin salut pada Xena yang tak hanya gigih, tapi juga baik hati.
"Duh, tidak perlu seperti itu, Bu. Ini sudah kewajiban kami sebagai karyawan," balasnya malu-malu.
__ADS_1
"Tidak Tika, kalian bukan hanya karyawan, kalian teman seperjuangan yang juga berkontribusi besar dalam hal ini. Maka dari itu kalian berhak dan layak mendapat apresiasi dari aku," balas Xena.
Kini senyum Tika makin lebar. Dia pun menatap ke mana arah mata Xena tertuju dan tak berbicara lagi, sebab dia tahu perasaan apa yang Xena rasakan. Pasti lega. Akhirnya setelah berjuang lama mereka besok bisa melakukan pameran tunggal khusus karya Xena.
Tak berapa lama terdengar bunyi derap sepatu. Tika dan Xena tentulah mencari arah suara dan muncullah Evan. Pria itu datang membawa bayi mungil laki-laki yang bahkan belum genap berumur empat puluh hari. Bayi yang masih terbalut bedong itu nampak tidur nyenyak di gendongan Evan.
Seakan paham situasi, Tika pun mundur beberapa langkah lalu pamit pada Xena dan atasannya itu pun mempersilakan. Sekarang tinggal Xena dan Evan di sana. Juga, bayi mungil yang tampak sedikit menggeliat kecil tapi enggan membuka mata.
"Bagaimana, apa dia rewel?" tanya Xena sembari meraih bayi mungil itu. Bayi yang tak lain adalah anak mereka. Setelah berada dalam dekapannya, diciumnya pipi bayi itu berkali-kali. Hanya saja bayi mungil itu tetap terpejam dalam dekapan sang mommy.
"Tentu saja tidak. Anak kita seperti mengerti kesibukan mommy-nya," balas Evan, dan Xena hanya tersenyum mendengar ucapan sang suami.
"Terima kasih, Ev. Terima kasih karena mengerti aku. Aku tahu mengurus bayi tidak mudah."
"Siapa bilang? Meski begini aku juga punya ilmunya. Aku itu tidak pernah bolos saat ada kelas merawat bayi," balas Evan. Senyum jemawa kentara sekali, tapi memang benar, sebagai ayah dia menikmati menjaga bayi mungil itu saat Xena sibuk dengan galerinya.
"Tentu saja. Aku bahkan dengan baik mengganti popok anak kita. Tidakkah kamu bangga punya suami multitalenta seperti aku ini?"
Tawa Xena pun mengudara, dia sandarkan kepala ke pundak Evan lalu kembali menatap lukisan. Begitu pun Evan, dengan perhatian dan penuh kasih sayang dia rangkul pundak Xena.
"Ev, terima kasih karena sudah menjadi suami yang baik dan ayah yang baik," tutur Xena setelah sekian menit diam. Dia mendongak dan mendapati wajah tampan Evan. Rahang tegas pria itu selalu membuatnya jatuh cinta.
"Tidak perlu seperti itu. Demi kamu, demi anak kita aku bahkan bisa berubah jadi super hero," balas Evan yang kembali mengeratkan rangkulan.
Senyum Xena kembali hadir. Dia ingat betul, beberapa bulan lalu saat pembangunan gedung galeri dan sekolahnya hampir rampung dia tiba-tiba hamil. Saat itu benar-benar terasa sangat berat, dia bahkan tidak bisa beranjak dari ranjang karena morning sickness yang dialami. Belum lagi pendarahan di awal kehamilan yang sempat terjadi. Saat itu Evan dengan telaten dan perhatian merawat dan membantunya. Baik urusan galeri sampai urusan rumah tangga. Xena merasa bahagia memiliki suami seperti Evan.
__ADS_1
"Apa ada alasan kenapa kamu sangat menyukai lukisan ini?" tanya Evan.
"Ya aku suka saja. Ini rahasia, tapi aku akan mengatakannya padamu, sebenarnya setelah melukis ini aku akhirnya mengandung. Tidakkah kamu berpikir lukisan ini mungkin saja membawa keberuntungan? Dari lukisan ini juga aku akhirnya di kenal orang."
Ya, Xena mengakui itu. Mungkin hanya sugesti, mungkin juga hanya kebetulan. Tapi setelah dia melukis potret seorang bayi, dia langsung hamil. Dan juga, setiap orang yang membeli lukisan bayi yang dia buat tak lama pasti akan segera mengandung. Sejak itulah lukisan Xena dianggap membawa keberuntungan terutama soal keturunan.
Evan hanya melirik, lalu tersenyum kecil. "Itu hanya kebetulan, Xen. Tidak baik mengagungkan lukisan atau benda apa pun padahal semuanya itu terjadi atas kehendak Tuhan. Kita tidak akan mendapatkan anak jika Tuhan tidak mengizinkan."
Xena pun mengiakan dengan anggukan. "Ya aku tau, tapi entah kenapa aku sangat menyukai lukisan ini. Ini lukisan pertama yang tidak akan pernah aku jual."
Evan kembali tersenyum kecil, lantas memeluk makin erat. "Aku peringatkan jangan pernah kamu melukis pasangan berpisah."
"Kenapa?" Xena agak menjauh dan menatap lekat suaminya.
"Ya tidak suka saja. Aku takutnya nanti pemilik atau penikmat lukisan itu akan berpisah juga. Itu malapetaka."
Tawa Xena pun mengudara. Dia senggol lengan Evan dengan siku lalu mengedip genit. "Jika lukisan suami istri palsu apa boleh?"
Evan langsung melotot. Namun segera di balas Xena dengan tawa lepas. Keduanya kembali saling merangkul.
"Xena, terima kasih karena telah menjadi istriku. Terima kasih karena tetap ada di sisiku, dan terima kasih karena menjadi ibu dari bayi kita yang tampan ini. Aku berjanji akan selalu mengingat momen indah ini seumur hidup."
Xena kembali berdiri tegak, lantas menatap mata Evan yang teduh. Ada ketulusan di sana dan dia tidak akan pernah bosan melihatnya. 'Ev, aku juga bersyukur memiliki suami seperti kamu."
Evan mengecup kening Xena. "Dan juga, selamat atas pameran ini. Aku harap kamu akan selalu bersinar, baik di mata orang maupun di mataku. Aku mencintaimu."
__ADS_1
TAMAT