Surat Cinta Terakhir Untuk Mahira

Surat Cinta Terakhir Untuk Mahira
Benih Cinta Fatih Dan Mahira


__ADS_3

**************************************


Fatih menyelipkan kebelakang telinga rambut Mahira yang menganak di pipi nya.


Ia menatap lekat lekat wajah


istrinya itu dengan seksama.


Sayang kau bukan bayi...tapi tingkah mu sekarang seperti bayi.kau suka sekali tidur akhir akhir ini..


lihat! pipimu mulai berisi.kalau begini terus kau akan tampak seperti ikan buntal di akhir kehamilan mu nanti..(Ikan buntal? ini juga julukan untuk ayasha istri tuan Daffin..hehe)


Ia begitu takjub dengan perubahan yang di perlihat kan Mahira.


Hormon kehamilan yang di ciptakan oleh Allah itu,menyulap istri nya menjadi pribadi yang berbeda.


Ia jadi suka tidur,makan banyak dan sedikit sensitif.


Fatih awal nya tidak menyadari kalau itu tanda kehamilan,begitu pun Mahira istrinya.


Kalau saja sahabat nya tidak memberi tahu tanda tanda kehamilan pada Fatih,mungkin ia juga belum tau sampai saat ini.karna tidak ada tanda tanda yang menonjol dalam diri Mahira,seperti yang diperlihatkan kebanyakkan wanita yang hamil muda.


Seminggu yang lalu..


ketika Adit mengunjungi rumah Fatih sahabat nya,Fatih mengeluhkan dengan kebiasaan istinya yang di luar dari kebiasaan nya.


Ia menceritakan bahwa istri nya jadi suka tidur,selera makan nya yang bertambah,sedikit sensitif dan mudah tersinggung.


satu lagi..ia jadi malas mandi.


waktu itu Fatih berjalan menuju kamar nya,untuk mengambil USB di tas kerja nya.


Ya Allah...udah tidur aja istri ku ini..baru juga masuk kamar..


Fatih bergumam dalam hati.


Ia mendekati istri nya yang sudah diam tak sedikit pun terusik dengan keberadaan nya.


Ia teringat dengan niat awal masuk ke dalam kamar nya.


di cari nya benda berbentuk persegi panjang mungil yang bernama USB di dalam tas kerja nya.


Setelah berhasil menemukan nya ia membawa nya keluar.


Fatih keluar dari kamar. Ia mendapati Adit yang sedang asyik memain kan ponsel nya. Tangan kanan nya memegang cangkir kopi,dan menempelkan cangkir itu ke bibir nya menghisap cairan kopi yang mulai menghangat karna memang awal nya isi cangkir itu panas.


Adit melirik ke arah Fatih,sekilas sahabat nya itu menggelengkan kepala nya.


"Kenapa? ada yang ganggu pikiran lo??"


Adit merasa keingin tauan nya muncul secara tiba tiba.


Fatih duduk di tempat nya semula. Hembusan nafas nya yang kasar berhasil keluar dari rongga dada nya.


"Bukan apa apa..gue hanya bingung dengan perubahan istri


gue..dia sekarang suka tidur,suka makan dan sedikit pemalas.."

__ADS_1


ucap nya pada Adit sahabatnya.


Fatih menghela nafas nya lagi.


Senyum tipisnya mengembang di akhir helaan nafas nya.


"Apa mungkin dia hamil?"


Pertanyaan Adit mampu membuat ekspresi Fatih sedikit berubah. Ada aura keingintahuan di sana.


"Hamil??!"


Fatih seolah membalik kan pertannyaan nya kepada Adit. Ia merasa takjub dengan penafsiran sahabat nya. Sejak kapan sahabat nya itu berlagak seperti seorang dokter.


"Iya hamil ?...Coba aja lo tes pake alat tes kehamilan. Sapa tau ia memang hamil.."


Adit memberi saran pada Fatih,untuk mencoba alat tes kehamilan.


karna ia juga pernah mengalami hal yang sama.ketika kayisa mengeluhkan perubahan pada diri nya sebelum ia mengetahui kehamilan nya.dan itu sempat juga tidak di ketahui oleh Adit,bahkan dulu ia kurang mempedulikan nya.kalau ternyata kayisa memang hamil.


"Tapi gimana lo tau?? lo kann..?"


Fatih menghentikan rasa penasaran nya,ia teringat akan sesuatu.ia tak ingin menyinggung sahabat nya.


"Baiklah..gue nanti coba,semoga bener Mahira hamil.gue udah gak sabar menanti kabar itu Dit!"


Fatih tersenyum bahagia.Matanya berbinar binar.


"Semoga itu memang bener tanda kehamilan...gue juga ikut seneng kalau lo jadi ayah..gue bisa gendong ponakan gue nanti"


Dulu,kalau bukan karna ke egoisan nya,ia bahkan sudah bisa bermain main dengan anak nya yang mulai memasuki usia sekolah andaikan takdir berpihak pada nya.tapi maaf,takdir tak bisa kembali walau di beli dengan sesuatu yang berharga dari dunia ini.


Adit menghela nafas nya yang berat.


ia baru saja merutuki dirinya sendiri.


"Sudah lah..jangan dipikirkan lagi.


yang udah berlalu gak bakalan balik lagi dit..,lo udah berusaha perbaiki semua,


gue tau itu Dit"


Fatih mencoba menyemangati sahabat nya.Ia tak ingin sahabat nya terus larut dalam penyesalan nya karna dosa masa lalu nya.


Ia juga melihat.sahabat nya itu menampak kan perubahan yang drastis.Bisa dikatakan ia berubah 180 derajat dari sebelum nya.


Ekpresi Adit ketika mengingat masa kelam nya tak pernah bisa di tutupi dari pandangan mata Fatih.Sangat kentara.


ia tau persis siapa sahabat nya,baik luar maupun dalam.


Laki laki yang dulu suka berkelana dan liar itu kini lemah tak berdaya ketika mengingat masa lalu nya.


Ia menangis seperti balita yang


merengek karna di tinggal ibunya.


Hati Fatih juga selalu teriris menyaksikan sahabat nya yang selalu menyalahkan diri nya sendiri.Menurut Fatih kesalahan yang dilakukan itu wajar,karna kita manusia.Siapapun bisa melakukan kesalahan,tanpa kecuali.

__ADS_1


Yang terpenting sekarang adalah ia sudah bertaubat,menyesali dosa dosa nya di masa lalu.


**************************************


"Sayang ayo bangun...udah jam lima sayang.." Fatih mengusap pipi Mahira yang terlihat lelap. Sebenarnya ia tidak tega membangunkan istrinya, karna ia benar benar terlihat lelah.


Ia mengecup bibir Mahira yang ranum, agak lama ia mengecup disana.


"Masss" Mahira mengeliat, tubuhnya yang lentur seperti ulat yang menari nari.


"Sudah jam 5 sayang...mas gak tega sebenarnya.tapi kamu harus melakukan kwajibanmu" Suaranya lembut, bahkan mendekati bisikan di telinga istrinya.


Mahira bangkit dari peraduannya, dan menuju kamar mandi untuk melakukan wudu.


"Hati-hati sayang..lantainya licin." Kaki Fatih bergerak mengekori istrinya. Sejak tahu ada kehidupan baru dalam rahim istrinya, ia semakin over protektif.


Mahira kembali dari kamar mandi, masih nampak sisa-sisa keletihan diwajahnya.


ia pakai mukena pemberian Fatih sebagai salah satu mas kawin pernikahan mereka. kemudian ia sholat dibelakang Fatih.


"Mas..Dinda tidur lagi ya mas..kepalaku sedikit pusing"


Sembari melipat mukena yang baru saja ia pakai.


Fatih mengangguk. :Biarkan mas saja yang memasak...kamu istirahat lah..."


Tangannya terhulur membenarkan surai rambut panjang istrinya yang sedikit berantakan.


"Trimakasih ya mas..." Mahira naik ke atas ranjangnya, dan Fatih membantu membenarkan selimut hingga menutupi seluruh istrinya.


Fatih masih setia menamani istrinya hingga ia berhasil memasuki dunia mimpi.


Matahari mulai menampakkan kemilaunya. Sang raja siang itu kini eksist tanpa ada awan hitam yang menghalanginya. sehingga langit tempatnya berpendar kian membiru memantulkan warna sajauh mata memandang.


"Sayang..bangun. Sudah jam enam.. apa perlu mas izinkan untuk tidak masuk kuliah?."


Tawar Fatih pada istrinya yang masih meringkuk dibawah selimutnya.


"Engga mas..Aku tetep kuliah."


Mahira menyibak selimut yang menutupi tubuh nya, namun ketika ia hendak beranjak, Fatih menghentikan aktifitasnya.


"Sayang. Kamu terlihat pucat, apa mas perlu cuti dan mengantarkanmu ke dokter?." Mahira yang mendengar perkataan istrinya hanya tertawa kecil menanggapi sikap suaminya yang berlebihan.


"Mas...Aku tidak apa apa. Ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda, mas gak perlu khawatir, lagian baru satu minggu yang lalu kita pergi ke bidan..apa kata mereka coba!."


Mahira tersenyum, melihat suaminya yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Baiklah kalau kamu tidak apa-apa. Mas khawatir karna kamu mengeluhkan pusing dinda?."


Fatih tersenyum, ia membantu istrinya yang ingin beranjak ke kamar mandi.


"Aku mandi dulu mas." Fatih membalas dengan anggukannya. Ia memandang Mahira hingga ia pintu kamar mandi benar-brnar tertutup.


**************************************


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2