
Hari ini Salma memasuki sekolah barunya itu, karena ia terpaksa pindah, karena ayahnya pindah kerja. Di Bandung. Ayahnya mengalami kebangkrutan di Jakarta, sehingga membuatnya untuk memulai usahanya yang baru di Bandung. Kini Salma tak lagi kaya seperti dulu menjadi tuan putri. Hari ini pertama kali tidak memakai mobil, tapi menggunakan sepeda.
"Akhirnya, aku bisa sekolah lagi. Aduh pasti kesiangan?" Ujarnya dalam hati. Salma bergerak cepat menuju sekolahnya.
Salma tinggal bersama ayahnya Husein dan adik lelakinya Ferdy Husein.
Dia terus berlari menuju sekolahnya, ternyata gerbangnya sudah hampir tertutup. Salma bersekolah di sekolah yang lumayan besar dan megah. Disana terdapat banyak orang yang memakai mobil dan motor. Hanya beberapa saja yang menggunakan sepeda, termasuk Salma.
Ia.ni baru jam 06:55, lima menit lagi gerbangnya akan tertutup. Ia berlari ke arah gerbang. Pak Narto penjaga sekolah, mulai menutup gerbang. Salma berteriak dengan berlari.
"Pak ... Jangan tutup dulu" tangannya berusaha menggapai pintu gerbang. Pak Narto hanya tersenyum, dan memberikan kesempatan kepada Salma untuk masuk, ketika tangannya hendak menggapai gerbang, seseorang tiba-tiba menabraknya dari belakang dan berlari.
Salma terjatuh.
Gubrak ...
"Oops ... Sorry. Gue buru-buru!" Lelaki yang menabraknya pergi tanpa menolong ataupun menoleh kearahnya.
"Aduh ... Malah kabur" Salma mencoba mengingat tas dan sepatu yang digunakan pria tersebut.
"Ayo Neng, masuk. Kamu tidak apa-apa kan?" pak Narto membantunya untuk bangun.
"Hmm ... Tidak Pak cuma sedikit kotor saja, makasih ya pak! Aku masuk dulu" Salma masuk kedalam dan mencari ruangan kelasnya.
"Kelas sepuluh A. Alhamdulillah akhirnya bisa gabung kelas orang pintar" ucapnya dengan tersenyum bahagia.
Saat ia masuk ada seorang gadis yang sedang di bully. Salma melawannya dan menggunakan jurus jitu untuk melawan para pembully. Karena Salma memang memiliki ilmu bela diri.
Rena sangat berterima kasih atas bantuannya. Dan mengajaknya untuk duduk berdampingan. Di sekolah yang elit ini pastinya banyak sekali siswa yang sering membully orang yang tidak mampu termasuk Rena.
"Hai, duduk disini sama aku" Salma duduk disampingnya.
"Makasih ya. Hai kenalkan nama aku Salma!" Salma menyodorkan tangannya kepada teman sebangkunya.
"Oh, hai. Namaku Rena, terimakasih sudah membantu. Maaf merepotkan!" mereka berjabat tangan.
"Sudahlah! Aku menolong karena aku tidak suka melihat kejahatan" Rena merasa memiliki pahlawan baru untuk melindunginya.
Seorang guru masuk. Namanya pak Bima, orangnya gendut dan dengan lawakan yang garing.
"Assalamualaikum anak-anak"
"Wa'alaikumsalam" jawab para murid bersamaan.
__ADS_1
"Masih ingat kan sama saya, guru paling tampan, dan sixpack haha" pak Bima tertawa sampai terbatuk-batuk. Sedangkan para murid hanya terdiam. Suasana kelas menjadi hening saat pak Bima berhenti tertawa. Seperti suara jangkrik.
Krik ... Krik ... krik
Pak Bima langsung melanjutkan pembicaraannya.
"Oh oke hari ini kita akan mulai pelajaran pertama yaitu bahasa Indonesia. Kalian harus mengarang menceritakan tentang semua isi sekolah ini, setelah itu kumpulkan!" Pak Bima duduk dan murid mulai keluar area kelas.
"Pak, maaf apa boleh nanti bertanya kepada para senior tentang apa saja yang ada disekitar sini!" Tanya Salma dengan penuh semangat.
"Tidak boleh" dengan wajah serius.
Salma merengut tanda kecewa.
"Hahaha ... Tapi bohong! Boleh kok kapan saya bilang tidak boleh hehe"
Salma dan Rena mengelus dada.
"Baik pak terima kasih" mereka keluar kelas dan melihat sekitar kelas yang begitu besar. Bersih dengan keramik berwarna putih bersih bersinar seperti sunlight. Disana terdapat ruangan kelas dua belas. Semua sibuk memperhatikan setiap sudut sekolah.
Salma mendekati kelas dua belas A. Salma berjalan melewati ruangan itu, pas didepan pintu seseorang membuka pintu hingga membentur wajah Salma. Pria itu tidak menyadari karena ia memakai earphone.
"Kamu gak apa-apa kan Salma!" Tanya Rena kawatir. Salma mengusap jidatnya yang memerah. Ia mulai kesal dan ternyata ia melihat lelaki itu yang menabraknya tadi pagi juga.
Salma memesan makanan bersama Rena, ia melihat lelaki yang menabraknya tadi. Pria malang itu akan menjadi bahan percobaan sepertinya atas dendam yang membara di hati Salma.
"Rena, tahu kan pria yang tidak punya hati tadi! Lihat dia ada didepan kita"
Ia berlari melayangkan kaki tepat di bagian belakang tubuh pria itu sampai terjatuh.
Gubrak ...
kaki Salma berada di atas punggungnya yang tengah tergeletak tak berdaya. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Dasar cowok gak tahu malu! Berani banget sih nabrak sampai dua kali. Gue balas! Rasain! Hahaha" Rena mendekati dan berusaha untuk menenangkan. Tak lama seseorang menghampiri dan berkata.
"Arjuna ... Elo gak apa-apa?" Tanya salah satu temannya bernama Revan super playboy yang tampan dan selalu bersikap manis terhadap wanita. Revan melihat wajahnya menyentuh lantai. Sontak, Salma terkejut mendengar nama Arjuna, ia berlahan mengangkat kakinya dan berusaha untuk kabur.
Ia bersembunyi di toilet sekolah sampai semua orang berhenti mengikutinya. Karena Arjuna adalah pujaan para murid disekolah.
****
Revan membantu membangunkan Arjuna.
__ADS_1
"Siapa sih itu! Mantanmu?" Tanya Revan heran. Karena setahu nya, Arjuna tidak memiliki mantan bagaimana ada seorang wanita yang berani menerjangnya hingga tersungkur ke lantai.
"Elu gimana sih! Mana mungkin gue punya mantan! Pacaran aja gak pernah, gimana ceritanya bisa punya mantan!" Arjuna menepuk bajunya yang terlihat kotor.
"Tapi sepertinya wanita tadi murid baru! Wajahnya asing" ucap Revan.
"Baguslah kalau begitu, mudah untuk menemukannya!" Sepertinya Arjuna sudah tidak bernafsu untuk makan di kantin.
Salma keluar dari persembunyiannya dan mulai berlari tapi salah satu temannya yang lain sudah menghadangnya didepannya.
"Mau kemana?" Tanya Indra. Ini teman Arjuna yang sangat lucu dan unik, wajahnya sih pas-pasan tidak seperti Revan dan Arjuna, tapi mereka bersahabat dalam suka duka.
"Hadang saja, siapa dia!" Arjuna menghampiri dan berusaha untuk melihat wajah Salma yang sejak tadi tertunduk. Arjuna, mengangkat dagunya dan betapa terkejutnya ia melihat wajahnya dan sedikit mundur.
Semua orang mulai berkumpul dan melihat pertunjukan seru ini. Mereka bilang akan ada perang dunia ketiga.
"Kenapa elo lagi sih! Gak ada sekolah lain!" ucap Arjuna sedikit kesal. Salma hanya tersenyum.
"Masih ingat kan! Dulu aku bilang jika kita bertemu lagi berati kita adalah jodoh" dengan sangat percaya diri.
Semua orang tertawa. Dan membicarakan tentang mereka. Bagaimana bisa seorang Arjuna memiliki mantan pacar, sedangkan ia dikenal sebagai pria yang tidak pernah jatuh cinta.
Arjuna merasa sangat tidak senang dengan kehadiran Salma yang sejak SD menyukainya, dan selalu bilang ke setiap orang, bahwa mereka pacaran itu membuat Arjuna sangat malu. Hingga memutuskan untuk menghindari Salma.
"Mungkin bagi kamu ini sebuah anugrah terindah, tapi bagiku kamu itu musibah!" Ucap Arjuna dengan pergi meninggalkan Salma.
Salma hanya tersenyum, dia tidak pernah merasa sakit apapun yang dikatakan oleh Arjuna.
"Heh ... Elo jangan mimpi ngedeketin Arjuna! Dia itu milik Shinta Bachir. Mereka pasti bakal jadian!" Ucap salah satu nitizen sekolah dengan menyenggol bahu Salma.
Rena menghampiri dan bertanya.
"Kamu tidak apa-apa? Maafin aku gak bisa bantu! Padahal tadi kamu sudah membantu! Jelas wajahnya menyesal tidak bisa membantu kesulitan Salma.
"Hey, tenang aja kali! Aku gak apa-apa kok. Santai aja ah!" Rena memeluknya erat dan mereka masuk kedalam kelas.
"Rena jujur Arjuna itu cinta pertama aku! Aku gak bisa melupakan dia. Padahal aku juga berusaha untuk menjauhinya tapi entah mengapa takdir selalu membuat kami bertemu padahal dia sangat membenciku!" Wajahnya sedikit bersedih.
"Sudahlah aku pasti akan membantumu! Tapi mendapatkan Arjuna memang tidak mungkin karena ia ..." Ucap Rena.
"Ia kenapa Ren! Kamu tahu siapa Shinta Bachir?"
Rena terdiam ia bingung harus menjawab apa?
__ADS_1