Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Gimana rasanya cemburu.


__ADS_3

"Aku gak punya handphone, jadi aku gak bisa ngasih tau kakak, kalau aku pengen ketemu sama Kakak?" Ucap Kirana yang usianya lebih muda dari Revan, dengan wajahnya yang polos.


"Terus gimana?" Revan tersenyum manis.


"Sebentar ya, kakak tunggu disini dulu. Sebentar aja!" Kirana berlari, Revan hanya menganggukkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, Kirana membawa seorang gadis kecil yang cantik.


"Kakak, kenalin ini adikku Aira, dia bakal ngasih tau kakak kalau aku gak bisa ketemu!"


"Eh, ada gadis cantik!"Aira hanya tersenyum, Aira gadis berusia lima tahun. Yang cerewet.


"Apaan sih! Aku bukan gadis tau, aku masih kecil, jangan genit!" Dengan logat yang lucu. Revan dan Kirana hanya tertawa.


Mereka berbincang-bincang.


"Juna, gue pegel diri terus, digigitin nyamuk!" Indra memukul wajahnya yang digigit oleh nyamuk.


****


Rena sedang menunggu Glen menjemputnya. Tapi Glen tidak kunjung datang, Semua temannya sudah pulang. Revan yang melihat Rena sendirian, ia menghampiri.


"Aku, anterin kamu pulang? Aku gak bareng Indra, dia tadi pulang lebih awal" Rena hanya tersenyum.


"Percuma dia gak akan datang! Ayo naik" Revan memberikan sebuah helm kepada Rena, Rena tersenyum, ia pikir ada benarnya juga, Glen tidak memberinya kabar, ia mengambil helm itu dan menaiki motor.


Ketika lampu merah, Revan yang merasa melihat mobil Glen dari arah yang berlawanan, bersama dengan seorang gadis yang begitu mesra. Tapi, Glen tidak tahu bahwa Revan telah melihatnya. Rena yang tidak sadar karena fokus dengan handphonenya. Revan merasa lega jika Rena tidak melihatnya.


"Hmm ... untunglah!" Revan mengusap dadanya. Rena bertanya dengan bingung.


"Kenapa?" Revan hanya menggelengkan kepalanya. Rena tersenyum bingung.


Revan berhenti di sebuah cafe tempat Arjuna bekerja. Mereka berdua memesan beberapa makanan dan minuman.


Revan merasa lebih nyaman melihatnya tanpa dibayangi oleh Glen.


'Melihatmu tersenyum manis membuatku semakin tidak ingin jauh dari kamu, ternyata aku masih mencintaimu. Andai saja kamu membuka hatimu untukku' Revan menatap Rena yang sedang serius berbicara dengannya, Revan tidak merespon ia hanya fokus memandang wajah Rena yang terlihat sangat cantik.


"Iya gak?" Rena mengibaskan tangannya ke wajah Revan.


"Kok melamun sih!" Rena terlihat kaku karena sepertinya Revan tengah menatapnya.


"Kesurupan loh!" Arjuna menepuk pundaknya.


"Ah, maaf!" Revan tersadar dari lamunannya dan ia merasa malu.


"Udah sebentar aku mau ke toilet dulu!" Revan pergi menuju kamar mandi.


"Ternyata Revan naksir berat tuh!" Rena hanya tersenyum, wajahnya terlihat memerah.


'Kenapa aku juga merasa nyaman saat bersama dengan Revan, apakah aku mulai suka padanya'


Revan kembali dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah, Revan terlihat mengibaskan rambutnya, membuat pelanggan cafe menatapnya terutama para gadis. Dan tiba-tiba mereka mendekati Revan dengan meminta foto bersama karena Revan adalah selebgram. Rena merasa tidak nyaman saat para gadis itu meminta foto, dengan tingkah mereka yang centil.

__ADS_1


Rena menghampiri, dan menarik tangan Revan dan menyuruhnya untuk memesan makanan lain kepada Arjuna.


"Tapi kan ini masih banyak! Emang serius mau pesen lagi?" Revan menyakinkan. Rena hanya menggagukan dengan wajah yang sedikit kesal.


"Pesen apa?"


"Terserah!" Dengan nada yang ketus. Revan hanya tersenyum ia berjalan menuju meja Arjuna, dihadang oleh seorang gadis.


"Kak, aku mau foto dong, boleh yah!" Gadis itu tersenyum. Rena berteriak keras.


"Cepetan ih!" Revan langsung menolak.


"Maaf ya dek! Besok lagi aja ya!" Revan sebenarnya tidak enak, namun melihat ekspresi wajah Rena yang terlihat sangat murka, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Gadis itu kecewa dengan bergurutu.


"Pacarnya galak banget sih!" Gadis itu pergi dengan kesal.


Revan yang mendengarnya hanya tersenyum. Ia segera menghampiri Arjuna yang sedang mengelap gelas-gelas.


"Gue heran, dia mau pesen makanan tapi makanannya masih banyak!" Arjuna hanya tersenyum.


"Suka kali!" Arjuna berbicara dengan yakin.


"Ah masa!" Revan tidak ingin ke pedean. Karena yang ia tahu bahwa Rena hanya menyukai Glen.


"Iya, cemburu, cewek itu ya begitulah kalau cemburu, loe tahu sendiri gimana Salma kalau cemburu marah gak jelas!" Revan hanya mencoba menerka-nerka apakah benar Rena sedang cemburu. Ia segera membawakan makanan kesukaan Rena yang sedang cemberut.


"Ini, nona cantik, special untuk orang yang special!" Rena tetap cemberut ia berpura-pura tidak mendengar ucapan Revan.


Revan duduk dan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Rena. Ia menatap wajah Rena lebih dekat, hingga Rena merasa malu.


"Cantik!" Ucap Revan.


"Apanya!" Rena terlihat malu.


"Kalau cewek lagi marah! Lucu" Rena semakin malu, ia pergi ke toilet.


Tak lama datang Salma, membawa sebuah kotak nasi untuk makan sore Arjuna.


"Juna, ini makanan untuk kamu?" Salma menyodorkan sebuah kotak nasi dan susu kotak.


"Makasih banyak ya. Hmm, tadi ada Rena, kayanya lagi ke kamar mandi" Salma terlihat sangat antusias karena sahabatnya datang.


Rena datang, dan mereka terlihat sangat senang. Mereka berdua duduk sambil bercanda, sedangkan Revan berbincang dengan Arjuna di meja menu.


"Permisi mas, saya mau tambah minuman cokelat special nya untuk ibu saya?" Arjuna berbalik badan dan mendekati pria tersebut, ternyata itu adalah Farel pria yang pernah dekat dengan Salma waktu SMP. Arjuna sedikit cemburu jika Farel bertemu dengan Salma.


Dan benar saja, Farel menyapa Salma dan Rena, mereka mengobrol bersama, bahkan ibu Farel mendekati Salma.


'Hmm ... sepertinya mereka udah seakrab itu, bahkan dengan ibunya, kenapa hatiku sakit banget rasanya, apa mungkin aku cemburu melihat Farel dan Salma' Arjuna terdiam membisu dan terlihat berpikir, Revan mengerti perasaan Arjuna. Arjuna menyiapkan pesenan Farel. Dengan wajah yang datar, dengan seyum tipis yang sedikit sinis. Ia menatap wajah Salma, Salma mengejarnya ke dapur.


"Arjuna, maaf, kamu marah?" Arjuna hanya terdiam membisu, ia tetap fokus pada pekerjaannya.


"Kamu cemburu ya? Aku seneng banget kalau kamu emang cemburu, berati kamu beneran sayang sama aku!" Arjuna melepaskan celemek yang ada di tubuhnya, ia mulai berbalik arah menghadap ke arah Salma dengan tatapan matanya yang tajam.

__ADS_1


"Kamu seneng! Aku gak seneng, lihat kamu dengan dia, aku sakit hati, tapi kamu malah bilang seneng!" Salma terlihat sangat takut dengan wajah Arjuna yang sedang marah.


"Sekarang, kamu keluar, aku masih banyak pekerjaan!" Salma sudah berkaca-kaca, ia merasa Arjuna terlalu berlebihan, padahal Salma hanya menyukainya. Salma pergi dengan wajah yang sedih.


Arjuna tertunduk, ia merasa bersalah dengan kejadian barusan, tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia memang cemburu. Karena, Farel pernah dekat dengan Salma. Revan menghampiri dan menepuk pundaknya dengan pelan.


"Terkadang, kecemburuan itu sering kali membuat kita kehilangan orang yang kita cintai. Gue, ngerti perasaan loe! Wajar saja kalau loe cemburu melihat Farel dan Salma, secara memang mereka berdua pernah deket. Sabar aja!" Arjuna hanya menarik nafas panjang.


'Aku, sayang banget sama kamu. Tapi, kenapa sih harus begini!' Arjuna terus berpikir.


*****


Keesokan harinya di sekolah.


Arjuna terlihat sangat akrab dengan Shinta, mereka tertawa bersama. Salma merasa cemburu, terlihat Shinta menyuapinya keripik singkong.


"Kok, Arjuna mesra banget sih sama Shinta!" Tia, berbicara sambil memakan cemilan. Rena, menyenggol lengan Tia, agar Tia berbicara lagi. Salma, merasa emosinya mulai naik. Ia menghampiri Arjuna yang sedang duduk bersama sahabatnya dan Shinta.


"Arjuna ... ?" Salma memanggilnya. Tapi, Arjuna tidak merespon sedikitpun.


"Eh, ada nona cantik!" Indra menjawab.


"Bukan, loe!" Timpal Tia dan Rena. Salma merasa tidak dihargai lagi oleh Arjuna. Shinta merasa bersalah, dia tidak enak. Namun, Arjuna malah menarik tangan Shinta dan mengajaknya ke perpustakaan untuk mencari tugas.


Salma mulai berkaca-kaca, semua temannya berusaha untuk menenangkannya. Salma berusaha untuk tetap tenang. Mereka masuk ke dalam kelas. Salma terlihat sangat tidak semangat, ia membenamkan wajahnya di meja, dan menutupnya dengan tas. Rena, membuka tas tersebut.


"Kok, kamu nangis sih! Kita jadi sedih!" Mereka berpelukan.


"Arjuna, udah gak sayang lagi sama aku!" Salma menangis. Keduanya sahabatnya merasa sangat sedih.


"Arjuna cuma cemburu melihat Farel kemarin, harusnya kamu juga ngerti, sekarang gimana rasanya menahan cemburu. Arjuna juga sama. Arjuna itu sayang sama kamu!" Rena menjelaskan. Salma mulai mengerti.


"Aku, mau harus minta maaf!" Ia mulai tersenyum.


"Nah, gitu dong. Itu baru Salma!" Mereka berpelukan.


****


Jam sekolah usai, Arjuna memakai handset di telinganya. Hingga ia tidak mendengar ucapan Salma. Ia sedang membereskan buku-buku ke dalam tasnya. Bahkan ia tidak sadar Salma datang.


"Arjuna, aku minta maaf ya! Aku, sadar, aku salah!" Arjuna tidak merespon sedikitpun.


Salma mulai menangis, Arjuna merasa mendengar suara tangisan. Ia mulai berbalik badan. Ia melihat Salma yang sedang berjalan menuju lorong-lorong kelas. Arjuna sengaja tidak menyapanya. Salma terduduk di kursi dekat taman sekolah. Ia sedang menangis kesal.


"Aku tuh sayang banget! Kenapa sih kamu gak pernah ngerti perasaan aku! Aku udah minta maaf" Salma berbicara dengan nada terbata-bata karena ia sedang menangis. Arjuna hanya tersenyum tipis dari kejauhan. Ia menghampiri Salma dan duduk di sebelahnya.


"Cantik banget sih walaupun lagi nangis!"


"Siapa yang nangis!" Salma berusaha untuk mengusap air matanya dan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Arjuna tersenyum tipis.


"Ah, masa sih!" Arjuna mencubit pipi Salma.


"Aw ... sakit!" Salma memukul lengan Arjuna.

__ADS_1


"Aw, ampun. Galak banget sih. Tapi sayang sih!" Salma malu dan mulai memukul pelan pundak Arjuna.


"Ciee... udah baikan!" Revan, Indra, Tia dan Rena bersamaan.


__ADS_2