
Pagi itu, Revan berangkat pagi-pagi. Ia sangat tampan, terlihat sangat bersemangat, senyumnya penuh bahagia.
"Eleh, Ujang mau kemana pagi-pagi begini?"
"Mah, Revan mau olahraga yah!" Revan memakai sepatunya.
"Tapi, kaya gak mau lari ah ...! Bajunya gak cocok atuh, terlalu rapi! Mau janjian sama cewek nya ...! Ayo, ngaku?" Revan, hanya tersenyum tipis.
"Sttt .. Mah, jangan bilang-bilang ya! Dah, Mamah ...! Assalamualaikum ..?" Revan, mencium tangan ibunya. Ia bergegas pergi dengan motor kesayangannya.
Ibunya hanya tersenyum bingung. Kemana Revan akan pergi, pagi buta begini.
****
Rena, sedang bersiap-siap, ia sedang menunggu Rena di teras rumah. Tiba-tiba, suara klakson mobil Glen berbunyi. Membuatnya terkejut, Glen keluar dari mobilnya. Menghampiri, Rena yang sudah cantik.
"Sayang, kok kamu tahu sih! Aku, mau jemput kamu?" Rena, dengan wajah yang sinis.
"Siapa sih! Aku tuh gak mau, aku mau jalan sama Salma!" Glen menarik lembut tangan Rena.
"Please, aku minta maaf! Aku tahu, aku salah, tapi, kamu tahu kan, kita udah lama banget kenal satu sama lain apakah kamu beneran udah gak bisa maafin aku? Coba, tanya hati kecilmu? Masihkah ada aku dihatimu? Aku, janji akan berubah! Berikan aku kesempatan kedua?"
Rena, hanya memandang dengan penuh kebingungan. Ia, pikir juga, masih sayang dengan Glen, meskipun ia sangat kecewa.
"Iya, aku kasih kamu kesempatan untuk berubah!" Glen, memeluknya.
"Makasih banyak ya sayang! Pokoknya, aku janji akan membuat kamu bahagia!"
Revan, ternyata sudah melihat dari kejauhan. Jelas, sakit perasaannya. Rasanya, ia sangat kecewa dengan sikap Rena. Ia, tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia sangat sedih. Rena, yang melihat Revan pergi, ia merasa sangat bersalah. Revan, pergi dengan perasaan kecewa.
'Kenapa! Gue tuh naif! Jelas, Rena gak mungkin suka sama gue!' Gumamnya dalam hati. Ia, melempar batu kecil ke arah sungai, yang biasa ia datangi. Kirana, menepuknya dari belakang.
"Kakak ...?" Revan hanya tersenyum tipis. Revan, berpikir sebaiknya ia menembak Karina saja. Karena, ia juga terlalu sakit untuk mengingat kejadian hari ini. Revan, memegang tangan Kirana dengan lembut.
__ADS_1
"Kirana, aku mau ngomong sesuatu sama kamu?" Kirana, sangat gugup. Ia, hanya menggagukan kepalanya.
"Kamu mau kan jadi pacarku?" Sontak saja membuat perasaan Kirana bahagia tiada terkira. Pria yang ia sukai ternyata juga menyukainya. Ternyata Rena mengikuti Revan dari belakang. Dan mendengar semua pembicaraan mereka.
Karina hanya menggagukan kepalanya dengan penuh senyum. Sedangkan Rena tidak sadar meneteskan air matanya.
****
"Hari ini kita belajar bersama, jangan sampai main-main sebentar lagi akan ulangan jadi kita harus konsentrasi!" Arjuna memberikan sebuah arahan kepada teman-temannya. Sedangkan, Salma hanya menatapnya dengan penuh cinta.
Semua orang mendengarkan arahan dari Arjuna yang sedang berbicara di depan kelas khusus untuk bimbingan belajar, yang dilakukan oleh para murid pintar. Arjuna menghampiri Salma yang sejak tadi melamun. Arjuna, mengibaskan tangannya.
"Hey ... Kenapa melamun?" Sontak membuat Salma tersenyum kaget. Wajahnya memerah.
"Enggak kok!"
"Kalau begitu isi soal latihan ini? Aku, kasih waktu tiga puluh menit!"
Karena sejak tadi Salma sudah tidak konsentrasi, setelah tiga puluh menit berlalu. Soalnya tidak ada satupun yang ia kerjakan dengan benar. Itu, membuat Arjuna sangat kesal. Arjuna, memanggil Salma ke depan dengan menggelengkan kepalanya. Arjuna, memberikan lembar kertas yang ia kerjakan tidak ada satupun yang benar.
"Sal ... Salma ..!" Arjuna, mengejarnya, sepertinya Salma bersembunyi.
"Kenapa sih loe?" Revan bertanya dari arah belakang.
"Salma, kayanya marah berat! Iya, gue emang keterlaluan, cuma gue pengen dia ngerti! Soalnya, saat gue lulus dari sekolah, gue dapet beasiswa ke luar negeri!"
"Kenapa loe gak bilang aja yang sebenarnya!"
"Gue, takut dia gak setuju dengan keputusan ini!"
"Juna, loe kan pengen banget, bisa kuliah di luar negeri, ini kesempatan loe tahun depan loe bisa kuliah di luar negeri, mimpi loe selama ini bakal tercapai"
"Tapi, apa Salma bakal ngerti perasaan gue?"
__ADS_1
"Coba dulu! Apapun keputusannya nanti. Kita lihat aja!"
Salma mendengarkan percakapan mereka. Dan merasa bersalah dengan kejadian itu.
Saat Salma mendekati Arjuna. Shinta, mendekati Arjuna dan mereka nampak sedang mengobrol dengan tertawa geli. Itu membuat Salma, benar-benar merasa kesal.
Sedangkan, Revan saat bertemu dengan Rena. Memutar arah, Rena tahu kesalahannya. Ia berusaha untuk mengejar Revan, yang sedang menggunakan handset di telinganya.
"Aku, minta maaf!"
Revan tidak mendengarkan, Rena mencabut handset yang ada di telinganya.
"Kamu, harus dengerin aku dulu?"
Revan memberikan tatapan matanya yang tajam dan penuh amarah.
"Cukup, gak usah di permasalahkan! Aku, udah cukup bodoh! Menunggu dengan penuh keyakinan, kamu tahu kan aku begitu menyukaimu, tapi dengan sekejap kamu membuatku hancur dan kecewa. pagi kemarin, adalah malam dimana aku gak akan pernah bisa maafin kamu ...!" Revan pergi dengan wajah yang penuh kekecewaan. Rena, meneteskan air mata. Ia, harus pasrah Revan sudah tidak mau mendengarkan apapun yang ia katakan.
Rena, berlari menuju kamar mandi dan menangis.
Salma, yang melihat kejadian itu dari kejauhan. Mencoba menenangkan Rena yang sedang menangis.
Revan, yang masih kecewa dengan kejadian tadi malam, tidak bisa memaafkan kesalahan Rena. Arjuna dan Indra datang menghampiri.
", Apa, gue salah suka sama Rena. Kenapa harus sesakit ini! Gue, kecewa dengan sikap dia, bayangin aja, gue udah senang banget mau jalan sama orang yang gue suka, gue sampai gak bisa tidur, siap-siap pagi, gue udah ngebayangin hari yang indah, seindah pagi itu. Tapi, ternyata gue salah, pas begitu gue nyampe di depan rumahnya, gue lihat di depan mata kepala sendiri. Dia jalan lagi sama Glen! Sakit, kayanya udah cukup!" Arjuna dan Indra, mencoba untuk menenangkan.
"Sabar aja bro ... cewek itu emang susah di tebak!" Indra mencoba untuk membuka pembicaraan.
"Menurut gue kenapa gak sama Karina yang jelas suka sama loe!" Arjuna memberikan sebuah saran.
"Gue, udah jadian tadi sama dia. Tapi, gue gak suka sama Karina. Gue, cuma kasihan sama dia!"
"Bro ... jangan gitu dong! Itu gak adil buat Karina! Coba buka hati loe buat dia, gue yakin loe bakal bisa suka sama dia?"
__ADS_1
"Gue, bukan jadiin Karina pelampiasan! Gue cuma butuh waktu aja, untuk mencintai orang lain setelah Rena!" Kedua sahabatnya hanya tersenyum dan menepuk pundaknya.