
"Sebenarnya begini. Arjuna kan sangat pintar. Dia selalu unggul dalam bidang olahraga, apalagi dia selalu menang dalam lomba renang. Dia selalu dipasangkan dengan Shinta Bachir gadis cantik yang memiliki kepintaran dan juga memiliki profesi yang sama dengan Arjuna" Rena menjelaskan dengan hati-hati. Salma terlihat santai saja sepertinya.
"Tidak masalah tuh!" Ucap Salma tegas, ia tetap teguh pendirian.
"Para murid disekolah ini mendambakan mereka berdua untuk jadian. Namun Arjuna tidak pernah menembaknya! Aku juga bingung kenapa, Arjuna tidak bisa suka dengan Shinta yang begitu cantik dan banyak persamaan dengannya. Bukankah itu aneh! " Rena melanjutkan pembicaraannya.
"Aneh gimana sih! Tahu sendiri Arjuna itu orangnya gimana! Syukurlah kalau begitu peluang ku masih banyak!" Salma tetap optimis pada keputusannya untuk memperjuangkan cintanya kepada Arjuna, pria yang ia cintai sejak kecil. Rena pikir Salma begitu berani dalam menunjukkan perasaannya. Kalau ia belum tentu bisa seperti Salma tahan banting.
Jam sekolah pun usai. Ia melihat Arjuna sedang berkumpul di depan parkiran motor. Salma merasa melihat sebuah cahaya indah dari wajah Arjuna yang sedang tertawa geli bersama dengan teman-teman terbaiknya. Rasanya hatinya bergetar hebat ia begitu senang bisa melihat wajah Arjuna meskipun ia tahu Arjuna tidak pernah membalas perasaannya itu.
"Ketampanan Arjuna ada di seratus derajat, bikin meleleh" Salma memeluk tiang sekolah. Rena menghampiri dari belakang. Dan mengejutkannya.
*****
Keesokan harinya ia melihat Arjuna sedang dihukum ditengah lapangan.
"Kamu itu selalu kesiangan heran saya! Rumah paling dekat tapi tetap saja kesiangan! Apa musti rumah kamu bapak pindahkan ke sini!" Pak Bima terlihat bingung dengan Arjuna yang selalu kesiangan.
"Maaf pak. Saya terlalu pintar jadi begini!" Tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Eh, tetap pada posisi kamu! Pegang kuping dengan berdiri sebelah kaki. Ini rambut masih saja dikuncir memang kamu perempuan!" Pak Bima mengambil gunting dan segera melayangkan guntingnya. Salma yang melihat kejadian itu. Berusaha menghalang-halangi pak Bima agar tidak memotong rambutnya. Salma merebut gunting tersebut dari tangan pak Bima.
"Aduh kamu ngapain sih!" Pak Bima berhenti
"Pak jangan ... Kalau bapak cukur rambutnya bapak bisa kena sial sepuluh turunan!" Salma menjawab dengan serius. Pak Bima sempat terdiam.
"Iya pak. Bapak mau kena sial. Nanti kepintaran saya hilang. Sekolah ini akan rugi besar! Kehilangan kepintaran saya" ucap Arjuna menyakinkan.
__ADS_1
"Iya juga sih. Saya kan masih jomblo nanti gak laku lagi" percaya saja pak Bima ujarnya dalam hati.
"Sudahlah kalian dihukum berdua!"
"Ah ... Jadi gue yang kena sial! Dihukum bareng Salma" ia menatap sinis ke arah Salma. Salma hanya tersenyum bahagia bisa dihukum berdua dengan pujaannya. Pak Bima masuk untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Seneng loh!" Ucapnya dengan nada bicara yang sinis.
Salma hanya tersenyum ia merasa deg-degan. Karena ia tidak seimbang saat berdiri Salma terjatuh dan dengan sigap Arjuna menangkap tubuh Salma. Mata mereka saling bertatapan, jantung Salma berdebar-debar.
Deg ... Deg ... Deg ...
Arjuna melepaskannya, Salma pun terjatuh.
"Ih kasar!" Salma bangkit kembali. Arjuna hanya terdiam membisu. Ia tetap fokus melihat bendera dengan hukumannya.
Arjuna hanya terdiam, dia heran kenapa Salma tetap seperti dulu. Sedangkan ia tidak bisa membalas perasaannya. Ia malah memberikan itu kepada teman-temannya.
"Kenapa harus kamu berikan kepada orang lain!" Ucap Revan.
"Gue gak bisa. Gue gak suka sama dia!" Arjuna menundukkan wajahnya kemejanya dan memejamkan matanya. Tapi ia merasa membayangkan wajah Salma, entah mengapa ia merasa aneh.
Revan sepertinya merasa sedikit simpati terhadap Salma. Indra yang meminum. Arjuna tidak peduli.
Setiap hari bekal makan siang. Lagi-lagi dia tetap memberikan kepada orang lain. Siang itu Arjuna berada di taman sekolah. Salma menghampiri dan duduk di sampingnya. Ia menyodorkan sebuah pulpen. Yang ia beli dari Prancis.
"Apaan sih!" Ucapnya dengan marah sambil berdiri dan melemparkan pulpen itu ke tanah.
__ADS_1
Salma terdiam membisu, matanya berlinang. Sepertinya ia akan menangis. Arjuna terkejut melihat Salma yang selama ini selalu tersenyum dihadapannya tiba-tiba menangis, padahal selama ini Arjuna selalu menolaknya. Tapi baru kali ini Salma menangis.
"Gue sebenernya gak suka nyakitin cewek! Tapi kenapa elo selalu ngejar-ngejar gue! Bukankah aku sudah bilang berhenti berharap bahwa aku akan mencintaimu. Itu nyakitin perasaan kamu sendiri" sedikit merasa bersalah. Wajah Arjuna mulai berubah cemas. Ia mendekati Salma.
"De ... Dengerin terserah kamu mau nolak aku seribu kalipun juga, aku gak peduli! Aku juga gak tahu harus gimana! Perasaan ini mengalir apa adanya, kamu gak pernah tahu gimana rasanya jadi aku. Kamu selalu menolakku tapi aku tetap bertahan karena cinta ini dari hati bukan atas siapapun termasuk kamu!" Salma berbicara sambil mengusap air matanya.
Arjuna merasa bersalah ia mengambil pulpen itu dan mendekati Salma. Dan mengusap air matanya.
"Oke maaf! Aku juga gak bisa maksa kamu untuk ngelupain aku lagi. Itu perasaan kamu sendiri. Termasuk perasaan aku ke kamu! Sekarang gini aja deh. Biar adil, gimana kalau aku kasih kamu waktu selama sepuluh hari untuk membuatku jatuh cinta kepadamu! Gimana setuju?" Arjuna menjabat tangan Salma. Salma membalasnya dengan menjabat tangannya dan mulai tersenyum kembali. Arjuna pergi sambil membawa pulpen pemberian Salma.
*****
Di kelas Salma seyum-seyum sendiri. Rena bingung kenapa dengan Salma.
"Woy kenapa!" Salma terkejut.
"Apaan sih!" Ia melanjutkan lamunannya yang indah. Sepertinya mulai banyak adegan romantis antara aku dan Arjuna. Pikirnya dalam hati.
Rena bingung. Tak lama terdengar suara ramai dari arah luar. Rena mengajak Salma keluar untuk melihat ada apa diluar sana. Ternyata itu adalah Shinta Bachir, kulitnya putih bersih, tinggi, rambutnya yang panjang tergerai indah. Wanita yang sangat anggun, ia baru pulang setelah lomba renang di Jakarta. Semua orang menyambutnya. Termasuk kepala sekolah.
"Itu yang namanya Shinta Bachir, dia baru pulang setelah lomba renang " Salma mendadak tidak percaya diri jika harus bersaing dengan wanita sesempurna itu. Arjuna menghampiri untuk menyambut, Shinta memeluk tubuh Arjuna semua orang merasa terkesan tanda setuju sekali. Sedangkan Salma merasa sakit, ia meremas tangan Rena.
"Aww ... sakit dong! Kalau cemburu biasa aja gak usah meremas tanganku" Salma tersenyum menyesal. Rena mencoba mengerti, semakin ramai hingga berdesakan. Rena dan Salma terpisah. Seseorang menarik tangannya untuk segera pergi dari kerumunan.
Ternyata itu Revan. Salma terdiam kenapa Revan menariknya. Mereka duduk di bangku sekolah dekat dengan taman.
Revan hanya tersenyum manis. Pria tampan ini mulai simpati terhadap Salma.
__ADS_1