Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Terlalu bahagia


__ADS_3

Pagi hari di sekolah.


"Lihat tuh!" Tia menyenggol lengan Salma. Salma spontan melihat ke arah taman. Disana ternyata ada Arjuna dengan Shinta, sedang mengobrol sambil memegang sebuah buku. Salma, memasang wajah yang penuh amarah. Ia, menghampiri mereka berdua, dan menumpahkan minuman yang Salma bawa.


"Cukup, aku udah gak bisa sabar dengan semua sikap kamu! terlalu, sakit! Kamu, belum puas udah ngambil Ayah dari aku! Sekarang kamu mau ngambil pacar aku juga!" Arjuna, berdiri dan memegang tangan Salma.


"Salma, cukup ...! Aku, gak bisa lihat kamu berbuat kasar begini! Kamu, cuma salah paham!" Salma, menatap kedua mata Arjuna dengan penuh kebencian, dan tetesan air mata yang membasahi pipinya.


"Salma, tolong ... berikan aku kesempatan untuk menjadi Kakak kamu! Aku, gak pernah berniat mengambil Ayah, apalagi Arjuna. Tolong, jangan benci aku terus!" Shinta, mencoba menenangkan.


Salma, pergi meninggalkan mereka, dan berlari dengan wajah yang penuh air mata. Arjuna, mengejarnya. Dan, menarik tangan Salma, Salma yang sempat menolaknya dan menangis. Arjuna, memeluknya dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Salma, cukup! Kenapa kamu begitu membenci Shinta? Aku dan Shinta gak ada perasaan apapun! Aku, bukan membela diri, itu emang kenyataan. Aku, cuma gak mau lihat kamu terus menerus membenci Shinta! Tolong, cerita?" Salma, mulai tenang. Arjuna menghapus air matanya.


"Aku, dan Shinta adalah saudara tiri!" Arjuna, terkejut.


"Kamu, serius?"


"Iya, aku serius! Aku, gak bisa nerima semua kenyataan ini. Aku, gak sanggup menerima orang lain yang hadir dalam kehidupan kami! Tolong, aku juga butuh waktu lama untuk menerima Shinta dan ibunya!"


"Oke, aku gak akan bilang hal apapun! Aku, bakal nunggu kamu berubah pikiran untuk membuka hati kamu untuk Shinta dan ibunya." Salma, hanya tersenyum.


****


"Hey ... melamun!" Rena, sedang melamun. Revan mengangetkan hingga ia melemparkan kue yang berada di tangannya.


"Apaan sih! Ngagetin aja!"


"Kenapa melamun?" Rena, hanya tersenyum sinis.


"Eh .. itu bawa apaan?" Rena, mengambilnya. Sebuah kotak yang berisi stik PS.


"Wuih ... dari siapa?" Tanya Rena penasaran.


"Dari siapa coba?" Revan, mulai bercanda.


"Ih, gak mau tebak-tebakan!" Rena, cemberut.


"Iya udah iya ... ini dari Karina! Dia, tahu banget aku suka main game jadi dia ngasih ini!" Revan, begitu bersemangat untuk membicarakan tentang kotak hadiah itu.


'Kenapa ...! Aku, merasa cemburu melihat Revan begitu bahagia dengan kotak itu!' Gumamnya dalam hati.


"kalau ini dari Fika!" Revan tersenyum.

__ADS_1


"Harusnya jangan diambil! Katanya gak suka! Dasar, playboy...!" Rena, begitu sinis.


"Mubazir ... kalau dibuang! Ini kan cuma makanan ringan. Nih, mau?" Rena, hanya terdiam dan ia pergi meninggalkan Revan.


"Loh, kok pergi sih!"


"Woy ... !" Indra datang, dan langsung memakan cemilan itu.


"Ah, kebiasaan ...!"


"Apaan sih! Cuma makanan doang, jangan pelit! Ngomong-ngomong banyak banget dikasih siapa?"


"Dikasih Fika! Andai, saja Rena cemburu! Sepertinya, aku memang harus membuka hatiku untuk yang lain! Besok, aku harus mengatakan isi hatiku kepada Karina. Karena, dia pasti sudah menungguku!"


"Iya udah sih! Yang ada aja ngapain nunggu yang gak pasti!" Indra mencoba menyakinkan. Ternyata, Rena menguping pembicaraan mereka berdua secara diam-diam.


'Apa, aku harus menggagalkan rencana Revan untuk menembak Karina!" Ia diam sejenak dan berpikir.


'Ih, apaan sih! Kok, jadi begini!' Tidak lama, Salma datang dari arah belakang.


"Dorr ... ngintipin siapa?" Rena, benar-benar terkejut.


"Stt ... ayo anterin ke toilet nih!"


"Aneh banget sih!" Salma, berjalan dengan melirik ke arah Indra dan Revan yang sedang mengobrol dengan cemilan ditangan mereka.


****


"Kenapa sih, kok jadi mikirin si playboy itu ...! Aneh banget, terserah dia mau nembak siapa kek! Apa peduliku ..!" Rena, menutup wajahnya dengan selimut. Ia, merasa gelisah dengan esok hari. Tiba-tiba, suara telepon berdering.


Drttt ... drttt ... drttt ...


Rena melihat, ternyata Glen yang meneleponnya.


"Hmm ... kirain, Revan!" Ia, spontan mengatakan hal tersebut begitu saja. Ia, mulai bingung dengan perasaannya kepada Revan, apa ia mulai menyukai Revan. Sementara, Revan merasa rindu dengan Rena. Mungkin, karena Rena sedang memikirkan dirinya.


Ternyata Glen, sudah berdiri sejak tadi, didepan rumah Rena. Asisten rumah Rena memberitahu bahwa Glen sudah menunggunya sejak tadi. Rena, merasa malas. Tapi, Glen pasti marah jika ia tidak menghampirinya.


"Kamu, kemana saja sih? Lama banget! Tau gak, aku nungguin kamu sampai berlumut ...! Kamu, dengerin aku gak sih?" Glen, menarik lengan Rena.


"Aww .. sakit ...! Kamu, kenapa sih? Aku, lagi gak mood!" Glen, yang sejak tadi sudah merasa kesal. Ia memandang wajah Rena dengan penuh amarah.


"Kamu, mikirin siapa?" Rena, merasa sangat takut.

__ADS_1


"A ... aku cuma gak mood aja? Kurang sehat?" Dengan nada yang ragu. Glen, hanya tersenyum sinis.


"Udah, please aku lagi pengen sendiri!" Rena, masuk ke dalam dan menutup pintu.


"Oke, terserah!" Glen, menendang kursi teras dengan penuh kemarahan.


"Astagfirullah ...! Non, gpp kan!" Bibi nampak cemburu.


"Gak apa-apa Bi, aku mau tidur dulu ya!" Rena, membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan sayupan jendela yang sedikit terbuka, terlihat dari balik jendela bintang-bintang yang bersinar terang benderang, seperti terlihat wajah Revan yang sedang tersenyum manis untuknya. Rena, tersenyum sendiri meskipun lengannya sedikit cedera karena ulah Glen.


Ternyata, perasaan Revan sama. Ia memandang bintang-bintang yang bersinar terang, mengingatkan wajah cantik Salma. Ia, berniat untuk menelpon Rena. Revan, mulai mengetik ... Namun, ia menghapus kembali. Ia, merasa bagaimana harus memulainya. Ia, mulai gelisah, sudah lebih dari sepuluh kali, ia menghapus pesannya kepada Rena.


"Hmm ... Bismillahirrahmanirrahim ...!"


Sedang mengetik ....


[Assalamualaikum, Rena boleh telepon gak? Kalau gak, ganggu kamu?]


Pesan terkirim ....


Rena, terkejut dan deg-degan menerima pesan dari Revan. Ia, dengan antusias membalas.


[Waalaikumsalam, iya boleh. Gak, ganggu kok!]


Revan, langsung merapikan rambutnya yang berantakan, Rena pun merapikan rambutnya yang berantakan.


Telepon berdering....


Mereka pun, mengobrol dengan bahagia. Besok, kebetulan hari Minggu, libur sekolah. Rena, mengajak Revan untuk makan diluar berdua saja, dan menghabiskan waktu bersama, karena ia sedang tidak ingin melihat Glen. Tentu saja, itulah yang diharapkan oleh Revan. Revan, menutup teleponnya. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.


Arjuna, masuk ke dalam kamar Revan, yang sedang melamun di atas kasur. Revan, terlihat tersenyum sendiri. Hingga ia tidak menyadari bahwa Indra dan Arjuna tengah melihatnya sejak tadi.


"Eleh ... kunape atuh? Jatuh cinta sugan?" Indra, menepuk pundaknya. Sontak, Revan terkejut.


"Apaan sih ...!" Revan, tetap tersenyum. Arjuna dan Indra tersenyum bahagia melihat Revan yang begitu bahagia.


"Main PS yuk ..!" Ucap Indra, ia menghidupkan PS.


"Gak, duluan aja ...! Ngantuk berat ...!" Revan, membaringkan tubuhnya.


"Tumben banget loh, gak biasanya, aneh ...!" Arjuna, mulai angkat bicara.


"Haha iya bener banget tuh, biasanya paling jago begadang!" Indra, tertawa lepas.

__ADS_1


"Ah, berisik ...!" Revan, menutup wajahnya dengan selimut. Indra dan Arjuna hanya tersenyum.


"Jangan-jangan, ada janji ...!" Arjuna, mulai menaruh curiga. Revan, hanya tersenyum. Ia, berharap malam cepat berganti. Meskipun, ia tidak bisa tidur karena terlalu senang dengan janjinya untuk Rena. Bagaimana dengan Rena, apakah ia juga tidak bisa tidur, karena terlalu bahagia...?


__ADS_2