Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Aku sudah lelah


__ADS_3

Revan menghampirinya, dan memeluknya erat. Dan ia mengusap air mata Salma dengan penuh cinta.


"Please jangan menangis!" Revan begitu menyukai Salma. Ia membawa Salma ke rumahnya, baju mereka basah kuyup. Ibu Revan menghampiri.


"Aduh kunaon iyeh teh! Ayo Neng masuk, ini pakai anduk dulu. Heh ... Revan ari kamu kenapa bawa cewek cantik huhujanan, kasihan atuh" dengan logat sundanya yang medok.


"Udah ah, Ibu mah tak usah banyak tanya ini itu. Kasih pinjem baju ibu nu bagus nya" Revan menghampiri Salma.


"Aku ganti baju duluan yah! Ibuku sudah menyiapkan air hangat untuk mandi". Salma menggagukan kepalanya.


"Ini Neng Salma" Ibu memberikan sebuah baju daster batik berwarna merah muda.


"Kok ibu tahu, nama saya Salma, padahal saya belum kenalan. Pasti Revan ya yang bilang!" Ucapnya dengan yakin.


"Bukan, anak ibu yang satunya lagi! Sekarang dia belum pulang, paling dia anterin minuman buatannya sendiri. Arjuna memang rajin sekali. bilang ada seorang gadis yang begitu menyukainya ia sangat cerewet sekali, sama kaya ibu yang super cerewet". Ibu membuat minuman hangat sambil terus berbicara. Salma bingung siapa yang dimaksud, bukankah Revan anak tunggal. Salma mandi dan berganti pakaian. Ia terlihat sangat cantik dengan daster batik. Revan masih didalam kamarnya. Ibu menyuruh Salma untuk duduk dan meminum air teh hangat. Tak lama ada seseorang yang datang.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, eh udah pulang. Dari mana saja kamu. Ini ada temanmu"


"Itu anak yang ibu bicarakan tadi, kamu sudah kenal kan!" Betapa terkejutnya yang ia lihat adalah pria yang ia sukai.


Ternyata itu adalah Arjuna, Arjuna sedikit terdiam membisu tatapannya tajam menatap kedua mata Salma. Entah apa pikiran yang ada di pikirannya, seolah-olah menatap penuh makna, meskipun wajahnya terlihat sangat datar. Salma tertunduk malu, Arjuna melewatinya, ia sedikit menyenggol lengan Salma. Ternyata Arjuna basah kuyup. Salma mencemaskan keadaan Arjuna.


"Arjuna, kenapa bajumu basah kuyup!" Ibu bertanya dari kejauhan.


"Arjuna habis nganterin minuman cokelat ke toko Pak Uce".

__ADS_1


Revan keluar dari kamarnya sepertinya ia sedang demam. Ibunya kawatir.


"Gimana kamu nganterin Salma!" Tanya ibu cemas.


"Aku kuat Bu, tenang saja!" Ia berusaha untuk bangun tapi terjatuh.


"Tuh kan kata ibu ge apa!" Sambil mengusap pundak anaknya.


"Aku pulang sendirian aja! Kasihan Revan, semoga lekas sembuh" Ucap Salma. Ibu mulai nyerocos.


"Jangan atuh, ini udah malem. Anterin sama Arjuna saja" Revan memberikan tanda tidak setuju.


"Ulah kitu ujang, nu pang gantengnya, karuya atuh anak orang udah malem begini, kalau ada apa-apa gimana!" Ibu membujuk Revan agar menyetujui. Dengan terpaksa ia mengijinkan agar Arjuna mengantarkan Salma.


Arjuna baru selesai mandi, ia akan memasuki kamarnya, terlihat ia sedang mengeringkan rambutnya yang sedikit gondrong. Hati Salma berdetak kencang, rasanya bagaimana ia bisa melupakan Arjuna. Setiap kali ia akan melupakan perasaannya kepada Arjuna, tapi Arjuna selalu berada didekatnya.


Arjuna keluar dari kamarnya, ia terlihat sangat tampan dengan suiter berwarna merah maroon, dan celana jeans hitam. Terlihat sangat berbeda dengan yang biasa dilihat saat memakai seragam. Ia berjalan menuju luar, dan memanaskan motor.


"Bu, maaf ya ngerepotin banget. Makasih" ibu memeluknya erat dan berkata.


"Jangan kapok ya kesini! Arjuna jangan ngebut ya, hati-hati" Arjuna hanya tersenyum manis sekali. Bagaikan gula, sampai membuat Salma merasa menjadi semut yang akan datang untuk Arjuna. Revan menitip pesan, agar ia tidak membawa Salma ke tempat lain. Arjuna hanya terdiam.


Mereka berpamitan, Salma bingung harus senang atau merasa sedih. Bukankah ini yang ia mau, Arjuna berada di dekatnya. Jantungnya berdegup kencang, ia merasa antara senang dan sedih. Salma berpikir mengapa Arjuna tidak merasa bersalah dengan kejadian tadi, bahkan dia hanya terdiam membisu sejak obrolan tadi.


'Apa maksudnya perkataan ibu tadi, tentang Arjuna yang menceritakan tentang aku. Aneh sekali, mungkin yang dimaksud bukankah aku, tapi pasti si Shinta, beruntung sekali, Shinta tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan hati Arjuna' Ia berkata dalam hati, dengan meremas gemas, pundak Arjuna tanpa ia sadari. Arjuna berteriak kesakitan.


" Aww ..." ia menghentikan laju motornya. Dan menatap kedua mata Salma dengan penuh sinis. Salma ketakutan melihat tatapan mata Arjuna yang sangat tidak biasa.

__ADS_1


"M ... maaf gak sengaja!" Dengan wajah polosnya, Salma.


Arjuna hanya terdiam, melanjutkan perjalanan menuju rumah Salma. Aneh memang Arjuna tiba-tiba saja berubah menjadi pendiam dan tertutup, padahal Arjuna tidak pernah bersikap dingin, bahkan Arjuna yang ia kenal sedikit cerewet. Apa mungkin karena aku menjadi beban. Aku janji mulai besok, tidak akan mendekati lagi. Setelah sampai, Arjuna tidak mengucapkan sepatah katapun untuk Salma.


Jujur saja Salma masih merasakan sakit, ia kembali menangis sejadinya dan berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Salma melakukan video call bersama kedua sahabatnya, mereka merasakan yang Salma rasakan, mereka menyemangati Salma agar move on.


*****


Salma berusaha untuk menjauhi Arjuna, bahkan ini pertama kalinya ia tidak memberikan makanan untuk Arjuna. Indra bertanya kepada Arjuna, kemana makanan yang biasa selalu ada.


Arjuna merasa bersalah dengan kejadian kemarin hingga ia tidak mampu berbicara sepatah katapun, saat bertemu dengan Salma, Salma memutar arahnya. Bahkan jika mereka bertemu muka, Salma mengangapnya tidak ada. Entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang. Arjuna bercerita tentang perasaannya kepada Indra saat Revan tidak ada.


"Kenapa sih gue merasa kehilangan sosok Salma yang bawel cerewet, koki pintar, dan kepolosannya. Rasanya ada yang kurang, padahal jelas gue yang udah buat dia sakit. Tapi entah kenapa rasanya hambar saja. Sekarang saat dia pergi berlalu seperti tidak pernah ada rasa, itu rasanya sakit. Inilah yang gue lakukan pada Salma waktu itu. Nampaknya sekarang sudah terlambat" Arjuna nampak serius, Indra sangat mengerti.


"Jujur saja saat gue ngomong itu, gue nyusul, tapi ternyata disana sudah ada Revan yang memeluknya, gue mencoba mengalah demi Revan, loe tahu betul gimana baiknya keluarga Revan sama gue. Seribu Salma akan gue berikan untuk Revan" Indra mengusap pelan, Indra tahu betul bagaimana perasaan Arjuna yang harus mengalah demi Revan. Ternyata Shinta mendengar pembicaraan mereka secara diam-diam. Indra tidak pernah membocorkan rahasia hati Arjuna terhadap Salma yang sebenarnya, ataupun Revan. Yang Revan tahu, Arjuna tidak pernah menyukai Salma.


****


Arjuna CS sedang makan di kantin, Revan berpindah duduk ke arah Salma.


Revan tersenyum manis, Salma sedang makan sebuah bakso, bersama Rena dan Tia. Ia bertanya kepada Salma.


"Maukah kamu menjadi pacarku?" Arjuna menatap kedua mata Salma dari kejauhan, yang sempat tersedak. Ia takut Salma menjawab iya, tapi Arjuna juga merasa berhak atas perasaanya. Ia begitu pengecut.


Salma terdiam sejenak membisu, wajahnya kebingungan. Tapi ia ingat perkataan Arjuna tempo hari tentang sebaiknya ia jadian dengan Revan sahabatnya.


Apakah jawaban yang akan diberikan untuk Revan yang pemberani?

__ADS_1


__ADS_2