Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Lebih sakit berpura-pura tidak mencintai


__ADS_3

Arjuna berdiri di samping tembok, mereka berdua tidak menyadari kehadiran Arjuna.


"Rena, please jangan buat aku bingung! Kalau aku beneran suka sama Salma gimana? Aku gak bisa terus-terusan kaya gini, lama-lama aku bisa beneran suka sama Salma, perhatian yang aku berikan lama-lama bisa menjadi cinta!" Rena menatap dingin.


"Iya gak apa-apa kalau kamu suka beneran sama Salma! Kan kalian juga udah jadian, jadi kenapa juga aku harus ngelarang!" Rena menjawab tanpa memikirkan perasaan Revan yang terlihat sangat terkejut dengan keputusan Rena.


"Oh oke kalau gitu! Jangan salahkan aku jika aku beneran suka sama Salma! Dan aku janji gak akan pernah nanyain apapun lagi, termasuk rasa cemburu aku sama Romi! Bagus emang cocok, gue sama-sama di PHP-n oleh orang yang kita cintai, cocok antara gue dan Salma! Jangan nyesel dengan keputusan ini!" Revan yang tidak pernah marah mendadak menjadi marah, matanya memerah, wajahnya berkeringat. Rena hanya terdiam membisu tatapannya seperti penuh makna. Rena ingin mengatakan sesuatu tapi Revan pergi begitu saja dengan wajah yang penuh emosi.


"Apa yang buat kamu gak bisa nerima aku?" Revan mencoba menegaskan pertanyaannya. Rena menatap wajah Revan dan menghela nafas.


"Kan kamu tahu sendiri aku udah punya pacar, namanya Glen. Aku gak bisa kamu harus ngerti aku udah terlanjur cinta sama dia!" Rena mencoba memberikan pengertian kepada Revan.


"Tapi, Glen bukan cowok baik! Dia itu gak setia sama kamu. Please kamu percaya sama aku!" Wajah Rena mulai sedikit memerah dan emosi.


"Emang kamu cowok baik hah! Kamu cuma bisa mainin perasaan cewek, udah berapa banyak yang jadi korban perasaan! Cukup Revan, gak usah ikut campur urusan hidup aku lagi! Aku dan kamu cuma teman gak mungkin bisa menjadi kita!" Rena pergi meninggalkan Revan. Revan terdiam membisu, ia melihat Rena pergi tanpa bertanya mengapa ia tidak menyetujui hubungannya dengan Glen. Saat Arjuna serius melihat dari kejauhan apa yang terjadi. Arjuna bergumam sendiri.


"Oh jadi mereka punya rahasia!" Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyahut ucapannya.


"Iya bener banget tuh! Kira-kira rahasia apa yang mereka sembunyikan?" Arjuna sedikit terkejut. Ternyata itu Indra. Ia heran sejak tadi ia hanya sendiri tapi tiba-tiba saja Indra muncul seperti penampakan. Indra hanya tersenyum.


"Ah ... loe ngapain ngagetin aja!" Arjuna memukul pelan pundak Indra. Indra tersenyum lebar tanpa dosa.


"Yah, maaf. Hehe ... tadi habis mandi penasaran aja ada apa sih sampai Arjuna tidak kembali, eh ternyata ada disini jadi penguntit haha!" Arjuna meremas pundak Indra sambil melotot.

__ADS_1


"Aww ... sakit napa!" Indra mengusap pundaknya yang sedikit kesakitan.


"Stt ... berisik!" Arjuna memberikan isyarat kepada Indra. Ia menutup mulut Indra dengan tangannya. Ternyata itu membuat kebisingan dan Revan merasa ada yang sedang mengawasi dia.


"Siapa?" Revan memutar tubuhnya, sambil mencari tahu siapa yang sedang mengintipnya. Arjuna dan Indra saling sikut. Dengan spontan Indra menjawab.


"Kucing ...!" Dengan nada suara yang sedikit di cemprengkan. Revan makin kebingungan.


"Gimana sih! Masa kucing ngomong kucing! Ayo lari" Arjuna menarik tangan Indra. Dan mereka bersembunyi. Revan yang sempat penasaran mendadak kegerahan dan ia bergegas menuju kamarnya dan mandi. Indra dan Arjuna membuat rencana.


"Uh hampir saja ...!" Ucap Indra sambil mengelus dada.


"Elo sih, rusuh! Kita buat rencana!" Arjuna membisikkan rencana itu kepada Indra. Indra hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar dan mereka kemudian saling berjabat tangan. Rencana apa yang mereka buat untuk mengetahui rahasia antara Revan dan Rena. Mereka segera kembali ke kamar. Saat mereka membuka pintu, Revan baru keluar dari kamar mandi. Ia sedang mengusap rambutnya.


"Kita habis nyari sesuatu aja!" Ucap Indra sambil menuangkan air minum. Revan duduk di kursi. Mereka menonton film. Sementara di tempat Salma.


"Tia makan terus ih!" Salma mengambil cemilan Tia. Tia mencoba mengambil makanan tersebut, Salma terus bercanda dengan Tia. Rena sedang melamun di kursi dekat jendela, yang di luar bisa melihat sawah besar, dan hujan deras yang sejak tadi tidak berhenti. Salma menyenggol lengan Tia. Mereka melihat Rena yang sedikit sedih.


"Kamu kenapa?" Tanya Salma dan Tia berbarengan.


"Gak apa-apa kok!" Rena tersenyum, lalu ia menggelitik kedua sahabatnya. Mereka tertawa bersama. Rena bisa melupakan semua masalah jika ia tetap berada di dekat Tia dan Salma.


Malam hari, mereka ingin mencari makanan di dekat hotel. Saat mereka keluar kamar, ternyata Arjuna dan temannya juga akan keluar. Akhirnya mereka berbarengan. Revan berjalan dibelakang, ia memakai jaket Hoodie berwarna coklat tua, wajahnya sangat datar tidak seperti biasanya yang ramah dan ceria. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, dengan kepala yang ditutupi oleh Rena sempat menatap ke arah Revan, tapi Revan sama sekali tidak merespon. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang sedikit basah oleh hujan deras tadi siang. Revan melihat ruko kecil yang berjualan gelang, kalung dan tas-tas dari bahan kayu.

__ADS_1


Revan memilih salah satu kalung dengan hiasan kayu, berwarna merah muda, ia memanggil Salma. Ia memasangkan gelang kayu itu kepada Salma. Arjuna nampak terkejut melihat itu, rasanya ia sudah tidak tahan lagi jika harus melihat hal tersebut. Salma terlihat melihat wajah Arjuna yang sedang cemburu. Sedangkan Indra dan Tia, merasa sangat iri dengan ke jombloan mereka. Salma terpaksa tersenyum manis agar Revan tidak tersinggung.


'Andai saja, Arjuna yang memberikan kalung ini, pastinya akan berbeda rasanya tidak hambar' Salma melamun, ia membayangkan jika Arjuna yang memberikan dan memasangkan kalung tersebut kepadanya. Arjuna sedikit membuang mukanya untuk melihat mengalihkan pandangannya. Indra merasa kasihan melihat Arjuna yang tampak sedih. Indra mengajak Arjuna untuk mencari makanan.


"Lebih sakit berpura-pura tidak cinta! Dari pada ditolak!" Arjuna tiba-tiba berbicara. Indra mengerti perasaan Arjuna.


"Kenapa loe gak ngomong aja! Gue juga yang ngelihatnya sakit hati, gue aja yang ngomong!" Indra berusaha untuk membantu Arjuna. Namun Arjuna menahannya.


Mereka kembali, dan segera berkumpul di taman belakang hotel untuk acara api unggun, karena besok akan pulang ke Bandung.


Pak Bima, mulai berbicara.


"Silahkan, kalian keluarin gitar sakti kalian! Pasti ada yang bawa kan! Ayo silahkan jika mau bernyanyi!"


Revan dan Arjuna akan bernyanyi, Revan memainkan gitar, sedangkan Arjuna menyanyi.


Musik bermain.


Masih saling cinta. Jika kita memang saling mencinta mengapa kita harus berpisah, bila cinta ada di hati kita percayalah kita akan bersama.


Shinta ikut bernyanyi, Salma semakin tidak suka. Pasti itu lagu memang untuk Shinta pikir Salma dalam hatinya. Sedangkan Arjuna hanya memandang wajah Salma sambil bernyanyi, Revan melihat Rena. Mereka semua berdiri dan berputar mengelilingi api' unggun. Semua teman-temannya sudah memasuki kamarnya masing-masing. Tinggal sisa, Arjuna CS dan Salma CS. Mereka sedikit mengobrol, Revan berusaha untuk sedekat mungkin dengan Salma, mereka tampak seperti sangat serius untuk mengobrol dan memakan jagung bakar. Rena sedikit merasa cemburu melihat kemesraan mereka berdua. Apalagi Arjuna yang merasa hancur.


Tiba-tiba saja Revan berbicara serius kepada Salma.

__ADS_1


"Salma, boleh aku izin cium tangan kamu!" Semua orang langsung ikut menanti jawaban Salma. Ia hanya terdiam. Revan tidak perlu menunggu jawaban dari Salma, ia segera mengambil tangan Salma.


__ADS_2