
"Hahaha kirain marah! Tapi Arjuna mah gitu sih, jarang marah, cuma mukanya datar kaya jalan aspal gitu!" Indra cengengesan. Akhirnya bell berbunyi Revan berpisah kelas dengan Arjuna.
Pak Bima memasuki kelas. Arjuna masuk ke dalam kelas setelah dari kamar mandi, pak Bima menyuruhnya untuk memimpin do'a.
"Ingat jangan lupa mencontek! Eh maksudnya jangan mencontek" Semua murid tertawa bersama, kecuali wajah Arjuna yang sangat datar. Ia tidak merespon lawakan dari pak Bima sedikitpun, ia membagikan selebaran kertas ulangan. Banyak murid perempuan yang terpesona dengan ketampanan Arjuna. Seperti biasa ia tidak merespon selain dengan senyuman tipis.
Salma tidak menyadari bahwa Arjuna sangat marah dengan kejadian tadi, sampai Arjuna tidak berbicara ataupun menatap wajah Salma. Begitulah ketika seorang pria sedang cemburu ia benar-benar tidak bisa berbuat banyak. Bahkan Salma tetap tidak menyadari perasaan Arjuna yang sebenarnya kepada Salma.
Tiba bell istirahat, Revan menghampiri kelas Arjuna, dan menemui Salma, ia memberikan minuman dingin. Arjuna mengambilnya dan meminumnya.
"Gue haus!" Arjuna pergi ke kantin.
Salma dan Revan menuju kantin, Revan memesan makanan. Arjuna dan Salma hanya berdua.
"Kamu marah?" Tanya Salma ia memiringkan kepalanya dengan melihat wajah Arjuna yang sedang meminum segelas es teh. Wajah Arjuna begitu serius dan menatap wajah Salma.
"Pikir aja sendiri!" Salma bingung.
"Emang kenapa sih! Kamu cemburu" Salma lebih bingung.
"Itu tahu!" Arjuna beranjak dari kursinya dan pergi. Revan datang.
"Woi kemana! Baru aja gue pesen, Indra kemana sih" Arjuna hanya melambaikan sebelah tangannya tanpa berbalik. Salma segera bergegas pergi menuju Rena dan Tia yang masih di kelas.
"Ya ampun gue makan sendiri!" Wajahnya merengut.
Salma berlari mencari kedua sahabatnya itu. Ia menabrak Arjuna yang sedang berjalan bersama Indra. Arjuna sedang membawa minuman dan tertumpah mengenai seragam Salma. Arjuna segera mengeluarkan sebuah tisu dan mengusap bajunya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan!" Arjuna mengusap bagian yang kotor. Salma hanya tersenyum. Tia dan Rena memanggilnya.
"Salma kamu tidak apa-apa!" Tanya kedua sahabatnya berbarengan. Salma hanya tersenyum.
Arjuna dan Indra melanjutkan perjalanan menuju Revan yang telah menelpon dari tadi. Ternyata di kantin sudah ada Shinta yang menemani Revan.
Salma menceritakan tentang sikap Arjuna. Tia dan Rena mendengarkan dengan seksama.
"Menurut aku sih, Arjuna itu emang suka sama kamu! Tapi dia gak bisa ngungkapin isi hatinya, mungkin karena gak enak kali sama Revan! Buktinya dia bilang kalau dia itu cemburu lihat kamu sama Revan!" Tegas Rena.
"Tapi mana mungkin, kalau suka diam saja!" Salma merasa tidak percaya diri.
"Tapi sikap Arjuna itu emang kelihatan banget! Cowok itu kalau suka beda sama cewek! Mereka itu lebih ke diam, bahkan semakin cinta semakin gak bisa ngomong! Lihat saja perhatiannya! Mana mungkin bilang cemburu kalau gak suka!" Tia terkadang benar juga ucapnya dalam hati.
"Tapi kenapa gak berusaha untuk yakinin, bahkan kesannya seperti benci!"
"Pria itu lebih mementingkan logika mereka, pria memiliki sembilan puluh sembilan logika dan satu perasaan, sedangkan perempuan memiliki sembilan puluh sembilan perasaan dan satu logika, begitulah pria!" Ucap Rena menjelaskan. Tia mendengarkan dengan penuh keyakinan dan ia tetap makan cemilan padahal sedang diet.
****
Bell masuk ulangan yang kedua. Arjuna akhir-akhir tidak pernah kesiangan, ia sudah banyak berubah menjadi lebih disiplin waktu. Salma selalu ingin bertanya kepada Arjuna. Tapi Shinta sepertinya selalu perhatian dengan kepada Arjuna.
Saat bell berbunyi tanda masuk. Salma nampak gelisah. Arjuna memperhatikan Salma. Salma berkata sendiri.
"Aduh pulpen ku ketinggalan!" Gumamnya dengan cemas. Arjuna mendengar itu, ia menyodorkan sebuah pulpen. Salma merasa senang.
"Hmm ... thanks!" Arjuna pergi ke arah pintu luar. Ia tidak berbicara sepatah katapun. Ia sepertinya kesusahan untuk mencari pengganti pulpen. Jadi membuatnya sedikit terlambat. Salma cemas karena Arjuna belum datang, sementara ulangan akan segera mulai. Saat pak Bima membagikan selebaran kertas ulangan, Arjuna datang dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Maaf pak saya terlambat!" Pak Bima menggelengkan kepalanya. Arjuna menuju tempat duduknya. Saat hendak duduk, pak Bima memanggilnya. Sontak membuat semua terkejut, takut pak Bima marah.
"Jangan tegang begitu! Kamu jadi kelihatan lebih ganteng kalau rambutnya rapi begini! Saya jadi kalah gantengnya sekarang!" Semua murid.
"Wooh ...!" Mereka menjawab serentak.
"Stt ... berisik! Lanjutkan" Arjuna hanya tersenyum dan semua orang melanjutkan tugas mereka. Arjuna tetap menyimpan pulpen pemberian Salma. Bahkan ia memakainya saat sedang ulangan.
Jam istirahat berbunyi.
Shinta menghampiri kelas Arjuna, Shinta juga ramah ia sering kali tersenyum setiap bertemu dengan Salma. Tapi Salma tidak pernah merespon. Ia merasa Shinta adalah ancaman terbesar bagi hidupnya. Bahkan Salma tidak pernah menjawab setiap pertanyaan Shinta. Arjuna yang melihat sikap Salma yang sedikit kasar kepada Shinta, Arjuna merasa tidak suka dengan sikap Salma. Shinta memberikan sebuah bolu kukus pelangi kepada Salma. Tapi Salma tidak sengaja menjatuhkannya. Arjuna yang melihat kejadian itu, merasa perlakuan Salma sudah tidak baik. Arjuna beranjak dari duduknya dengan wajah yang merah, Revan, Indra dan Shinta tahu bahwa Arjuna sedang marah.
"Loe, gak bisa seenaknya bersikap begini! Jangan mentang-mentang loe anak orang kaya biasa seenaknya saja memperlakukan orang lain seenaknya saja!" Salma terkejut mendengar ucapan Arjuna dengan nada yang tinggi. Salma sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Revan dan temannya berusaha untuk menenangkan Arjuna.
Tia dan Rena yang melihat kejadian itu, langsung menarik tangan Salma. Rena terlihat sangat marah.
" Cukup Arjuna kamu udah keterlaluan! Nyakitin perasaan aku, kadang aku begitu yakin kalau kamu juga menyukai aku, tapi terkadang aku merasa sangat sakit. Terkadang kamu membuatku merasa seperti ratu, tapi kamu juga membuatku seperti pembantu! Kamu tidak tahu kalau aku tidak sengaja menjatuhkannya, tapi kamu seenaknya menyalahkan aku. Cukup aku tidak akan pernah menganggap kamu ada. Sudah cukup air mata ini, bahkan sudah kering" Salma pergi bersama kedua sahabatnya. Revan mengejar Salma.
"Kenapa kamu tidak bertanya sebelum marah! Kamu tidak sepantasnya berbicara dengan sinis terhadap Salma yang sudah bersusah payah meluluhkan hati kamu! Tadi dia tidak sengaja menjatuhkannya. Aku yakin Salma orang yang tulus" Shinta berusaha meredam emosi Arjuna. Sedangkan Arjuna merasa bersalah dengan sikapnya terhadap Salma. Indra merasa sikap Arjuna karena cemburu berat terhadap Revan.
Salma terdiam membisu, kedua sahabatnya mengusap punggungnya. Mereka mengerti perasaan Salma.
****
Setiap hari selama ulangan. Salma tidak pernah bertanya apapun lagi kepada Arjuna, tidak pernah mengeluh apapun, bahkan ia tidak menatap wajah Arjuna sedikitpun.
Arjuna merasa sangat bersalah, ia berusaha untuk meminta maaf. Saat jam pulang, Arjuna menarik tangannya.
__ADS_1
"Please, aku minta maaf! Aku gak sanggup lihat kamu begini. Aku merasa kehilangan sosok Salma yang cerewet dan perhatian!" Arjuna memelas.
"Aku gak bisa maafin kamu! Aku capek maafin kamu. Percuma dimaafin pasti gitu lagi! Aku udah gak bisa sabar lagi. Asal kamu tahu, dulu aku selalu memiliki harapan agar aku selalu semangat, tapi kamu telah menghancurkan semua harapan itu!" Salma terlihat sangat serius dan ia benar-benar tidak bisa memaafkan kesalahan Arjuna.