Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Siapa dia


__ADS_3

"Kenapa sih emang! Aku gak akan pernah ngejauhin kamu apapun itu!" Revan berusaha menyakinkan.


"Tidak, belum saatnya kamu tahu semuanya!" Revan hanya tersenyum, ia menganggukkan kepala tanda setuju. Mereka berbincang-bincang, Revan akhirnya bisa melupakan semua kenangan tentang perasaannya kepada Rena. Revan pulang seperti biasa. Arjuna sudah menunggu dengan cemas.


Revan tidak pernah membicarakan siapa gadis yang sering ia temui itu, Arjuna juga tidak bisa memaksa Revan untuk bicara. Yang penting sekarang Revan sudah kembali ceria, meskipun Arjuna tidak tahu siapa gadis itu, setidaknya senyuman tampan dari wajah Revan terlihat sangat jelas. Arjuna kemudian melakukan video call bersama, Rena, Indra, dan Salma. Mereka membicarakan tentang siapa gadis yang belakangan ini membuat Revan bahagia.


"Guys, apa kita sambung kepada Tia, kenapa dia tidak ada kabar!" Salma mulai cemas.


"Iya, aku telepon juga gak diangkat, aneh banget!" Rena mulai mencemaskan keadaan Tia.


Tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk ke handphone Indra, ternyata itu pesan dari Tia. Bahwa ia baru pulang dari kampung karena ada acara keluarga dan tidak ada sinyal dikampung, jadi ia tidak bisa menghubungi siapapun. Mereka bisa bernafas lega karena Tia si tukang makan akhirnya pulang. Mereka menyambungkan jaringan video call bersama Tia. Tia sudah ketinggalan banyak cerita, mereka semua tertawa bersama. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tidur, karena waktu sudah pukul jam dua belas malam.


*****


Keesokan harinya, Tia masuk sekolah seperti biasa. Rena dan Salma berlari memeluk tubuh Tia, mereka memang sangat bersahabat. Suka dan duka telah mereka lewati bersama. Jam sekolah masuk. Revan tengah duduk di kursi dekat taman. Ia melihat Glen menghampiri Rena, sepertinya Glen sengaja membuat Revan cemburu. Revan hanya menatap dengan tatapan kosong, ia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia masih mencintai Rena. Rena seperti tidak peduli dengan perasaan Revan, Indra dan Arjuna yang melihatnya merasa tidak nyaman. Mereka kasihan jika Revan harus melihat Glen dan Rena bersama. Indra dan Arjuna membawa makanan favorit Revan, tapi Revan hanya terdiam membisu ia tidak merespon sedikitpun.


"Jatuh cinta itu menyakitkan apalagi jika cinta kita hanya sepihak, lebih baik melupakan dari pada harus menderita" Arjuna mencoba memberikan sebuah nasehat.


"Udah kalian terlalu serius! Siapa juga yang masih berharap, aku berusaha untuk move on!" Revan menjawab dengan penuh keyakinan. Kedua sahabatnya hanya tersenyum.


"Ngomong-ngomong siapa sih! Tumben banget gak cerita sama sekali!" Revan menggelengkan kepalanya.


"Belum saatnya!" Kedua sahabatnya hanya tersenyum penuh arti dan mereka memiliki rencana untuk menguntit saat Revan pulang sekolah. Salma mengajak makan mie ayam favoritnya, bersama sahabatnya itu, Revan juga ikut. Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri mereka. Pria itu dari sekolah lain. Kelas dua belas, di SMA sebelah. Satu sekolah dengan Riko.


"Hai, kamu Salma kan?" Pria itu mendekati Salma, wajahnya masih dan memiliki lesung pipi, terlihat sangat ramah dan berkharisma. Semua orang tertuju kepada pria tersebut, termasuk Salma. Iya langsung mengganguk.


"Aku Farel, masih ingat kan! Gimana kabarnya?" Pria itu bertanya lagi, Salma sempat ragu untuk menjawabnya, Salma terdiam berpikir, lalu ia Ingat siapa pria tersebut. Dan ia begitu antusias, Arjuna yang mulai tidak nyaman.


"Iya inget kok! Heh, gimana kabarnya? Alhamdulillah kalau aku sehat, sekarang udah berubah ya, sebentar lagi lulus sekolah dong? Ayo duduk bersama!" Farel melihat kursi dan menariknya ke dekat Salma. Arjuna nampak cemburu melihat Farel dan Salma yang mengobrol dengan akrab. Indra dan Revan, mengusap punggung Arjuna.


"Oh iya kenalin ini temen-temen aku, ini Revan, Indra dan ini ..." Arjuna langsung menjabat tangannya sebelum Salma melanjutkan pembicaraannya.


"Kenalin gue pacarnya Salma!" Ia menjawab dengan merengutkan keningnya. Farel hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kalian akrab banget kayanya! Emang kalian udah lama kenal?" Arjuna sedikit sinis.


"Iya, kami kenal lama sejak Salma pindah ke Jakarta lagi!"


"Hmm begitu, emang loe gak suka sama cewek secantik Salma!" Farel tersenyum, Salma mencubit tangan Arjuna.


"Hmm ... maaf ya! Kalau pacarku kurang sopan sama kakak!" Salma menundukkan kepalanya.


"Hmm ... ya kalau boleh jujur aku memang menyukai Salma sejak dulu, sayang Salma keburu pindah ke Bandung, dan takdir mempertemukan kami lagi secara tidak sengaja" Arjuna mulai memanas, rasanya ia ingin sekali memukul wajahnya itu.


"Kakak, cuma bercanda kan ya!" Salma berusaha menenangkan dengan memegang tangan Arjuna.


"Sudahlah jangan begitu serius! Aku hanya bercanda, lagian kan Salma juga sudah memiliki pria yang sayang sama dia, oh iya aku pergi dulu ya, ada acara lain, dah Salma!" Ia pergi sambil melambaikan tangannya. Salma juga tersenyum.


"Itu mantan kamu?" Tanya Arjuna yang sedikit serius.


"Gawat euy bisa perang dunia ketiga ini mah!" Indra membisikkan kata-kata kepada Revan, Revan hanya tersenyum.


"Gak kok! Cuma sebatas kakak kelas dan adik kelas aja!" Salma menjawab dengan sedikit grogi.


"Udah mendingan pesen makan sekarang udah laper nih! Iya gak Dra?"


"Yoi, ayo pesen!" Indra memesan makanan dan mereka makan bersama, meskipun wajah Arjuna sedikit kesal.


"Lihat orang kesel aja bisa abis!" Indra mulai bercanda.


"Apaan sih loe! Gue kan laper!" Arjuna mulai tersenyum. Salma tahu jika Arjuna sedang marah. Mereka pun pulang.


"Revan, tumben loe gak ketemu bidadari cantik loe!" Revan hanya tersenyum.


"Katanya hari ini dia gak bisa, dia bisanya besok!" Indra sudah punya rencana besok untuk mengikuti dari belakang.


"Arjuna kamu masih marah sama aku?" Salma berbicara didekat telinga Arjuna yang sedang mengendarai motor.

__ADS_1


"Gak. Ngapain juga harus marah!" Dengan ekspresi wajah yang datar.


Setelah sampai di depan rumah Salma, Arjuna tidak masuk. Ia diam di teras rumah. Dirumah Salma hanya ada Ferdy dan asisten rumah tangga. Salma berganti pakaian dan segera membawa sebuah minuman.


Arjuna yang tampak serius memainkan game di handphone.


"Ini minuman cokelat kesukaan kamu!" Salma menyodorkan ke arah Arjuna. Arjuna tidak merespon sedikitpun ia fokus dengan handphonenya.


"Ih, ngeselin banget sih!" Salma mengambil handphone tersebut dengan wajah yang sinis.


"Aduh kok diambil sih! Iya deh aku minta maaf, aku salah udah terlalu sibuk dengan handphone" Arjuna memegang tangan Salma yang cemberut dan berlinang air mata.


"Udah jangan nangis nanti cantiknya ilang!" Arjuna mengusap wajah Salma.


"Iya udah aku minum ya! Kamu juga minum, ayo!" Arjuna menyuapi dengan sendok teh.


"Aku pikir kamu marah sama aku!"


"Gak kok! Ngapain juga harus marah, lagian wajar saja kalau ada yang suka sama kamu, kamu kan cantik" Salma mulai tersenyum.


"Aku bukan tipe orang yang gampang marah, ya kalau cemburu ya wajar sih! Tapi jangan kamu yang centil sama cowok lain" Salma mencubit perut Arjuna. Mereka tertawa bersama.


****


Keesokan harinya, Arjuna dan Indra mengikuti Revan dari belakang. Kebetulan Salma ada acara bersama kedua sahabatnya.


Revan menghampiri Kirana yang sudah duduk menunggunya.


"Kirana, kamu kenapa?" Wajah Kirana memar berwarna biru, dan lecet disekitar tangannya.


"Gak, aku cuma terjatuh kemarin! Aku gak apa-apa kok!" Revan mulai cemas.


"Siapa yang ngelakuin semua ini sama kamu?" Revan bertanya dengan cemas.

__ADS_1


Indra dan Arjuna yang mengintip di balik pohon besar.


"Pantesan atuh geulis pisan euy!" Ucap Indra dengan pelan. Arjuna hanya fokus mendengar percakapan mereka berdua.


__ADS_2