
"Bagus banget akting kalian! Cocok kalian jadi pasangan!" Indra sambil menyenggol lengan Revan.
"Iya bener tapi sayang sudah ada yang punya!" Ucap Revan dengan tersenyum tipis.
"Ah lagian, aku sama Revan cuma temen gak lebih kok! Aku kan udah punya Glen" Revan sedikit kesal mendengar ucapan Rena yang memuji pacarnya.
"Jadi, cincin yang tadi aku lihat bukan buat Shinta kan!" Tanya Salma penuh harap.
"Jadi kamu udah lihat isi kotaknya!" Arjuna menjawab dengan merengutkan keningnya.
"Hmm ... maaf tadi gak sengaja!" Salma sedikit mundur.
"Iya itu buat kamu, aku sengaja pesen sebelum berangkat! Hasil dari uang kerja aku"
"Hmm so sweet banget sih!" Tia memeluk Rena.
"Halah bucin!" Indra syirik karena kejombloannya.
"Ah ... dasar jomblo!" Tia dan Rena mengusap wajah Indra. Semua orang tertawa.
Suara telepon seluler berdering.
Drett ... dreet ... dreet ...
Rena mengangkatnya, ternyata itu dari Glen pacarnya Rena.
"Guys ... aku pulang duluan Glen udah nungguin aku!" Semua temannya menganggukan kepalanya.
"Hati-hati ya!" Serentak. Revan menyusul.
"Rena, aku anterin sampai depan!" Rena menyetujui permintaan Revan. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Makasih banyak ya buat semua bantuan kamu! Berkat bantuan kamu akhirnya Arjuna dan Salma bisa bersatu!" Revan hanya tersenyum, ia tidak menjawab sepatah katapun.
"Aku pikir kamu marah, atas penolakan aku waktu itu!" Revan menghentikan langkahnya. Dan memandang wajah Rena, ia menarik nafas panjang.
"Gimana aku bisa marah sama kamu? Aku suka banget! Ya walaupun kadang aku suka putus asa sendiri, tapi aku juga gak bisa maksain kamu, apalagi kamu udah punya Glen!" Rena tersenyum.
__ADS_1
"Mana tangan kamu!" Rena menyodorkan tangannya kepada Revan, Revan merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebuah gelang yang sangat indah. Dan memasangkan gelang itu.
"Buat aku!" Rena masih terpana dengan gelang itu, Rena memang ingin gelang itu waktu mereka masih di Garut. Sepertinya Revan mengerti dan membelinya untuk Rena. Rena terlihat sangat bahagia Revan sangat pengertian.
"Makasih banyak ya, kamu emang perhatian banget. Kita tetap berteman kan!" Sebenarnya hancur hati Revan mendengar pernyataan Rena tapi apa boleh buat. Mereka berjabat tangan, didepan Glen sudah menunggu. Ia membawa sebuah mobil berwarna merah, memakai jaket hitam dan celana jeans biru. Lumayan tampan, tapi tidak setampan Arjuna dan Revan. Dan sudah sedikit dewasa, tentunya bukan anak sekolah. Ia sudah kuliah.
"Hai, gue Glen! Elo temennya Rena!" Revan membalas jabatan itu, dengan wajah yang datar. Revan hanya menggauk datar. Ia masuk kembali ke dalam.
Rena masuk ke dalam mobil dengan penuh semangat, ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Glen setelah setahun ia pergi ke luar negeri. Tapi wajah Glen berubah mendadak seperti orang yang sedang marah. Glen memakir mobilnya, ia menarik setir mobil. Dan mulai berbicara dengan nada yang datar.
"Siapa tadi? Kayanya akrab banget! Apa selama aku di luar negeri, kamu pacaran sama Revan?" Glen bertanya dengan wajah yang datar, alis mata yang merenggut, dengan bibir yang sinis. Pertanyaan itu sontak membuat Rena merasa terkejut. Ia menyangkalnya dengan tegas.
"Aku gak ada hubungan apapun dengan Revan, kami cuma teman, gak lebih! Please kamu percaya sama aku? Aku gak mungkin nge khianatin kamu" Rena menjawab, sambil memegang lengan Glen. Glen tetap dengan wajah yang sinis. Sepertinya tidak percaya dengan ucapan Rena.
"Tatapan mata Revan itu beda, aku lelaki tahu tatapan itu! Udahlah gak usah terlalu membela diri, secara aku di luar negeri, LDR sama kamu. Membuat kamu kesepian, dengan adanya Revan itu pasti membuat kamu nyaman, iya kan!" Rena menggelengkan kepalanya.
"Aku udah ngomong jujur sama kamu! Please, kamu percaya sama aku!" Rena terus menyakinkan ucapannya. Glen sepertinya sudah terlanjur cemburu. Ia menghentikan mobilnya ke arah sisi. Ia menatap dengan penuh emosi, ia memegang lengan Rena dengan erat.
"Ingat ya. Aku paling gak suka di bohongi! Ini gelang dari siapa! Oh dari cowok yang tadi!" Hingga membuat Rena kesakitan. Rena mulai berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Glen.
"Aw ... sakit!" Rena mulai menangis.
Glen mulai tersadar dari amarahnya, ia melepaskan tangannya. Dan melihat wajah Rena yang menangis, serta tangannya yang merah.
"Maaf, aku gak sengaja! Aku terlalu cemburu" Ia mengusap lengan Rena yang memerah, dan mengusap air mata Rena.
"Please, aku gak mau kalau kamu nyakitin aku! Maaf kalau aku terlalu keras" Glen mulai merasa bersalah. Akhirnya Glen mengantarkan Rena pulang. Rena akan selalu memaafkan kesalahannya, karena ia sangat mencintai Glen. Bahkan rela menunggu Glen pulang dari luar negeri.
*****
Revan duduk di kursi, dengan wajah yang lesuh, ia menyenderkan tubuhnya di sofa rumah sakit. Teman-temannya menatap dengan heran, Indra menghampiri, dengan menepuk bahu kirinya.
"Hey bro, kenapa sih melamun! Aya naon! Ada apa?" Indra berusaha untuk mencairkan suasana. Revan hanya terdiam, ia tidak bersemangat untuk menjawab pertanyaan Indra.
"Eleh ... iye mah namanya patah tulang!" Spontan semua temannya menjawab kesalahan Indra.
"Patah hati!" Ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
Revan mulai tersenyum kembali.
"Tuh pan! Cek saya ge apa! Bakal ketawa dei Tah si kasep (ganteng) Revan teh!" Semua orang tertawa.
"Ada apa sih! Tadi sih nganterin cewek yang disukai ketemu sama pacarnya! Itu mah nyiksa diri sendiri atuh! Ah, apalah dayaku jelema goreng patut kie coba, saha nu rek resepna Oge, da moal Aya coba! (Apalah dayaku, orang jelek begini, siapa juga yang mau suka). Kamu mah ganteng banget pokoknya mah, mirip Lee min hoo lah! Banyak cewek yang ngejar kamu! Nah, ari aku, saha nu ngudak na ge, jurig nu aya ge sienen!" Revan menepuk pundak Indra.(Nah, kalau aku siapa yang ngejar-ngejar, hantu juga takut kayanya)
" Ah bisa aja!" Semua orang tertawa bersama. Tidak lama. Orang tua Revan datang.
"Kalian pulang ya, dokter bilang kalau Arjuna sakit typus, harus dirawat dua sampai tiga hari. Semoga cepat sembuh biar bisa pulang!" Ucap Mamah Revan, sambil mengusap kepala Arjuna yang sedang berbaring di kasur.
"Iya Tante, kita pulang dulu!" Ucap mereka bersamaan.
Salma menghampiri Arjuna.
"Besok aku kesini lagi, kamu baik-baik ya!" Arjuna tersenyum dan mengangguk.
"Kamu juga pulang Revan! Besok kan masuk sekolah, jangan bolos! Biar Mama aja ya!"
Revan menggagukan kepalanya, dengan berjalan bersama temannya untuk pulang. Mereka mulai berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya. Revan melihat Rena ditaman sendirian. Ia terlihat sedang memegang lengan tangannya. Revan menghampiri.
"Hey!" Revan membuat Rena terkejut dan segera menyembunyikan lengannya yang memar. Revan langsung terfokus kepada lengan Rena yang tersembunyi di balik jaket, abunya.
"Ada apa sih!" Ucap Revan penasaran, Revan berusaha untuk melihat lengannya.
"Gak ada apa-apa kok!" Rena berusaha untuk tetap menyembunyikan lengannya dibalik jaketnya.
Revan merasa curiga, ia menarik tangan Rena. Betapa terkejutnya, Revan melihat lengan tangan Rena yang memar, berwarna biru, membulat penuh.
"Ini kenapa?" Tanyanya cemas.
"Lepasin! Bukan urusan kamu!"
"Urusan guelah!"
"Berhenti ikut campur urusan hidup aku lagi!" Rena pergi begitu saja dengan wajah yang marah.
__ADS_1
"Gue tahu siapa pelakunya! Gue akan buat perhitungan!" Gumamnya pelan, dengan mengepalkan tangannya.