Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Hancur


__ADS_3

"Pasti ada sesuatu?" Salma menatap wajah ayahnya.


"Oh, iya besok kita akan kedatangan tamu penting! Kamu harus masak yang enak, besok hari Minggu" Ayah pergi menuju kamarnya. Salma bingung siapa maksud ayahnya.


*****


Dret ... dret ... dret


Handphone Salma berbunyi, tanda WhatsApp masuk. Dengan muka setengah terbuka ada seseorang yang yang mengirimkan pesan.


"Siapa coba pagi buta begini, pasti Revan. Malesin!"


[Assalamualaikum ... Salma maaf, tolong bilangin ke ayahmu, teleponnya angkat, karena aku ada perlu terima kasih By. Arjuna]


Seketika itu ia langsung melotot dan loncat kegirangan, ternyata itu pesan dari Arjuna. Ia memeluk handphone nya. Ini pertama kali Arjuna mengirim sebuah pesan, karena sebelumnya ia tidak pernah membalas pesannya. Walaupun cuma masalah kerjaan.


"Aduh balas apa ya?" Salma kebingungan, ia meminta pendapat dari temannya. Rena memberi saran agar tidak membalas pesannya, agar terlihat memiliki harga diri. Sedangkan Tia menyuruhnya untuk membalas. Salma jadi bingung.


"Salma ikut ayah ke Caffe ada yang ayah kenalkan ke kamu? Cepatlah siap-siap!" Salma berpikir pasti maksudnya adalah Arjuna. Ia tidak membalas pesannya dan ia pikir akan bertemu.


"Ayah beli mobil baru lagi!" Tanya Ferdy. Ayah hanya tersenyum dan Salma menghampiri, ikut senang, usaha ayahnya mulai maju lagi.


****


"Ayo masuk ke dalam" Ayah membuka pintu. Mereka berdua masuk ke dalam. Arjuna sedang sibuk dengan tamu-tamunya. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Salma. Salma menunggu di rooftop bersama adiknya Ferdy.


Husein menepuk pundak Arjuna yang sedang meracik.


"Hey Nak! Gimana hari ini, sepertinya ada peningkatan, apa perlu tambah karyawan baru?" Husein membantu meracik. Arjuna menghentikan pekerjaannya dan menatap dengan senyum dan penuh sopan santun.


"Alhamdulillah ada peningkatan sudah beberapa hari ini. Tapi jika Bapak ingin menambah karyawan baru, tidak apa-apa, silahkan saja, ini kan usaha bapak jadi gimana bapak saja! Tapi saya punya rekomendasi, Indra teman baik saya, ia sedang membantu" Arjuna menganggukkan kepalanya.


"Kamu, memang anak yang sopan dan jujur. Saya beruntung punya karyawan yang tekun, jujur dan sopan. Baiklah lanjutkan pekerjaannya. Saya akan ada tamu penting hari ini. Tolong nanti siapkan menu spesial. Nanti antar ke rooftop ya! Iya saya sudah mengobrol dengannya di telepon kemarin" Husein menepuk pundak Arjuna. Ia pergi, sedangkan Arjuna melanjutkan pekerjaannya kembali.

__ADS_1


Tak lama Pak Husein duduk bersama kedua anaknya. Mereka berbincang-bincang, sementara Salma masih berpikir dengan siapa yang akan dikenalkan dengan mereka.


"Ayah, Salma mau ke toilet dulu, soalnya kebelet. Hehe" Ayah hanya tersenyum, dan Salma berlari ke toilet yang berada di dekat pintu kerja. Setelah ia keluar dari toilet, ia sempat melirik Arjuna yang sedang sibuk. 'Ternyata aku masih sayang sama kamu!' ucapnya dalam hati.


Ia bergegas naik kembali. Ternyata ayahnya tengah mengobrol dengan tamu-tamunya.


"Nah ini anak saya! Perkenalkan namanya Salma" Salma terkejut, ternyata itu adalah Revan dan orang tuanya.


"Tante ...!" Salma bersalaman. Revan bahkan sempat terkejut melihat ternyata teman orang tuanya adalah orang tua Salma.


"Ternyata dunia ini memang sempit! Buktinya anak-anak kita memang saling kenal" ucap ayah Salma.


"Iya, benar. Dan ternyata mereka memang sedang berpacaran. Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka, maksudnya bertunangan!" Ucap ayah Revan.


Brang ...


suara nampan terjatuh. Ternyata itu adalah Arjuna sedang membawa, minuman. Ia menumpahkan segala yang ia pegang. Rasanya hancur seketika, ia tidak bisa mendengar kata-kata yang diucapkan oleh orang tua ini. Mereka tidak tahu bagaimana perasaan Arjuna yang sebenarnya. Semua mata tertuju padanya. Revan dan Salma Indra segera membantu kesulitan Arjuna. Ia sempat menundukkan badannya dan meminta maaf. Namun ia tidak bisa menahan perasaannya, ia terlihat sangat shock, bahkan tangannya gemetar. Indra berusaha menenangkan Arjuna dengan membawanya ke bawah.


"Please, Arjuna loe. Jangan nyiksa diri loe lagi. Gimana hancurnya hati loe sekarang. Kenapa loe gak jujur aja tentang perasaan loe yang sebenarnya. Revan pasti ngerti!" Arjuna terduduk di kursi, badannya tertunduk, ia memegang kepalanya.


"Mana Arjuna?" Tanya Bu Tantri, ibunya Revan. Mata mereka semua mencari Arjuna.


"Itu, Om, Tante. Arjuna lagi sakit perut katanya, lagi di toilet" wajah Indra berkeringat dingin, terpaksa ia harus berbohong. Salma terlihat sangat cemas.


"Apakah serius! Tante mau lihat dulu?" Tanyanya cemas.


"Oh, jangan tante, gak serius kok. Cuma sakit perut biasa aja kok!" Indra segera bergegas turun. Revan menghampiri.


"Hey, Arjuna mana!" tanya Revan bingung.


"I ... itu diare. Iya bener, lagi minum obat dulu" Wajah Indra terlihat sangat gugup.


"Loe kenapa sih. Gugup banget kayanya!" Revan menghampiri Indra.

__ADS_1


"Gak kok. Beneran mungkin efek capek hehe!" Indra tersenyum. Revan merasa heran ada sebenarnya.


Setelah selesai acara, mereka pulang. Bahkan tidak mengobrol dengan Arjuna, karena Arjuna nampak sibuk dengan Indra.


Ayah Salma, pulang lebih awal karena ada urusan lain. Salma tidak ikut pulang, ia ingin membantu Arjuna.


Arjuna menghampiri Salma yang sedang membersihkan meja. Ia juga ikut mengelap meja.


"Salma...!" Salma hanya terdiam, ia tidak sama sekali merespon.


"Salma, kenapa sih. Diem aja, tolong jawab, coba lihat aku!" Salma tetap optimis pada keputusannya untuk tetap diam dan jaim. Arjuna mulai tidak sadar, ia memegang kedua bahu Salma, dan memutarnya ke arah wajahnya.


Salma terkejut melihat wajah Arjuna secara dekat, dengan tatapan mata yang tajam.


'Ya Allah, gimana bisa ngelupain, wajahnya aja bikin klepek-klepek. Ingat Salma dia udah nyakitin loe. Pokoknya harus teguh pendirian, hatinya harus sekuat badai' ucapnya dalam hati. Salma berpura-pura tidak peduli dengan apa yang di ucapkan Arjuna. Tapi ia mengucapkan dengan sinis.


"Gimana rasanya di cuekin?" Tanya Salma dengan wajah yang serius dan jutek.


"Jadi, kamu mau balas dendam? Please maaf. Oke aku salah sama kamu. Tapi, tolong jangan terima permintaan orang tua Revan!" Jawabnya dengan wajah yang sedikit memelas.


"Iya kenapa alasannya! Lagian kan kamu tahu, aku juga udah jadian sama Revan, jadi wajar saja kalau aku tunangan sama Revan. Bukan urusan kamu?"


"Iya kan, kamu bisa bilang kalau kamu masih sekolah, mau fokus belajar. Tapi aku berharap kamu gak nerima dia?"


"Alasan kamu itu gak masuk akal! Aku gak suka sama cowok yang cuma PHP aja!"


"Oke. Aku tanya sama kamu! Masihkah ada aku di hatimu?" Salma terkejut mendengar ucapan Arjuna.


"Enggak ...!" Jawabnya tegas.


"Kamu yakin! Kamu udah ngelupain aku, semudah itu?" Salma berbalik membelakangi Arjuna.


"Yakin ... Sekali lagi aku tanya. Kamu udah gak ada rasa sama aku? Aku cuma mau kamu jawab jujur aja walaupun nyakitin. Setelah pertanyaan ini, aku tak akan nanya apapun lagi?"

__ADS_1


Salma terdiam sejenak, matanya berlinang air mata. Ia tidak sanggup lagi menahan perasaannya, ia sadar tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya.


__ADS_2