
Kedua sahabatnya melihat apa yang akan diucapkan oleh Salma. Tapi Rena membisikkan sesuatu kepada Salma tentang jawaban tersebut.
Salma menjawab pertanyaan Revan.
"Iya, aku mau" Deg jantung Arjuna terasa sakit, entah mengapa. Salma melihat Arjuna, tatapannya kosong. Salma berharap bahwa Arjuna bisa menghentikan waktu hanya dia dan Salma.
'Kenapa sih sekali saja tatap aku penuh cinta, coba kamu yang nembak pasti senang banget, cuma khayalan tingkat dewa' ujarnya dalam hati.
"Tapi tolong berubah jangan jadi playboy lagi, dan jangan sakiti aku seperti Arjuna" Revan menggenggam tangan Salma.
"Aku janji akan berubah. Makasih ya"
Arjuna merasa sangat sakit, tiba-tiba saja ia pergi. Indra sangat mengerti perasaan Arjuna. Rena merasa aneh dengan tatapan mata dan sikap Arjuna.
*****
Saat jam sekolah.
"Aduh ... aku kebelet pipis, tunggu sebentar aja ya" Salma berlari ke toilet dan kedua temannya menunggu di depan gerbang. Revan mencari Salma.
Salma keluar dari toilet ada yang sedang menunggunya, lima orang gadis seniornya.
"Maaf aku mau lewat!" Mereka menghalangi jalan Salma. Mereka mendorong tubuh Salma ke tembok.
"Aww ... sakit. Kenapa sih kalian! Apa salahku?" Tanya Salma heran.
"Mikir dong salah loe apa! Loe udah ngerebut Arjuna. Arjuna cuma punya kak Shinta. Emang kita gak tahu, loe ngejar-ngejar dia sampai nganterin loe malam kemarin. Sekarang loe ambil pangeran sekolah kita!" Mereka tertawa jahat.
__ADS_1
"Maksudnya?" Salma memang jago bela diri, tapi hari ini ia tidak mempunyai kekuatan, tubuhnya lemas karena ia sedang galau. Mereka menyerang dua orang memegang tangan kiri kanan, hingga ia tidak mampu bergerak. Menjambak rambut dan mengeluarkan sebuah gunting. Salah satu dari mereka akan memotong rambutnya, saat gunting melayang. Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Salma dari arah depan, hingga rambutnya yang tergunting. Ternyata itu adalah Arjuna, rambut keramatnya akhirnya tergunting demi Salma.
Brakk ... rambut keramat Arjuna terjatuh. Menyadari hal itu mereka kabur. Ternyata mereka dari sekolah lain, sudah lama mengincar Salma. Itulah yang di khawatirkan Rena menjadi kenyataan.
Pelukan hangat dari Arjuna terasa mengobati hatinya yang sakit, Arjuna melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Salma. Ini kali pertama Arjuna bersikap manis, bahkan tatapan penuh kawatir.
"Kamu tidak apa-apa kan! Ada yang luka gak?" Tanyanya cemas.
Salma merasa senang melihat Arjuna yang mencemaskan.
'Ada hikmahnya juga, aku gak melawan, hehehe' Ujarnya dalam hati sambil mesem-mesem sendiri.
Tak lama Revan, Rena dan Tia menghampiri. Revan merasa cemburu ia segera bergegas menghampiri Salma. Arjuna terdiam sejenak ia pergi berlalu. Rena mulai curiga dengan sikap Arjuna. Ia pikir akan bertanya kepada Indra besok.
Salma menceritakan tentang kejadiannya, kepada mereka bertiga. Sementara itu Rena melihat rambut Arjuna yang telah terpotong.
Arjuna pulang bareng dengan Indra, sedangkan Revan tetap bersama Salma.
Arjuna kerja part time di sebuah caffe dekat kota Bandung. 'Caffe barista coffe latte'. Arjuna bekerja setelah pulang sekolah, Indra tetap setia mengantarkan kerja. Arjuna memang seorang anak yang bekerja keras, beda dengan Revan yang manja. Indra tahu betul bagaimana Arjuna. Karena Arjuna adalah orang yang pernah membayar biaya rumah sakit ibunya, dengan uang tabungannya.
Sehingga tidak banyak yang tahu bagaimana sifat asli dari seorang Arjuna. Karena Arjuna tidak pernah ingin orang lain tahu.
'Arjuna loe tuh orang baik, tapi gak pernah ada orang yang tahu selain gue. Loe orang yang sangat tertutup bahkan dengan Revan sekalipun' Indra berbicara dalam hatinya.
Indra pamit pulang kepada Arjuna, ternyata ada Revan dan Salma CS. Mereka semua terkejut melihat Indra. Indra lebih terkejut lagi apa yang harus ia lakukan agar mereka tidak tahu bila Arjuna bekerja di Caffe ini. Wajahnya nampak begitu cemas. Arjuna bukan gengsi tapi ia tidak ingin orang melihatnya bekerja paruh waktu. Indra takut apa yang akan dipikirkan oleh temannya.
"Hey, biasa aja sih! Muka loe tegang banget kayak orang ketemu rentenir aja!" Tanya Revan heran, mereka mendekati pintu masuk. Indra menghalangi jalan masuk.
__ADS_1
"Tunggu dulu!" Indra berada tepat di depan pintu masuk, dengan tangan terbuka di dadanya.
"Kenapa sih loe? Aneh banget sih, awas kita mau masuk ke dalam" Indra menahan pintu masuk.
"Bukan gitu ih! Disini gak enak makanya aku nyuruh kalian nyari tempat lain aja!" Salma melotot.
"Heh jangan sembarangan ngomong! Ini caffe punya ayahku. Awas!" Salma mendorong tubuh Indra hingga tersungkur ke dalam, Indra menelan ludah kecemasan.
"Indra, kenapa kok berisik banget" Tanya suara yang tidak asing. Salma dan yang lainnya melihat Arjuna sedang mengelap meja barista, dengan celemek hitam, baju biru dongker rambutnya yang rapi, terbelah kepinggir, begitu tampan.
Terutama Salma yang melihatnya merasa melihat sebuah pelangi setelah hujan badai, ini kali pertama melihat Arjuna dengan rambutnya yang rapi. Arjuna menatap mereka dengan tersenyum manis dan berkata.
"Silahkan duduk mau pesan apa?" Salma yang menghampiri dan memesan minuman. Saat Arjuna berbicara dan menjelaskan produk minuman, Salma hanya terdiam membisu tersenyum. Ia tidak menyimak apa yang di ucapkan Arjuna, ia hanya fokus melihat wajahnya yang tampan dan mempesona. Kamu itu emang gula dan aku semut. Ujarnya dalam hati. Arjuna mengibaskan tangannya ke wajah Salma yang terlihat bengong sejak tadi.
"Hello ... jadi mau pesan apa?" Tanyanya dengan ramah.
Revan menghampiri dan memesan minuman. Salma duduk di kursi dengan para sahabatnya. Entah apa yang di obrolkan oleh Revan kepada Arjuna, mereka nampak tertawa, terutama Indra yang selalu tertawa geli.
"Hey, bengong aja. Ngelamunin apa sih! Kamu lihatin pacar kamu Revan atau si Arjuna?" Tanya Rena.
"Gak kok!" Salma senyum sendiri.
Tia seperti sedang sibuk-sibuknya dengan handphonenya, bahkan ia menghampiri dan memotret Arjuna yang sedang meracik minuman, lalu ia menulis status di jejaring sosial. Facebook unggahnya 'Gimana cocok gak, aku dan barista tampan ini' unggahan Tia, dibanjiri komentar dan like ribuan. Mereka menanyakan alamat Caffe tersebut. Salma dan Rena menatap ke arah Tia yang melihat postingan di Facebook. Tia hanya tersenyum.
"Gak apa-apa kan! Salma kita bersaing secara sehat hehe ... Arjuna terlihat sangat tampan seribu persen dengan rambut barunya! Lagian kan sekarang kamu udah jadian sama Revan, jadi aku bebas ya" Tia berbicara tanpa menghela nafas.
"Tapi, kalau mereka kesini kan ribet! Kasihan Arjuna harus menghadapi cewek gak jelas kaya loe!" ucap Rena. Tak lama minuman pun datang di antar oleh Arjuna sendiri. Memang baru dan masih sepi, jadi ayah Salma tidak bisa merekrut karyawan baru selain Arjuna yang setia membantu, kebetulan ayah Salma sedang pergi, jadi hanya Arjuna sendirian di Caffe.
__ADS_1
Tak lama kemudian banyak gadis yang masuk ke dalam Caffe. Semua mata tertuju pada pintu masuk, begitu banyak anak sekolah yang datang, sebelum akhirnya Rena dan Salma menatap kedua mata Tia yang ember telah membocorkan alamat caffe. Arjuna mana sanggup untuk melayani puluhan gadis sendirian. Semua orang terkejut dan bengong seketika.