Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Bekal cinta


__ADS_3

"Entah mengapa baru tadi merasakan bahagia dengan keputusan Arjuna sekarang sesakit ini!" Ucapnya sambil menendang kaleng bekas yang berada di depannya.


"Kenapa sih kamu masih aja suka sama Arjuna? Jelas-jelas sudah di tolak mentah-mentah! Kalau aku sih, mana mau ngejar yang gak pasti!" Ucapnya dengan tersenyum manis sambil meneguk minuman cokelat. Salma terdiam sejenak.


"Emang kenapa! Salah, kalau aku suka sama dia! Seandainya aku bisa memilih aku lebih baik tidak bertemu lagi dengannya. Udah lupa, eh ketemu lagi gimana coba!" Salma berbicara dengan menundukkan kepalanya, sambil menggesekkan kakinya ke tanah.


Revan tersenyum ia memegang dagu Salma yang tertunduk, ia menatap sambil menggelengkan kepala Salma.


"Tapi, aku pikir-pikir kamu lumayan manis. Hmm ... sungguh aku salut buat perjuangan kamu! Karena cuma kamu cewe yang, galak dan penuh ambisi yang mau ngejar Arjuna. Cewek lain udah baper. Ya, boleh dibilang cewek lain ngejar Arjuna atau aku, dengan cara yang sama, misalnya cuma ada maunya aja gitu! Dan gampang nyerah, sedangkan kamu itu berbeda" Revan melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang dagu Salma, Salma yang terdiam sejak tadi mendengar ucapan Revan.


"Maksudnya!" Tanya Salma heran ia menggaruk kepalanya.


"Hmm ... iya suka aja cara kamu ngejar Arjuna! Ngasih perhatian, tahu makanan favoritnya setiap hari, sampai sedetail itu, selalu menjadi pelindung nya dikala Juna dalam masalah, kaya waktu Juna mau dipotong rambut keramatnya, sumpah itu konyol. Kenapa kamu gak ngelakuin itu sama aku? Coba aja kalau kamu ngelakuin hal itu ke aku. Pasti aku udah balas rasa cinta kamu" Ia menatap wajah Salma dengan penuh semangat. Salma merasa terjebak dalam situasi yang rumit entah mengapa kata-kata yang diucapkan oleh Revan ada benarnya juga. Dikala dia merasa sakit hati oleh Arjuna, Revan menarik perhatian, bahkan Revan selalu ramah terhadap nya. Tapi hatinya tidak bisa berdusta.


"Ma ... af aku, tetep suka sama Arjuna" jawabnya tegas dan sangat bersemangat.


Revan tersenyum menarik nafas panjang.


"Iya, bercanda lagi! Udah jangan dipikirin. Mana juga kamu suka sama aku? Ini ada minuman buatan Arjuna!" Revan menyodorkan minuman itu.


"Wah serius!" Ia begitu bersemangat mengambil minuman itu. Matanya berbinar-binar penuh haru.


"Iya, gak banyak yang tahu Arjuna telah membuat minuman cokelat ini! Dia itu tipe orang yang bekerja keras, Arjuna tidak begitu akrab dengan ayahnya, makanya ia selalu menginap di rumahku atau dirumah Aldi"


"Oh begitu, kenapa?" Tanyanya heran.


"Nanti juga tahu sendiri, Arjuna selalu bercita-cita menjadi perenang hebat. Kamu tahu sendiri Arjuna tidak pernah menyakiti hati perempuan. Aku yakin alasan dia nolak kamu cuma satu dia gak mau pacaran sama kamu karena terpaksa dan itu nyakitin perasaan kamu! Dia gak seburuk itu"


Tidak lama Rena datang.


"Hey, dicariin juga" Rena menarik tangannya dan tidak menatap wajah Revan sedetik pun.


Revan tersenyum sambil melambaikan tangan.


"Aduh ... kenapa sih! Aku kan gak enak sama Revan" Salma sedikit menggurutu.


"Salma denger ya. Aku tidak suka sama si Arjuna CS apalagi si playboy Revan" Rena berusaha menyakinkan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi kenapa?" Tanyanya bingung.


"Ah aku males jawabnya, nanti juga tahu sendiri" wajah Rena seperti sedikit emosi. (sepertinya banyak misteri di sekolah ini) ujarnya dalam hati.


"Kenapa sih kamu gak lupain aja tuh si Arjuna! Si Arjuna kan udah di comblangin sama murid disini" Salma menatap wajah Rena. Ia memengang ke dua bahu Rena.


"Sama siapa? Jadi aku punya saingan berat maksudnya!" Tanyanya heran.


"Iya ... tadi cewek cantik yang sempurna dari keluarga terpandang, dia udah dijodohkan dengan Arjuna oleh nitizen di sekolah ini. Hati-hati Shinta banyak fansnya bisa-bisa kamu dalam bahaya" ucapnya tegas.


"Tapi aku gak takut! Biarpun ada ribuan Shinta didunia ini, aku gak akan takut" jawabnya tegas.


"Terserah kamu aja! Keras kepala" Rena menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku temannya itu.


****


Di dalam kamar, ia terus menatap botol minum cokelat yang diberikan oleh Revan. Karena itu buatan Arjuna ia tidak pernah membuang botolnya. Semakin ia kagum dengan Arjuna, semakin ia suka. Saat ia sedang melamun terdengar suara motor. Ia melihat dari arah jendela.


"Kayanya kenal motor siapa! Hmm tapi dimana" ia bergegas turun dari kamarnya dan keluar. Ternyata adiknya Ferdy turun dari motor itu.


"Waalaikumsalam. Di antar siapa?" Tanya Salma heran.


Ternyata itu adalah Revan, ia melambaikan tangannya. Pria playboy ini memang sangat tampan mirip oppa Korea. Apalagi saat ia tersenyum manis sekali. Ia pergi. Salma mulai sedikit suka.


"Kakak kenal?" Tanya Ferdy.


"Kenal dong. Calon imam" jawabnya dengan cengengesan.


"Calon imam yang suka di mesjid maksudnya!" Ferdy masih polos, duduk di sekolah SMP kelas dua. Ia belum begitu paham maksud kakak perempuannya itu. Salma mengajak Ferdy masuk.


"Ya Allah ngomong apa sih aku! Inget Arjuna" Salma memukul kepalanya berasa salah ucap.


Ferdy yang melihatnya merasa bingung dengan tingkah laku kakaknya. Siapa juga pria yang akan menyukai kakaknya.


"Gimana ceritanya kamu bisa di anterin sama Revan?" Tanya Salma penasaran.


"Hmm ... tapi kak Revan tidak mengijinkan aku untuk cerita pada siapapun termasuk dengan kakakku sendiri" ujarnya dalam hati. Ferdy hanya terdiam membisu. Ia menatap wajah kakaknya itu.

__ADS_1


"Aku mandi dulu yah kak!" Ferdy bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Ih ... kenapa sih! Semua orang hari ini menyebalkan. Revan, Rena sekarang adik sendiri. Emang aku detektif apa harus mecahin semuanya" Salma kesal dengan mengacak rambutnya.


****


Keesokan harinya. Salma membawakan dua bekal seperti biasa tapi kali ini untuk sarapan pagi. Bahkan ia sangat pagi sekali. Ini misi nya dalam merebut hati Arjuna. Ini hari pertama.


Ini bekal makan pagi, dan ini siang. Ujarnya dalam hati. Ia bergegas menuju kelas Arjuna dan meletakkan dikolong meja.


Ia sudah menulis dengan kertas yang ia tempelkan di kotak makanan. Yang berisi makan siang untuk Juna dan pagi.


Ia bergegas menuju kelasnya. Ternyata Rena sudah masuk, terlihat ia sedang duduk bersama gadis yang sedikit gendut.


"Salma sini" Rena melambaikan tangannya. Salma menghampiri.


"Hai kenalkan aku Tia. Aku baru masuk karena nenekku sakit dikampung halaman" Menjabat tangan Salma.


"Salma, oh begitu. Semoga lekas sembuh ya"


"Iya terimakasih"


"Bukankah kita ada tugas untuk nyari referensi di perpustakaan" Rena mengingatkan. Mereka bergegas berjalan menuju perpustakaan yang ruangannya harus melewati kelas Arjuna.


Salma terdiam sejenak disebelah kelas Arjuna, ia mengintip Arjuna dari kaca dan kedua temannya mengikuti Salma.


"Arjuna ini apa? Wah bekal makanan dari siapa" tanya Shinta yang baru tahu.


"Ini dari fansnya" ucap Indra. Indra membuka kotak bekal itu. Karena Arjuna tidak pernah memakan yang diberikan oleh Salma.


"Wah keren nih unik. Kenapa cewek ini gak buka catering aja. Enak banget" Dengan lahap ia memakan bekal itu.


Revan tersenyum ke arah kaca ia tahu Salma sedang mengintip mereka. Salma malu ketauan oleh Revan dan berlari menjauh dari kelas Arjuna.


"Salma, masih terus ngasih bekal buat Juna?" Tanya Rena merasa kasihan, karena bekalnya tidak ia makan.


Terlihat raut wajahnya seperti sedih, sebenarnya sakit ketika kita memberi tapi tidak di anggap. Gumamnya dalam hati. Kedua temannya memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2