Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Hari pertama jadian


__ADS_3

"Alhamdulillah hari ini Arjuna sudah bisa pulang, kondisinya juga sudah membaik, tinggal banyak istirahat yang cukup dan makanan yang sehat!" Ucap salah seorang dokter pria. Semua orang tersenyum antusias. Dokter keluar dari kamar, Arjuna dan keluarganya bersiap-siap untuk pulang. Arjuna menengok kiri kanan.


"Arjuna nyariin siapa?" Mama menepuk pundak Arjuna. Arjuna hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis. Revan hanya tersenyum, ia mengerti siapa yang diharapkan Arjuna datang. Mereka akhirnya pulang dari rumah sakit. Dirumah Revan ternyata sudah ada, teman-temannya yang menanti kedatangan Arjuna pulang dari rumah sakit. Arjuna sempat merasa senang ternyata Salma tidak ada, bahkan handphonenya tidak bisa dihubungi. Wajahnya berubah menjadi sedih, karena wanita yang ia sukai tidak ada.


Mereka bertanya satu sama lain, dimana Salma berada, kenapa handphonenya tidak bisa hubungi.


"Kenapa sih sedih banget bucin?' Indra sedikit meledek, dengan berpura-pura iba. Arjuna tidak merespon.


"Handphonenya tidak bisa dihubungi! Ada apa jadi kawatir" Rena mencemaskan keadaan Salma.


"Mungkin aja Salma ada di Caffe, coba kita kesana? Barangkali dia disana!" Ucap Tia dengan mulut yang penuh makanan. Semua serentak.


"Tumben pinter! Biasanya kan, cuma makanan yang diomongin!" Tia berhenti mengunyah, ia menatap semua wajah temannya dan tertawa bersama. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu dengan Salma. Arjuna sebenarnya dilarang ikut karena baru sembuh, tapi ia juga tidak bisa berdiam diri untuk memastikan Salma nya baik-baik saja. Dan benar saja di Caffe sangat ramai pengunjung. Arjuna turun dengan antusias, seketika badannya penuh energi. Ia turun bersama temannya, saat memasuki pintu masuk, mereka dikejutkan dengan pemandangan, ada Romi disana yang membantu Salma. Seketika wajah Arjuna memerah panas, jantungnya berdegup kencang, ia sepertinya sangat marah terhadap Salma.


"Sabar kasep, kita samperin dulu, tong emosi! Mun perlu mah tonjok we sekalian atuh!" Ucap Indra sambil bercanda, semua temannya mencubit tangan Indra, agar tidak membuat Arjuna tambah marah. Karena wajah Arjuna sudah memerah, dengan tatapan matanya yang tajam. Mereka duduk, Salma sama sekali tidak menyadari bahwa Arjuna dan temannya datang. Romi mendekati meja mereka, dengan membawa sebuah buku kecil dan pulpen.


"Pesan apa?" Tanya Romi tanpa melihat wajah mereka, karena terlalu fokus pada bukunya.


Arjuna sepertinya sudah tidak sabar, ia langsung menyerang Romi, ia mengangkat bagian kerah baju Romi. Semua orang terkejut melihat kejadian itu, termasuk Salma.


"Apa maksud loe, deketin cewek gue!" Semua temannya berusaha untuk memisahkan Arjuna, Romi yang hanya tersenyum sinis. Diam membisu ia tidak menjelaskan apapun terhadap mereka.


"Arjuna, sudah!" Ucap Revan yang terlihat marah juga terhadap Romi. Arjuna melepaskan tangannya yang sempat memegang kerah leher Romi.


Salma langsung menghampiri mereka, dengan tatapan mata yang sinis.


"Apa-apaan sih! Kamu gak malu!" Salma begitu sinis, ia tidak memperdulikan perasaan Arjuna. Arjuna terlihat kecewa dengan sikap Salma yang seolah-olah membela Romi. Arjuna menatap kedua mata Salma dengan penuh amarah, lalu ia pergi. Semua temannya terlihat tidak senang dengan adanya peristiwa ini. Indra dan Revan mengejar Arjuna yang pergi keluar.


Salma merasa bersalah dengan kejadian tadi, padahal ia rindu pada Arjuna. Rena menghampiri.


"Aku gak ngerti kenapa kamu bisa begini! Arjuna baru pulang dari rumah sakit, dia nungguin kamu, handphone kamu gak bisa dihubungi, sekarang dia belain nyusul demi kamu! Tapi malah dicuekin, tega banget kamu!" Salma hanya terdiam membisu, Romi menarik tangan Salma untuk menghampiri Arjuna yang sedang duduk diteras caffe. Arjuna tidak menatap sedikit pun, ia menunduk.

__ADS_1


"Gue bilang sama loe! Kalau cemburu tanya dulu, siapa yang pantes dicemburui, gue ini cuma kakak sepupu Salma" semua orang mengusap dada sambil tersenyum.


"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan.


Arjuna tetap terdiam membisu ia sepertinya masih marah dengan Salma.


"Ehmm ... haus, ayo kita masuk!" Ucap Revan. Memberi kode kepada temannya agar meninggalkan mereka berdua diluar. Akhirnya hanya ada mereka berdua. Salma terlihat sangat canggung.


"Kamu masih marah! Maafin aku ya?" Salma mendekati Arjuna yang tertunduk. Arjuna tidak merespon sama sekali. Salma merasa sedih jika pacarnya mengabaikannya.


"Aku minta maaf!" Ucapnya dengan menangis pelan. Arjuna langsung merespon saat Salma menangis.


"Jangan nangis, nanti cantiknya ilang! Aku gak marah, cuma kesel aja!" Arjuna mengusap air mata Salma.


"Atuh kamu, bikin kesel! Tadi Ayah bilang aku harus jagain caffe, sama Romi sementara kamu sakit, handphone aku benar-benar lowbet, aku gak sempet ngecek, soalnya rame banget" Salma mulai menangis kesal.


"Aduh kok tambah nangis! Iya aku kan nungguin kamu waktu di rumah sakit, pas kesini kamu sama si Romi, gimana aku gak cemburu, aku kan kangen!" Salma berhenti menangis, ini pertama kali Arjuna mengucapkan hal seperti itu. Wajah Salma memerah malu.


"Kangen ...!" Ucap Arjuna dengan lembut. Hati Salma mendadak berbunga-bunga, ia tersenyum bahagia mendengar ucapan Arjuna.


"Kok malah bengong! Emang kamu gak kangen sama aku?"


"Gimana ya! Malu?" Ucapnya polos.


"Malu, cuma ngomong kangen!" Arjuna mendekati wajah Salma.


"Kangen sama pacar aku yang cantik!" Arjuna mencubit pipinya dengan kedua tangannya.


"Aww sakit!" Arjuna hanya tersenyum, Salma mengusap pipinya.


Saat mereka sedang mengobrol, Revan menghampiri. Tiba-tiba ada mobil datang dan itu Glen pacarnya Rena.

__ADS_1


Saat Glen keluar dari mobil, Revan menghampiri dengan sangat sinis.


"Maksud loe apa nyakitin Rena?" Glen hanya menatap dengan senyuman sinis.


Arjuna berusaha untuk menenangkan Revan.


"Apa urusannya dengan loe! Loe cuma anak kemarin sore, gue lebih tua dari loe, loe tahu apa soal Rena!"


"Gue emang masih bocah, tapi gue gak punya keberanian untuk nyakitin cewek apalagi sampai bikin tangannya terluka! Gue bocah soal umur tapi bukan untuk soal kedewasaan!"


"Rena cewek gue, terserah gue mau gimana juga, dari pada loe cinta tidak terbalas!"


"Daripada loe, cowok gak punya hati, gak ada rasa simpati sama cewek, Rena bakal jadi cewek gue!"


"Ngajak ribut loe!"


Glen menyerang Revan, ia menonjok pipi Revan hingga terluka, Rena dan temannya keluar menghampiri keributan. Arjuna yang dari tadi tidak sanggup menahan amarah Revan. Saat Revan akan menonjok Rena berteriak keras.


Revan mendorong tubuh Glen ke tanah. Rena menghampiri dan membangunkan tubuh Glen.


"Kamu gak apa-apa!" Rena mencemaskan keadaan Glen, hancur seketika perasaan Revan.


"Aku, gak suka sama kamu!" Rena sangat marah, ia menatap wajah Revan dengan penuh amarah. Rena pergi tanpa menanyakan hal apapun terhadap Revan. Ia tidak perduli dengan wajah Revan yang terluka oleh Glen.


Sebelum ia pergi, Arjuna berbicara dengan suara yang keras.


"Loe, harusnya tanyakan sama pacar loe! Apa yang udah ia omongin sampai sahabat gue marah, dan loe sama sekali gak peduli dengan Revan yang udah terluka sama pacar pengecut loe itu!" Glen menarik tangan Rena untuk masuk ke dalam mobil. Mereka hanya melihat Rena pergi dari kaca mobil.


"Revan yang malang, lukanya belum kering, sudah terluka juga hatinya!" Ucap Indra sambil bercanda. Semua orang mencubit tangan Indra.


"Aww, lagi-lagi dicubit barengan!" Semua orang tertawa, kecuali Revan yang sedih dan kecewa.

__ADS_1


__ADS_2