Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Menunggu


__ADS_3

"Hey, kenapa melamun disini!" Revan terbangun dari lamunannya, ia segera menengok siapa wanita yang berbicara itu. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya tergerai indah, ia memakai baju dress selutut berwarna putih. Saat ia berbicara rambutnya yang panjang, berjatuhan ke arah wajahnya. Semakin membuatnya terlihat benar-benar cantik.


"Ah, gak kok! Aku emang senang tinggal disini kalau lagi sedih" wanita itu menatap dengan senyum.


"Kamu orang jauh yah! Aku baru lihat kamu"


"Ehmm ... iya, lumayan sih! Gak tau, aku merasa ada tarikan yang menarikku kesini, entah apa, tiba-tiba saja aku disini, sepertinya tidak asing"


"Hmm, begitu. Oh iya perkenalkan namaku Kirana!" Mereka berjabat tangan. Ia bisa melupakan sejenak masalahnya dengan Rena. Mereka mengobrol hingga tidak terasa sudah gelap. Revan pulang, ia senang bisa bertemu dengan gadis yang cantik dan enak di ajak ngobrol.


Revan sampai di rumah. Arjuna sangat mengkhawatirkannya, ternyata Indra akan menginap juga. Akhirnya mereka bisa melihat wajah Revan yang sedikit sumringah, mereka bisa bernafas lega.


Revan berganti pakaian, dan segera bermain PS bersama Indra. Sedangkan Arjuna sedang chatting dengan kekasihnya.


'Hmm .. gimana mulainya, aku grogi! Aku chat duluan aja, ah tapi malu' Ujarnya dalam hati, tiba-tiba handphonenya berdering. Bunyi pesan dari Salma.


[Udah tidur belum?]


Arjuna tersenyum bahagia mendapat pesan dari kekasihnya, ia tidak tahu bagaimana rasanya menjalin sebuah hubungan.


[Belum, buktinya masih bisa bales chatting dari orang cantik!]


'Kok, jadi lama balesnya, apa sibuk'


Arjuna merasa kesal karena tidak balas ulang, padahal ia sudah membuang rasa malunya untuk memuji, bahkan ia berniat untuk menghapus ulang pesan yang ia kirim.


'Apa dia sedang chatting dengan pria lain' Arjuna mulai gelisah, bahkan ia menggaruk kepalanya dengan wajah yang kesal. Kedua sahabatnya hanya saling sikut melihat Arjuna yang sedang kasmaran.


"Maklum orang gak pernah pacaran mah begitu, jadi posesif!" Indra berbicara dengan ceplas-ceplos. Revan hanya tersenyum tipis.


Arjuna terlihat sangat kesal karena pesannya tidak dibalas, padahal sedang online. Ia mulai menaruh curiga terhadap Salma.


"Tapi online, kenapa kok gak bales!" Ia bergumam kesal, kedua sahabatnya hanya tertawa geli melihat tingkah laku Arjuna.


"Mungkin dia ketiduran, cewek itu biasanya begitu, cepat banget tidurnya, padahal dia yang chat duluan!" Revan berusaha untuk menjelaskan.


"Nah, bisa jadi. Revan kan pakar ahli dalam perasaan wanita!" Indra ikut bicara.

__ADS_1


Arjuna terlihat sangat tidak mood, ia bahkan tidak menggubris handphone nya, ia pergi tidur dengan wajah yang kesal.


****


Keesokan harinya.


Arjuna bertemu Salma disekolah, ia terlihat cemberut. Bahkan tidak menyapa Salma. Saat Salma melambaikan tangannya, Arjuna tidak menggubris.


"Kenapa, aneh!" Salma mengejar Arjuna ke kantin.


"Kenapa kok cemberut!" Salma mendekati Arjuna yang sedang duduk bersama sahabatnya. Arjuna terlihat mengocek es jeruk.


"Maaf kayanya, Arjuna sariawan deh!" Ucap Indra sambil tertawa.


"Apaan sih loe! Garing!" Arjuna membalasnya dengan menjitak kepala Indra. Indra mengusap kepalanya.


"Aw .. Nah gitu dong ngomong! Jangan diem aja, kaya orang sariawan" Indra hanya tersenyum. Salma juga tersenyum.


"Maaf ya semalem aku ketiduran, ngantuk banget!"


"Iya, gak apa-apa, aku gak bisa marah lama-lama!" Mereka tersenyum, hanya Indra yang merasa cemburu melihat mereka pacaran.


Rena menghampiri dan berbicara bahwa Glen mengajak mereka untuk ikut jalan bersama dan di traktir makan oleh Glen. Arjuna dan Indra merasa ada yang aneh kenapa tiba-tiba saja Glen berubah apa ada sesuatu. Mereka hanya menganggukkan kepala tanda setuju walaupun mereka bingung ada maksud apa.


*****


Revan begitu cepat pulang, Arjuna dan Indra bertanya kemana ia akan pergi, tapi Revan hanya tersenyum. Saat Revan menghidupkan mesin motornya Rena berdiri di depan motornya. Itu membuatnya galau karena ia sudah ada janji dengan Kirana. Tapi Rena memaksanya hingga ia tidak bisa menolak.


Mereka berjalan bersama menuju sebuah restoran yang sudah dijanjikan oleh Glen, disana sudah ada Fika ia melambaikan tangannya kepada Revan. Ia menghampiri Revan dan menyiapkan tempat duduk untuk Revan. Glen meminta maaf kepada mereka terutama kepada Revan yang ia sakiti, Revan hanya tersenyum tipis tanda setuju. Mereka semua mulai makan dengan makanan yang mewah, Indra dan Arjuna yang tidak pernah makan mewah merasa terkejut. Revan yang memang berasal dari keluarga kaya sudah terbiasa.


"Ayo kapan lagi coba makan siang dengan menu mewah!" Arjuna menginjak kakinya.


"Aww... sakit atuh!" Indra dengan logat sundanya.


"Jangan norak!" Arjuna menatap wajah Indra dengan seyum tipis.


Semua orang tertawa kecuali Revan yang sejak awal sudah gelisah.

__ADS_1


Fika menyuapi Revan, Revan sempat menolak namun Fika memaksanya.


"Ciee ...!" Ucap Indra sambil bercanda. Entah mengapa tiba-tiba wajah Rena berubah menjadi seperti cemburu. Arjuna dan Salma melihat wajah Rena yang tiba-tiba berubah saat Revan disuapi oleh Fika. Revan terlihat gelisah ia terus melihat jam, Arjuna bertanya.


"Kenapa sih gelisah banget! Ada janji?" Arjuna memegang pundaknya. Revan menggagukan kepalanya.


"Aku sudah telat dua jam!"


"Aduh gimana sih, kok gak bilang kalau ada janji, kita juga ngerti!" Indra mulai bicara.


"Cepetan pergi kasihan yang sudah nungguin!" Rena memberikan tas Revan. Revan tersenyum tipis. Glen senang jika Revan sudah memiliki wanita lain.


"Terimakasih, aku hanya tidak enak jika harus bilang, aku pergi duluan!" Revan bergegas meninggalkan temannya.


Fika terlihat marah, sedangkan Rena merasa sakit hati mendengar bahwa Revan tengah janjian dengan wanita lain. Perasaan seperti apa ini? Gumamnya dalam hati.


Fika berusaha untuk mengejar Revan, Indra dan Arjuna menghadangnya. Fika cemberut dengan wajah yang sangat kesal ia pun pergi untuk pulang.


"Udah biarin aja dia mah, gak jelas!" Indra berbicara dengan menguyah makanan.


Mereka semua melanjutkan acara mereka, Revan ngebut untuk segera sampai ke tempat tujuan. Ia berpikir Kirana pasti sudah lama menunggu, apa ia masih ada atau sudah pulang. Revan sangat merasa bersalah telah membuat Kirana menunggunya selama itu. Setelah sampai ternyata Kirana memang sudah pergi. Ia tertunduk di kursi dengan perasaan menyesal dan bersalah. Revan memegang kedua wajahnya dengan tertunduk menatap tanah. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya.


"Aku pikir kamu tidak akan datang?" Revan terbangun dari duduknya, ia memeluk tubuh Kirana dan meminta maaf kepada Kirana.


"Maaf! Aku pasti udah bikin kamu kesel udah nungguin cowok gak jelas kaya aku?" Mereka mulai duduk di kursi, sedangkan Kirana merasa sangat bahagia setelah dipeluk oleh Revan. Revan sangat senang Kirana masih setia menunggunya. Kirana membawa sebuah makanan untuk Revan, sebenarnya Revan merasa kenyang setelah makan siang tadi. Tapi ia tetap memakannya karena ia tidak bisa membuat Kirana terluka. Revan memakan nasi goreng itu dengan lahap dengan wajah yang penuh senyum. Kirana sangat bahagia, sejak Revan hadir ia merasa lebih baik. Ia meneteskan air matanya. Revan mengusap air matanya.


"Kenapa menangis? Maaf ya, besok aku janji akan datang lebih awal!" Kirana hanya tersenyum.


"Aku nangis bukan karena itu! Yang penting kamu kesini aku udah seneng kok! Aku cuma seneng karena ada seseorang yang ngertiin aku, selama ini aku tidak bahagia!"


Revan merasa tidak percaya gadis secantik Kirana merasa tidak bahagia, ia pikir kehidupan Kirana bahagia.


"Sudah jangan nangis lagi ya! Aku janji bakal setia sama kamu dalam suka dan duka! Oh iya rumahmu dimana?"


Kirana terdiam membisu ia tidak ingin Revan tahu rumahnya dimana.


"Hmmm ... Aku gak bisa ngasih tahu kamu!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku takut kamu nanti ngejauhin aku!" Revan tambah bingung kenapa Kirana tidak pernah memberi tahu rumahnya dimana.


__ADS_2