Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Barista tampan itu pujaanku


__ADS_3

Mereka saling menatap satu sama lain. Arjuna segera berlari menuju meja tempat kerjanya. Mereka mulai mengantri, sadar akan Arjuna kerepotan karena pekerjaannya, Tia merasa bersalah, ia segera bergegas membantu menyiapkan setiap meja pembeli. Salma mengajak temannya yang lain untuk bergerak memakai celemek hitam dan membantu pekerjaan Arjuna. Revan dan Rena sebagai waiters, sedangkan Tia dan Indra menulis setiap pesanan. Salma membantu Arjuna membuat coffe.


Salma senang bisa sedekat ini dengan Arjuna, meskipun wajah Arjuna begitu serius. Seperti tidak melihat adanya Salma. Tapi Salma tetap bersyukur karena bisa melihat pria yang ia sayangi berada didekatnya.


Setiap pembeli hanya melihat wajah Arjuna dan menggoda Revan. Karena mereka memang berkharisma, sedangkan Indra memiliki wajah yang pas-pasan.


"Sttt ... lihatlah kalau cowok ganteng banyak yang goda. Coba siapa yang mau menggodaku? Rena, gimana kalau kamu godain aku!" Rena menghampiri dan memberi tatapan aneh.


"Eh, ogah pisan, mendingan aku jomblowati!" Rena pergi melanjutkan pekerjaannya.


"Haduh nasib orang jelek! Belum apa-apa sudah ditolak" Indra menepuk keningnya dan melanjutkan pekerjaannya.


Semua orang sibuk dengan pekerjaan nya, setelah selesai. Mereka menutup Caffe itu. Arjuna merasa sangat berterima kasih kepada semua temannya, telah membantu kesulitannya.


"Jangan lupa gajinya di bagi-bagi!" Indra nyeletuk untuk bercanda. Revan ke kamar mandi. Sedangkan yang lain duduk di ruang istirahat.


Salma berdiri di dekat, jendela ia menatap keluar jendela yang sedang hujan. Arjuna menghampiri dan membawa minuman cokelat untuk Salma.


"Ini minum! Cocok untuk hujan deras" Ia menyodorkan minuman cokelat itu, dan duduk berhadapan dengan Salma.


"Makasih banyak!" Salma meminumnya, dan kepanasan, bibirnya memerah. Arjuna segera mengambil tissue dan mengelap bibirnya dengan lembut.


"Aku kan sudah bilang tadi panas!" Arjuna terlihat sangat kawatir dengan Salma. Salma hanya tersenyum diam, ia senang, setiap ia terluka Arjuna selalu bersikap manis. Ia tidak mendengarkan apa saja yang ucapkan Arjuna. Ia meminumnya karena terlalu bahagia, diberikan minuman cokelat yang ia idamkan.


"Arjuna, kenapa kamu berubah!" Tanya Salma.


"Maksudnya berubah gimana?" Jawabnya heran.

__ADS_1


"Sejak perjanjian kita berakhir kamu semakin dingin. Entah kenapa aku rasa tidak mengenal kamu! Dulu kamu pria yang ramah dan sedikit banyak bicara, tapi semenjak aku memiliki perjanjian denganmu, kamu berubah, lebih pendiam dan tertutup, bahkan aku merasa asing" Salma menunduk dan memutar minuman cokelat dengan sedotan. Arjuna menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya ia mengucapkan dengan sangat hati-hati. Ia menghampiri Salma dengan menggeserkan kursi sehingga berdekatan agar Salma bisa mendengar ucapan Arjuna dengan sangat jelas.


"Mungkin karena aku sudah bertambah besar, jadi aku pikir lebih baik aku diam daripada aku berbicara dan menyakiti hati seseorang, terutama aku tidak ingin menyakiti hati wanita yang kusukai! Setiap hari manusia akan selalu mengalami perubahan, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk" Salma berpikir pasti Shinta yang ia maksud. Andaikan saja itu aku. Jawaban Arjuna sangat dewasa.


Tak lama seseorang mengetuk pintu, mereka berdua serempak melihat ke arah pintu masuk, sehingga kening mereka berdua berbenturan.


"Aduh maaf, kamu tidak apa-apa kan!" Arjuna mengusap kening Salma dengan lembut. 'Orang ganteng tangannya kok halus banget ya' ujarnya dalam hati.


Ternyata yang berdiri adalah Shinta. Arjuna menghampiri, mereka berdua mengobrol di luar teras. Harusnya aku yang disana bukan dia. Salma menggerutu kesal. Revan menghampiri dan membuat Salma terkejut.


"Masih suka ya sama Arjuna!" Tanyanya heran. Salma terdiam sejenak, ia menarik nafas panjang dan fokus meminum minuman cokelat yang diberikan Arjuna.


Revan tersenyum dan tahu, arti diam Salma. Revan menghampiri mereka di luar teras, ternyata Shinta meminta tolong kepada Revan untuk mengantarnya kerumahnya. Revan pamit sebentar untuk mengantarkan Shinta. Salma hanya menggagukan kepalanya. Revan meminta Salma untuk bareng dengan yang lain. Revan pergi dengan Shinta. Shinta begitu ramah terhadap siapapun termasuk dengan Salma. Teman-temannya tidak bisa bareng, akhirnya yang mengantarkan Salma adalah Arjuna.


"Ayo naik!" Arjuna telah memakai helm nya, dan menyodorkan helm untuk Salma. Salma terlihat ragu.


"Mau pulang gak! Kenapa malah bengong aja dari tadi! Kamu itu anak bos ku, jadi aku harus bertanggung jawab" Ucapnya menyakinkan dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


" Ya Allah ... Aku diantar orang yang bisu kenapa dari tadi dia tidak pernah berbicara sepatah katapun" ia menepuk keningnya sendiri, Arjuna hanya tersenyum tipis. Lalu ia berkata dengan suara yang lembut dan begitu indah.


"Terimakasih buat hari ini! Aku merasa sangat bahagia bisa dibantu oleh Salma citriana" Ini pertama kali Arjuna mengucapkan nama panjangnya. Arjuna memutarkan motornya.


" Hey ... kenapa sih! Segitu mudahnya aku percaya padamu. Aku selalu berusaha untuk ngeyakinin tentang perasaan ini, bahwa aku harusnya sadar kalau kamu gak mungkin bisa suka sama aku. Bahkan aku tidak bisa membedakan antara ramah atau kamu benar-benar menyukaiku" Arjuna hanya tersenyum dan pergi begitu saja.


****


Revan menelponnya tapi Salma tidak pernah mengangkat teleponnya itu. Ferdy yang melihat merasa risih.

__ADS_1


"Kak angkat dong! Berisik aku mau belajar" dengan wajah yang kesal.


"Bodo amat telepon gak penting! Kenapa kamu gak belajar di kamar" Salma melanjutkan nonton televisi dengan mulut yang sedang mengunyah makanan.


"Mau nunggu ayah!" Ferdy tetap melanjutkan membaca buku.


Tak lama ayah pulang. Suara pintu di ketuk.


Tok ... tok ... tok


"Assalamualaikum" Suara Ayah, Salma dan Ferdy saling bertatapan dengan tersenyum, lalu mereka berlari ke arah pintu. Salma membuka pintu.


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.


"Wah, anak ayah masih pada bangun! Ayo kita masuk, ayah bawa makanan favorit kalian. Ini sate ayam Maranggi, ayo di makan" wajah mereka berseri-seri. Terutama wajah Ferdy.


"Asyik makan enak! Habis Kakak jarang masak akhir-akhir ini!" Ucap Ferdy dengan polos, sambil memakan sate. Ayah melihat ke arah Salma.


"Loh, kenapa! Koki ayah jadi pemalas!" Ayah mengusap kepalanya.


"Ih Ferdy, ember deh! Gak kok, lagi males aja" Salma menyenderkan tubuhnya ke sofa, dengan wajah yang lesu.


"Ada apa sih galau?" Tanya ayah sambil tersenyum.


"Pasti tuh, kakak di tolak kali, hahaha!" Ferdy tertawa puas. Salma menepuk pundaknya.


"Ih, kasar!" Salma menghela nafas. Tiba-tiba ia bertanya dengan semangat kepada ayahnya.

__ADS_1


"Besok pulang sekolah aku mau bantuin ayah ke Caffe, boleh ya Ayah?" Wajahnya memelas. Ayahnya hanya tersenyum heran, melihat Salma yang tiba-tiba bersemangat untuk membantunya.


"Ada apa tumben! Gak biasanya kamu pengen bantuin ayah, ada apa?" Tanyanya merasa sangat heran, karena walaupun Salma sangat pintar memasak ia tidak pernah ke Caffe. Itu membuatnya selalu mengingat tentang ibunya. Ini untuk pertama kalinya Salma dengan suka rela. Ada apakah di Caffe.


__ADS_2