
Revan bergerak ia berdiri dan membawa bekal makanan yang diberikan oleh Salma kepada Arjuna.
"Hey mau kemana?" Tanya teman-temannya bersamaan. Termasuk Indra yang sedang makan berbicara dengan mulut penuh makanan.
Revan tidak menjawabnya ia terus fokus meninggalkan kelas.
"Hey ... Salma bisa bicara sebentar?" Revan tersenyum membawa kotak makanan yang tadi ia berikan kepada Arjuna.
Kedua temannya pergi ke perpustakaan. Revan mengajak Salma untuk duduk didekat lapangan. Revan membuka kotak makanan itu. Dan ia memakannya didepan Salma.
"Sumpah ini bekal makanan yang paling enak yang pernah aku makan setelah masakan ibuku" Revan makan dengan sangat lahap. Itu membuat Salma bahagia walaupun bukan Arjuna yang makan.
"Besok kamu bawa sepuluh pun aku pasti habiskan! Besok kamu bisa ikut kerumah aku?" Salma tersenyum lebar dan tertawa saat Revan tersedak.
"Ini minum, kamu tidak apa-apa!" Tanya Salma cemas. Revan sepertinya tidak bisa menahan perasaannya terhadap Salma. Ia merasa telah jatuh cinta pada Salma. Dan ia menyadari tentang perasaannya.
Arjuna datang, saat Revan tersenyum menatap Salma.
"Jadi disinilah kalian!" Salma berdiri dan berlari menuju perpustakaan. Ia tidak menatap wajah Arjuna sedikit pun.
Arjuna merasa aneh seolah-olah Salma mencoba menghindarinya. Lagi-lagi Arjuna tidak pernah menghiraukan perasaan Salma. Mereka berjalan menuju kelas, Revan berjalan lebih awal dan Arjuna dibelakangnya. Arjuna memanggilnya.
"Revan ... gue mau tanya. Loe beneran suka sama Salma?"
Deg ... jantung Revan berdetak kencang saat Arjuna bertanya. Ia tidak mungkin bilang yang sesungguhnya. Tapi ia juga takut salah bicara. Ia terus berjalan menuju kelasnya tanpa menghiraukan pertanyaan sahabatnya itu. Arjuna tahu meskipun Revan tidak menjawabnya.
'Gue tahu sekarang, apa arti diam ini' gumamnya dalam hati.
****
Setiap hari Salma memberikan bekal makanan untuk Arjuna. Melingkarinya di kalender dengan spidol warna merah. Ini adalah hari ke sembilan. Arjuna tetap bersikap dingin. Bahkan lebih dingin entah mengapa Arjuna berubah drastis dari sebelumnya. Biasanya dia sedikit ramah meskipun terlihat terkadang menghindarinya.
'Entah mengapa tidak ada satupun hal yang bisa membuat Arjuna untuk menyukai aku walaupun sedikit. Hari ini adalah aku merasa sedikit putus asa. Kadang ia membuatku senang tapi kadang membuatku semakin sedih' ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Saat dia sedang melamun, Arjuna menghampirinya.
"Kenapa melamun!" Ia mengagetkan Salma yang sedang melamun.
"Gak kok ...!" Salma memasang wajah datar dan jutek.
"Oh ... begitu." Ia memakannya dengan lahap. Arjuna makan tanpa berbicara sepatah katapun. Salma dipanggil oleh Rena, saat Salma akan berdiri, tangannya ditahan oleh Arjuna, sebelah memegang tangan Salma dan sebelah memegang kotak makanan. Ia bicara tanpa menatap wajah Salma.
"Tunggu sampai aku selesai makan" Salma duduk lagi ia merasa bahagia ini kali pertama Arjuna bersikap manis. Bahkan bekalnya pertama kali ia makan. Salma hanya tersenyum dan terdiam karena Arjuna tidak mengucapkan sepatah katapun. Setelah selesai makan, Arjuna pergi meninggalkan Salma tanpa basa-basi.
'Tidak apalah cuek kaya bebek, yang penting aku seneng. Udah dipegang oleh Arjuna' ucapnya dalam hati. Ia mesem-mesem sendiri.
Saat dikelas Rena bertanya dengan melihat wajah Salma yang melamun dengan muka yang tersenyum bahagia.
"Kenapa sih? Jangan terlalu seneng nanti sakit lagi!" Rena bicara dengan serius.
"Oh .. tidak kok biasa aja tuh!" Jawabnya sambil membuka buku. Pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Rena menginjak kaki Tia agar tidak bicara sembarangan.
"Aww ... sakit atuh! Kunaon nya ih salah naon coba!" ( Kenapa sih, salah apa coba) dengan logat sundanya yang medok, semedok pecel.
Salma merenung sejenak, ia menarik nafas panjang dan meletakkan wajahnya diatas meja.
"Gimana sih kamu bisa suka sama Arjuna?" Tanya Rena penasaran.
"Sebenarnya dulu kami bersahabat sejak duduk di bangku SD, saat itu dia menolongku waktu aku sering di bully tapi sepertinya ia lupa" raut wajahnya seperti sedih.
"Maksudnya gimana ini teh?" Tanya Tia lebih penasaran.
"Iya kalau Arjuna yang nyelamatin aku dari bully waktu SD di Jakarta dulu. Tapi kami tidak satu sekolah. Akhirnya kami terpisah bertemu lagi di bangku SMP. Saat aku mulai suka, aku selalu cerewet banget, bahkan perhatian ekstra, dia biasa gak pernah bersikap dingin. Ada kejadian yang membuatnya marah. Begini ceritanya"
"Arjuna ini makan siang untuk kamu!" Arjuna tersenyum dan mengambil kotak makan itu. Ia memakannya dengan lahap, kami tertawa seperti biasa.
__ADS_1
"Terimakasih selalu baik. Oh iya ngomong-ngomong siapa tipe cowok idaman kamu?" Arjuna tersenyum.
"Hmm ... siapa yah! Yang pinter, ramah sama semua orang, dan sopan santun seperti kamu" Salma menunduk.
Arjuna tersedak terkejut, ia tidak tahu harus berkata apa kepadaku wajahnya memerah dan terdiam sejenak kemudian ia tidak pernah menemuiku lagi. Dia terus menghindari, bahkan dia pindah ke Bandung lagi. Sebenarnya aku sudah menyerah, aku tahu mungkin dia ilfil. Aku tahu sih gimana rasanya di tembak sama orang yang gak disukai pasti rasanya ilfil.
Aku pindah kesini bertemu lagi. Cinta itu tumbuh kembali. Kedua temannya memeluknya erat untuk menyemangati Salma.
*****
Ini adalah hari terakhir, Arjuna tidak merespon sama sekali perasaan Salma.
Ada seorang lelaki yang mencari Salma, dia SMA sebelah, namanya Romi, cowok populer dari sekolah sebelah yang selalu menjadi saingan berat saat lomba renang. Ia menunggu didepan gerbang.
Arjuna menghampiri pria itu dan bertanya dengan sinis.
"Ngapain nyari Salma?" Tanyanya dengan nada bicara yang sinis.
"Bukan urusan loe!" Romi mencoba menelpon Salma. Salma dari kejauhan melambaikan tangannya. Dan menghampiri Romi. Arjuna merasa sedikit panas, ia merasa tidak nyaman melihat Salma mendekati pria lain.
"Maaf ya lama, ini bukunya. Terimakasih" Romi memberikan sebuah buku yang berjudul 'Belajar beladiri sejak dini' .
"Eh, lain kali harus izin terlebih dahulu!" Arjuna mencoba menjauhkan Romi dari Salma.
"Kenapa harus izin sama loe!" Wajah Romi memerah dan sedikit murka.
"Ya, karena ... Salma adalah pacar gue. Jadi gue gak mau dia nemuin cowok lain selain gue!" Arjuna merangkul pundak Salma. Salma merasa senang.
Romi pergi dengan membuat suara yang berisik. Sepertinya ia sangat kecewa dengan ucapan Arjuna. Salma tersenyum sendiri. Arjuna melepaskannya rangkulannya.
"Eh, jangan 'GR' gue cuma nyelamatin loe dari musuh gue. Gue gak mau loe jadian sama si Romi! Mendingan loe jadian sama Revan. Hari ini terakhir tiga puluh hari berakhir, dan perasaan gue masih biasa. Jadi loe tahu kan jawabannya!" Ia mengucapkan dengan penuh keyakinan.
Salma merasa sakit hati mendengar ucapan Arjuna, ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Salma berlari keluar sekolah, ia menangis sejadi-jadinya. Ia sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Hujan deras membasahi wajahnya, ia merasa hancur. Revan yang mengetahui kejadian itu ia berlari mengejar Salma. Dan melihat Salma menangis yang tengah terduduk di bangku jalan. Saat itu sudah petang, Revan melihat Salma ia merasa sakit hati. Bajunya basah, Revan hanya terdiam membisu dari kejauhan.
__ADS_1