
Pagi disekolah
"Guys, jangan lupa hari ini kita belajar bersama di perpustakaan dekat taman, jam dua siang, jangan telat!" Arjuna, berbicara kepada teman-temannya.
Rena, menatap wajah Revan yang tidak menatap wajah Rena kembali, sepertinya Revan sudah benar-benar merasa kecewa dengan kejadian kemarin. Revan, terlihat sangat diam. Tidak lama Revan pergi keluar dari kelas, Rena mengikuti Revan dari belakang, dan mengejar Revan.
"Revan, ....!" Revan, hanya menengok dan melanjutkan perjalanan.
Rena, menarik tangan Revan.
"Please, dengerin aku dulu ya ...!"
Revan, menatap dengan tatapan matanya yang tajam, dan seyum yang sinis.
"Cukup ... kemarin aku udah lihat semuanya, kamu gak perlu lagi jelasin apapun lagi! Kamu tahu gak, aku gak bisa tidur, saking senangnya bisa jalan sama kamu! Tapi, kamu dengan mudahnya membuat aku kecewa, pelukan dengan Glen di depan mataku!"
"Kamu, harus dengerin aku dulu! Jangan marah dulu!" Revan, menatap kedua mata Rena dengan penuh kekecewaan.
"Udah, cukup biar aku yang pergi ...! Asal kamu tahu, ketika seorang pria sudah kecewa akan sulit untuk mengembalikan rasa yang pernah ada! Ingat, mulai hari ini, perasaan aku ke kamu, sudah aku buang, dan sekarang rasa cintaku hanya untuk Karina!" Revan, pergi. Rena, menangis, karena ia sangat menyesal dengan kejadian kemarin.
Arjuna yang melihat kejadian itu dari kejauhan, merasa kasihan dengan Rena yang menangis.
Arjuna, menelepon Salma untuk segera menghampiri Rena di dekat taman yang sedang menangis.
"Kenapa, kamu menangis ...!" Rena, memeluk Salma dengan tangisan yang histeris.
Revan, mengintip dari kejauhan, ia merasa bersalah, namun inilah jalan yang terbaik.
'Maafin, aku ... kamu udah membuat aku kecewa, sekarang inilah pilihan yang sangat tepat, meskipun kita akan terluka' Gumam Revan dalam hati.
"Aku, yang salah ...!" Rena, menceritakan semua kejadian kemarin kepada Salma dan Tia. Dengan suara tersedu-sedu.
"Kenapa kamu gak jelasin, kalau kamu udah gak sayang sama Glen, kamu cinta kan sama Revan?" Tanya Salma.
"Iya, dia gak mau dengerin penjelasan aku, gimana aku mau ngomong apa yang terjadi! Aku, suka sama Revan, perasaan ini datang begitu saja!"
"Iya, kita ngerti perasaan kamu, berikan dia waktu!" Tia, bicara dengan nada sedih.
****
Semua orang sudah berkumpul di perpustakaan dekat taman, kecuali Revan yang terlambat.
"Revan, kemana sih! Tumben banget dia telat!" Ucap Indra.
Rena, mulai mencemaskan keadaan Revan.
"Assalamualaikum, nungguin ya!" Revan datang dengan membawa, Karina. Rena terkejut.
Salma menggenggam tangan Rena. Revan, mengenalkan kekasih barunya itu kepada teman-temannya. Arjuna, yang mengetahui perasaan Rena merasa kasihan.
Sekarang kita mulai belajar, Arjuna yang menjelaskan, pelajaran kepada teman-temannya, karena memang dia yang paling pintar.
"Aku, gak ngerti!" Salma, menggelengkan kepalanya. Arjuna, menghampiri.
"Kamu, gak ngerti ...! Sini, aku ajarin! Kalau matematika harus hapal rumusnya!" Salma, hanya tersenyum dan menatap wajah Arjuna yang sangat tampan.
"Kamu tuh! Bukannya dengerin aku ngomong, gimana ngerti gak?" Salma, menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu, harus serius! Lihat ... bukunya, bukan orangnya!" Arjuna, mulai berbicara dengan nada tinggi. Dengan menghela nafas panjang.
Salma terkejut. Semua orang menatap mereka berdua
"Iya, maaf ...!" Salma merasa tidak enak.
Arjuna tersadar sudah melakukan tindakan yang berlebihan.l
"A ... aku, yang minta maaf!" Arjuna, merasa bersalah.
Salma, hanya tersenyum. Jam istirahat sudah mulai.
Salma sedang membuka Instagram, ia melihat pasangan yang romantis.
"Coba aja, Arjuna itu romantis!" Ia berbicara kepada Rena.
"Emang, Arjuna gak romantis ya!" Ucap Tia sambil menguyah makanan.
"Gimana mau romantis, yang dia baca cuma buku. Bukan isi hati aku!"
Rena dan Tia hanya tersenyum.
"Kan, setiap orang punya cara yang berbeda dalam menunjukkan perasaannya. Ya, mungkin itu cara Arjuna nunjukin bahwa dia sayang sama kamu!" Rena, berbicara dengan serius.
"Iya sih! Tapi, dia gak pernah ngajak aku jalan, atau ngasih sesuatu yang sweet gitu!" Salma, berbicara dengan wajah yang sedikit cemberut.
"Ouh ... sabar ya. Masih ada kita yang sweet!" Tia, sambil memeluk Salma. Rena pun, memeluk mereka berdua.
Tiba-tiba, Indra datang dan membuat mereka terkejut.
"Gawat ...!"
"Apanya sih?" Rena, mulai heran
"Kalian percaya gak?"
Mereka menggelengkan kepalanya.
"Udah deh, kalau ngomong jangan bertele-tele, yang jelas deh!" Rena, lebih penasaran.
"Ini, tentang Kirana!"
"Emang kenapa?" Salma mulai bingung.
"Ternyata, kirana itu hantu!"
Mereka terkejut, dan setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan Indra. Mereka, pikir Indra hanya memberikan sebuah lelucon.
"Hey, malah ketawa! Gue, seriusan, gak bohong. Sumpah deh!"
"Bercanda, itu gak usah yang aneh-aneh deh! Masa, ada hantu bisa di lihat di siang hari begini!" Tia, benar-benar tidak percaya dengan ucapan Indra.
"Aduh, tadi gue, gak sengaja, foto kalian semua, waktu lagi belajar. Terus, gue lihatin lagi hasil fotonya, dan ternyata dia gak terlihat di kamera. Bukannya itu aneh!" Indra menggaruk kepalanya. Tia dan Rena hanya terdiam bingung.
"Bentar kayanya loe itu cuma halu!"
"Ih, gue seriusan! Kalau gak percaya nih lihat langsung?"
__ADS_1
Mereka berdua melihat hasil foto dengan seksama.
"Mungkin aja kan dia pergi ke toilet!"
"Iya bener banget tuh!"
"Ah, terserah kalian, pokoknya gue bakal cari tahu siapa dia sebenarnya!"
"Dia siapa maksudnya?" Arjuna dan Revan tiba-tiba saja datang.
"Ini, itu loh. Si ....!" Rena langsung mencubit tangannya, memberi kode agar tidak berbicara yang macam-macam.
"Auw ... sakit kenapa!"
"Ih, maaf gak sengaja!" Rena membisikkan dengan pelan.
"Loe, jangan ngomong apa-apa lagi!"
Indra hanya terdiam.
"Kenapa sih, kalian aneh banget, Salma kamu mau gak nih aku bawain rujak!"
"Mau dong!" Indra menjawab dan langsung mengambil rujak tersebut. Arjuna, mencoba mempertahankan.
"Ih, sini!"
"Ih, gue beli buat Salma bukan buat loe!"
"Ih, pelit banget sih!"
Karena perlawanan mereka berdua, akhirnya rujaknya tumpah. Mereka semua terkesima dengan tumpahan rujak tersebut.
"Astagfirullah ...!" Ucap mereka serentak.
Mereka berdua berdebat. Tidak lama Revan datang.
"Kenapa sih, kalian kaya bocah aja! Guys, mau nganterin Karina dulu, nanti balik lagi!" Revan bersiap-siap untuk mengantarkan Karina pulang. Revan membonceng Karina.
"Gak apa-apa kok, kamu pegangan aja, aku kan bukan tukang ojek!" Revan, menarik tangan Karina. Karina, tersenyum bahagia, sedangkan Rena terlihat diam membisu.
"Ciee, so sweet sih!" Indra dan Tia bersiul sambil tertawa. Arjuna dan Salma, melihat wajah Rena sedih.
'Kenapa, harus sesakit ini!' Gumam, Rena.
Salma, mengusap pundak Rena. Revan, pergi. Mereka masuk kembali, Rena hanya terdiam. Ia berpikir kenapa perasannya begitu rumit diantara dia tidak bisa putus dengan Glen, sedangkan perasaannya sudah mulai pudar, sekarang perasaannya hanya tertuju kepada Revan, orang yang selalu membuat ia merasa nyaman.
"Jangan bengong terus!" Salma mengagetkan Rena yang sejak tadi melamun.
"Gak apa-apa!" Rena, menempelkan wajahnya di meja. Salma, mengikutinya.
"Ngomong aja, kalau ada masalah!"
Rena terdiam, dan menarik nafas dalam-dalam, ia mulai berbicara. Indra, Arjuna Tia dan Salma menyimak apa yang akan di ucapkan Rena.
"Dulu, Revan adalah orang yang selalu ada di saat aku galau, orang yang aku tahu dia tidak pernah berhenti mencintai aku dengan tulus, selalu mengejar dan mengatakan perasaannya untukku, tapi sekarang Revan sudah jauh berbeda dengan Revan yang ku kenal dulu, gak ada lagi, dia pasti sudah membuang semua rasa itu untukku! Dan, aku mulai mencintai dia, sakit rasanya harus membohongi perasaan ini! Sekarang, di saat aku sudah mulai menyukainya, kini perasaan itu sudah berubah, begitu sakitnya menahan sebuah perasaan ini! Kini, aku tahu, gimana rasanya di posisi Revan dulu!"
"Sabar ya kita ngerti kok, perasaan kamu! Kami juga gak tau perasaan Revan sekarang gimana!" Tia dan Salma memeluk Rena yang sedang menangis. Arjuna dan Indra tidak bisa berbuat apa-apa, mereka juga merasa sedih dengan semua permasalahan ini. Ternyata, Revan mendengar semua percakapan mereka di balik pintu.
__ADS_1