
"Elo tuh emang gak peka ya jadi orang. Loe kemarin-kemarin bilang gue harus jadian sama Revan, gue harus jauhin loe, walaupun gue gak sanggup. Loe gak pernah ngerasain jadi gue. Gimana sakitnya hati gue. Sekarang dengan mudahnya loe ngomongin tentang perasaan gue sama loe! Gue turutin semua yang loe pinta, walaupun sakit" Salma berbalik menatap kedua mata Arjuna dengan seksama.
"Iya, dulu gue **** mau aja, ngejar cowok yang gak pernah suka sama gue! **** banget jadi cewek, mau aja perhatian sama orang yang jelas gak suka sama gue! Dulu loe segalanya untuk gue. Tapi sekarang, loe tuh, udah gak ada artinya lagi. Sama seperti loe diemin gue, nerima cinta Revan. Puas kan loe ngancurin hidup gue!" Salma begitu marah, matanya memerah. Arjuna merasa sangat bersalah, ia sadar semua salahnya. Salma terlihat sangat emosi, bahkan baru pertama kali ia mendengar Salma mengucapkan gue, sebelumnya ia tidak pernah begitu.
Ia ingin memeluk tubuh Salma dan berkata bahwa ia sangat mencintai Salma, namun semua itu tidak mungkin. Salma pergi begitu saja. Ia baru tahu betapa dalamnya perasaan Salma terhadapnya.
Tubuhnya menjadi lemah, ia duduk termenung. Ia sudah cukup menyakiti perasaan Salma. Bagaimana semua sudah terlanjur, sudah terlambat. Salma menangis di dalam taxi.
Indra mendekati Arjuna, menepuk pundaknya dengan pelan.
"Sabar bro ... cinta itu memang rumit. Tapi semua cinta sejati pasti selalu kembali sejauh apapun pergi!" Indra menenangkan Arjuna yang sedang galau.
*****
Keesokan harinya Arjuna tidak masuk sekolah. Salma nampak melihat kesisi kanan kiri. Meskipun ia sedang duduk bersama Revan tapi pikirannya hanya untuk Arjuna. Revan tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Cari siapa?" Tanya Revan heran. Salma menjadi kikuk. Ia menggaruk kepalanya.
"Gak kok. Cuma nyariin Rena dan Tia aja belum lihat mereka!" Dengan gugup.
"Rena apa Arjuna? Kaya kehilangan seseorang?"
"Rena lah, ngapain nyariin Arjuna! Gak penting banget sih!" Ia berusaha menyakinkan Revan. Tapi Revan lebih tahu tentang percintaan, karena ia mantan playboy. Ia memang pintar menilai perempuan. Ia berusaha untuk percaya dengan ucapan Salma.
"Tenang aja kali! Arjuna sedang sibuk latihan renang, besok ia lomba renang. Kamu harus ikut aku dukung Arjuna! Besok kan hari Minggu" Salma terdiam sejenak, lalu ia pikir lebih baik ikut. Agar ia bisa melihat wajah Arjuna.
******
__ADS_1
Keesokan harinya. Revan menjemput Salma. Salma terlihat sangat anggun dan cantik. Ia memakai baju dress selutut, berwarna pink. Rambutnya terurai dengan poni di depan. Ini pertama kali ia terlihat sangat feminim. Rena yang telah mendandaninya menjadi feminim. Revan tersenyum dan berdecak kagum melihat kecantikan wanita yang ia cintai.
"Hey ... Bengong!" Rena mengibaskan tangannya ke arah wajah Revan.
"Biasa, terpesona dengan keindahan dari Allah!" Jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Ayo, berangkat!" Revan menghidupkan mesin motornya.
Ada seseorang dari belakang mengklason.
Tinn ... tinn ... tinn
Revan memelankan laju motornya, ia melihat di kaca spion, ternyata itu adalah Arjuna dan Indra.
"Woy ... ciee romantis abis!" Ucap Indra sambil bersiul.
Salma melihat Arjuna tidak menatap ke arahnya, 'sepertinya Arjuna sedang marah atau dia memang tidak peduli denganku, kok rasanya sakit, dicuekin oleh orang yang kita cintai' ujarnya dalam hati. Ia berusaha untuk tidak melihat Arjuna yang berada di sisi kirinya. Wajahnya benar-benar serius. 'Sekali saja tatap mata aku, kenapa sih kamu gak pernah peka sama perasaan aku'.
'Tumben Salma diem aja! Apa dia mikirin Arjuna' Revan mengagetkan Salma yang sedang bengong.
"Hey, melamun saja! Berikan semangat untuk sahabatku itu!" Revan mengangkat tangannya Salma. Indra juga mengikuti, memberikan sebuah yel-yel kelompok Arjuna CS bersama gadis. Salma tetap terdiam.
'Salma kenapa! Apa dia sakit. Wajahnya terlihat pucat, padahal tadi terlihat cantik!' Ucap Arjuna dalam hatinya. Arjuna memperhatikan Salma dari kejauhan. Salma tidak sadar. Setelah selesai, Arjuna mendekati, ia memberikan minuman untuk Salma. Salma terkejut ia menatap Arjuna heran.
"Gak salah tumben baik!" Tanya Salma heran. Arjuna hanya tersenyum tipis. Revan sedang mengobrol dengan Shinta. Tiba-tiba Romi menghampiri Salma.
"Eh, hai! Kamu kesini juga?" Ucap Romi yang hendak duduk di samping Salma. Menyadari hal itu, Arjuna segera bertindak, ia segera menempati tempat duduk, agar Romi tidak berdekatan dengan Salma. Romi merasa tidak nyaman dengan sikap Arjuna yang aneh. Tak lama Romi pergi karena gilirannya yang panggil. Sementara Revan, Indra dan Shinta pergi mencari makanan. Tinggal mereka berdua, terlihat sangat salah tingkah. Terutama Salma yang merasa bersalah atas perlakuan ia tempo hari.
__ADS_1
"Aku mau ngomong" ucap mereka bersamaan.
"Eh kamu dulu!" Arjuna melempar kepada Salma. Salma juga sebaliknya.
"Ya sudah aku aja duluan! Aku minta maaf tempo hari, sudah kasar!" Ucap Salma. Arjuna hanya tersenyum.
"Aku hanya ingin bilang sesuatu! Aku berharap kamu putus dengan Revan!" Arjuna terlihat serius. Salma langsung menatap wajah Arjuna.
"kenapa? Apa urusannya dengan kamu!" Salma mulai sedikit emosi.
"Emang kamu suka sama Revan?" Tanya Arjuna. Salma terdiam, ia harus berbohong kepada Arjuna.
"Sukalah! Kalau gak suka ngapain juga aku jadian!" Arjuna merasa perkataan Salma ada benarnya juga. Salma sepertinya sudah melupakannya. Arjuna rasa dari kemarin juga jawaban Salma tetap sama. Arjuna hanya terdiam membisu, ia pergi meninggalkan Salma. Ia mengajak Shinta untuk pulang bareng.
****
Hari Senin ulangan semester pertama, seperti biasa, kelas akan di kocok. Rena, Tia dan Salma berpindah kelas. Salma berangkat lebih awal. Ia melihat setiap kelas pada bagian kaca pintu untuk melihat dimana kelasnya dan duduk dengan siapa. Ia mencari tempat duduknya, ia fokus mencari nomor meja.
"Nah, ini dia, ketemu!" Ternyata ia sebangku dengan Arjuna. Arjuna diam saja, seperti tidak melihatnya. Arjuna tetap fokus membaca buku.
Revan mencari Salma, Revan memberikan Salma bolu kukus pelangi buatan ibunya. Revan menyuapi Salma. Arjuna hanya membuang mukanya. Ia menutupinya dengan sebuah buku. Arjuna menggebrak meja.
"Berisik loe! Ganggu gue aja! Kalau mau pacaran jangan disini. Disana di luar!" Wajahnya terlihat memerah. Revan hanya tersenyum tipis.
"Oops sorry hehe ... orang jomblo marah!" Revan menginjak kaki Indra .
"Aww sakit. Bercanda Napa? Loe jangan marah dong! Ntar gantengnya ilang, kalau gantengnya pindah ke gue gimana!" Arjuna tetap diam. Arjuna beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Mau kemana atuh tong pundung, teu asyik ah!" Indra memegang tangan Arjuna. Arjuna berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Indra.
"Lepasin! Gue mau ke toilet!" Semua tertawa mereka pikir Arjuna marah. Salma juga tersenyum lepas itulah yang membuat Arjuna merasa betah berlama-lama dekat Salma, meskipun terkadang menyakitkan.