Susahnya Bilang Cinta

Susahnya Bilang Cinta
Gadis lain


__ADS_3

'Kenapa begitu sakit rasanya! Harusnya aku mengalah demi Rena' Revan hanya mencoba untuk mengobati hatinya yang terluka. Semua temannya berusaha untuk menghibur termasuk Romi. Revan sedikit bisa tersenyum, baru kali ini seorang Revan yang terkenal playboy, menyukai seorang gadis.


Semua orang pulang, Revan melamun dikamar, ia sangat ingat bagaimana pertama kali ia mulai menyukai Rena. Wajahnya yang cantik, anggun dan sopan santun. Karena Rena memang berasal dari keluarga yang terpandang. Saat Rena tersenyum hatinya meluluh. Arjuna mengetuk pintu saat Revan sedang melamun. Revan membuka pintu kamar.


"Gue ngerti perasaan loe! Sejak kapan loe suka sama Rena? Gue pikir loe suka sama Salma!" Revan hanya tersenyum dan mulai bercerita.


"Gue suka sama Rena sejak pertama kali bertemu, saat dia menjadi murid baru sebagai adik kelas, entah mengapa saat bertemu dengannya hatiku berdebar keras, seperti ada alunan musik bermain di telinga, saat melihatnya merasa nyaman! Cuma gue terlalu pengecut untuk ngedeketin dia, gue jadi playboy supaya menarik perhatiannya, tapi ternyata tidak berhasil! Gue pikir itu akan membuat Rena menyukai gue walaupun sedikit, rasa itu terus tumbuh saat gue membantunya untuk menyatukan loe dan Salma. Terlalu suka hingga membuat gue terluka!" Revan terlihat sangat bersedih bahkan ia terus menarik nafas panjang saat bercerita, terlihat sangat sedih.


Arjuna merasa sedih melihat Revan yang sedang patah hati, sedangkan ia baru menemui kebahagiaan bersama Salma.


"Gue yakin, Rena pasti bakal terbuka hatinya, dari pada dengan Glen! Loe istirahat aja! Dulu gue gimana! Nolak mentah-mentah Salma, hingga akhirnya gue luluh, siapa yang bisa nolak jika terusan diberikan perhatian! Loe pasti bisa dapetin Rena, semangat!" Revan merentangkan tangannya dikasur iamenutup mata, Arjuna meninggalkan.


****


"Kenapa aku harus memikirkan perasaan Revan, dan merasa bersalah dengan kejadian tadi! Kenapa seolah-olah aku melihat wajah Revan!" Rena berbicara sendiri.


Glen mengirim sebuah pesan singkat melalui WhatsApp.


[Aku, gak mau kamu deket lagi sama Revan. Titik. Aku sayang kamu. Please kamu ngertiin perasaan aku]


[Iya, aku juga sayang kamu]


[Besok aku jemput sekolah, good night angel]


Rena tidak membalas pesannya yang terakhir. Ia malah memikirkan perasaan Revan saat ini. Revan terus menerus memikirkan wajah Rena. Sungguh dua perasaan yang rumit.


'Mungkinkah, jika aku bukan pacar Glen, aku akan menerima perasaan Revan'


Keesokan harinya disekolah.


"Hmm ada Revan, aku harus menghindari!" Revan yang melihat dari kejauhan, mencoba mengejar Rena. Ia berdiri di depan Rena.


"Aku mau minta maaf!" Rena melihat wajah Revan, ia melihat wajah Revan sedikit memar di bagian pipi kanannya, sedikit luka didekat bibir ujung. Refleks Rena menyentuh pipi Revan yang terluka. Revan hanya tersenyum bahagia. Rena juga tidak sadar menatap kedua mata Revan. Rena merasa peduli dengan Revan. Tiba-tiba saja telepon masuk, itu adalah Glen.

__ADS_1


Rena menerima telepon dari Glen. Rena pergi meninggalkan Revan.


"Woy ... bengong aja loe! Kesantet gera!" Indra selalu menghibur.


"Gak, hayu kita ke kantin!" Revan


Tiba-tiba telepon berdering, itu panggilan masuk dari Rena.


[Revan, aku boleh minta tolong, kamu kesini, aku ada di belakang taman sekolah!]


Revan bergegas meninggalkan temannya, tanpa membicarakan apa yang terjadi. Revan merasa Rena sedang butuh bantuannya. Tapi Indra mengikuti.


Ternyata Rena sedang bersama Glen. Seketika tubuhnya lemas. Rena memanggilnya, ia terpaksa mendekati dengan sangat tidak setuju. Kedua sahabatnya merasa tidak beres, Glen pasti punya rencana lain.


"Tenang, gue cuma mau minta maaf!" Revan berpikir, ada sesuatu yang aneh. Ia menerima permintaan maaf dari Glen.


Tidak lama datang seorang gadis, menghampiri mereka. Ternyata gadis itu adalah teman Glen, ia akan mengenalkan dengan gadis itu. Betapa hancurnya perasaan Revan. Teganya Rena mengenalkan dengan gadis lain, padahal ia sangat tahu bahwa ia sangat mencintainya. Revan terhimpit oleh keadaan. Revan tidak merespon sedikitpun. Rena mulai berbicara.


"Aku tuh gak suka sama kamu! Jadi biar kamu bisa lupain aku, aku dan Glen berusaha untuk ngenalin kamu dengan perempuan lain! Aku sendiri yang milih Fika" Rena berusaha untuk memberikan sebuah penjelasan yang membuat hati Revan semakin hancur. Indra memandang wajah Revan yang mulai tidak berdaya dengan keputusan Rena, Indra memandang dengan penuh iba.


Fika meminta nomor telepon Revan agar lebih dekat, gadis itu memang manis. Tapi ia tidak bisa menyukai gadis lain, selain Rena. Tapi mungkin ini yang bisa membuat Rena bahagia. Ia ikhlas untuk dicomblangi.


"Eleh, mendingan sama aku aja, masih jomblo seratus persen!" Ucap Indra sambil tersenyum lebar. Fika hanya tersenyum tipis. Arjuna menghampiri mereka, Glen pergi dengan Rena. Sementara Fika pergi. Arjuna dan Indra mengerti perasaan Revan yang hancur seketika oleh Rena. Di lain itu.


Arjuna mencari Salma, ia akan memberikan sebuah buku. Arjuna merasa deg-degan saat melihat Salma.


"Ini, ada buku buat kamu! Buku memasak, kamu pasti suka" Arjuna memberikan buku panduan memasak. Karena ia sangat tahu bahwa Salma sangat suka memasak. Salma sangat bahagia.


Indra cemberut, ia sangat tidak suka dengan pemandangan ini.


"Dasar bucin!" Indra meledek.


Bell berbunyi tanda pulang. Semua orang sibuk untuk pulang. Hari ini pertama kali Arjuna mengantarkan Salma saat menjadi kekasihnya. Masih berasa mimpi untuk Salma. Arjuna memakaikan helm kepada Salma. Salma hanya tersenyum. Ia benar-benar bahagia bisa bersama Arjuna. Arjuna mengajak Salma untuk makan mie ayam kesukaannya. Indra dengan Revan. Mereka makan bersama. Tia hari ini tidak masuk sekolah.

__ADS_1


Saat mereka sedang makan sambil mengobrol, Arjuna menatap dengan penuh serius. Hingga membuat wajah Salma memerah.


"Ih, jangan dilihatin terus dong! Mienya makan, masa cuma lihatin aku!" Dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Habisnya cantik jadi pengen ditatap terus! Jadi keburu keyang"


Indra, sangat tidak nyaman karena ia jomblo.


"Alah, tetap aja gak makan mah gak keyang! Sini gue aja yang makan!" Indra menarik mangkuk mie ayam tersebut. Spontan Arjuna mempertahankan.


"Ih, apaan sih loe! Gue laper! Makanya jangan jomblo!" Arjuna meledek Indra. Indra merasa terpojok.


Revan sejak tadi terdiam tidak berbicara sepatah katapun, ia makan tanpa berbicara. Wajahnya yang galau terlihat sangat jelas. Indra menyikut lengan Arjuna. Mereka berusaha untuk mencairkan suasana. Sepertinya Revan tidak merespon sedikitpun.


Revan pamit pulang duluan.


"Eh, gue masa naik angkot sih! Tega pisan sih, ges jomblo, aduh ampun!" Revan hanya melambaikan tangannya, sepertinya ia hanya ingin sendirian tidak ingin di ganggu.


"Udahlah, biarin aja dia sendiri dulu! Kita beri dia waktu untuk menenangkan dirinya" Arjuna mengerti perasaan Revan yang ingin sendiri.


Dreet ... dreet ... dreet ...


Suara telepon berdering dari handphone Arjuna. Nomor baru masuk, siapakah yang menelpon Arjuna. Arjuna mengangkat teleponnya.


[Halo selamat siang, benar ini dengan Arjuna?]


[Iya, benar]


[Maaf, kami toko yang anda masukkan produk minuman cokelat, kami akan terima kontrak anda, bisa datang besok ke kantor kami]


[Alhamdulillah, baik Bu. Besok saya kesana, terimakasih banyak]


Arjuna sangat bahagia akhirnya usahanya berhasil, ia memeluk Salma. Indra mayun karena cemburu melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


"Jangan mayun, bebek aja kalah kayanya sama loe!" Arjuna dengan tertawa lepas. Semua orang tertawa bersama. Revan berada di sebuah sungai kecil, dekat kampung. Ia memang sering kesana.


__ADS_2