Tak Secepat Kujatuh Cinta

Tak Secepat Kujatuh Cinta
AWAL PERMASALAHAN


__ADS_3

FLASBACK


Imelda Asmara (Ida), gadis yatim piatu berpenampilan sangat sederhana dan apa adanya yang berusaha keras untuk menggapai cita-citanya melalui beasiswa, sekarang dia kelas 3 sma di Surabaya. Namun saat kelas 3 ini banyak sekali rintangan yang dia hadapi setiap harinya.


Di suatu malam.


"Ini dimana? Aduh! Aku ketiduran di kelas lagi, kok gak ada yang bangunin yah tega bener sama aku," ucap Ida sambil mengucek matanya yang baru melek itu.


Dia melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 19.00 . Ida buru-buru keluar kelas lalu berjalan di lorong yang gelap.


"Ih! Sekolah serem juga ya kalo malam," ucapnya sambil berjalan di lorong.


Ketika melewati ruang guru tiba-tiba dia mendengar sesuatu "Srek-srek! " . Lalu dia beranikan diri untuk melihat ke ruang guru itu. Dia membuka pintu tersebut pelan-pelan "Krek!".


"Sial!" ucap lirih seorang yang memakai hoddie hitam di dekat sebuah meja, dia sedang membakar kertas.

__ADS_1


" Eh! Jangan-jangan itu pulah(pembuat ulah)," ucap Ida lirih.


"HEI! KAMU PULAH YA . AKU AKAN MENANGKAPMU. JANGAN KABUR!" teriak Ida.


Sosok itu membakar kertas seperti dokumen, kemudian lari melalui jendela yang kacanya di pecahkan oleh sosok ber-hoddie itu dengan menggunakan kursi. Ketika Ida berusaha keluar dari ruang guru untuk mengejar orang itu, tiba-tiba ada seseorang datang.


"Oh, jadi selama ini kamu yang membuat onar di sekolah?" ucap Pak Yoga Guru BK.


"Bu-bukan pak, tadi saya melihat pulah disini . Mau saya tangkap tapi dia kabur lewat jendela," jelas Ida dengan terbata-bata.


Pak Yoga membiarkan Ida membela diri. Dia sibuk menginjak-injak dokumen yang terbakar itu supaya apinya padam. Tak mempedulikan penjelasan Ida, Pak Yoga mendudukan Ida di kursi lalu berkecek pinggang.


"Gara-gara kamu setiap malam para guru harus selalu bergantian buat jaga sekolah!" serunya pak Yoga lagi.


"Tapi beneran pak bukan saya pelakunya, saya bukan pulah," bela Ida.

__ADS_1


"Ahh! Sudahlah kamu tidak usah banyak alasan!" bentak pak Yoga.


Ida ketakutan tak berani menjawab lagi, dia merasakan air matanya kini mengalir di pipi.


Pak Yoga melihat jam di tangannya.


"Sekarang kamu pulang, besok pagi segera ke ruang guru. Kalau kamu tidak masuk, sekolah akan mencabut beasiswamu secara otomatis. MENGERTI TIDAK?!" Ucap pak Yoga dengan keras.


"Ba-baik pak, saya mengerti," jawab Ida dengan gugup.


Ida berjalan ke parkiran untuk mengambil sepeda onthel miliknya, jarak sekolah dengan rumah Ida tidak terlalu jauh, sekitar 1 KM. Dia mengayuh sepedanya dengan perlahan, sembari menahan dinginnya angin malam yang terasa menusuk hingga ke tulang rusuk. Jaket yang di pakai tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya itu. Sampai di rumah pukul 20.15, dia segera mandi dengan air hangat supaya tidak masuk angin dia membuat minuman jahe untuk menghangatkan badannya. Malam ini dia tidur lebih awal untuk mempersiapkan diri atas segala kemungkinan yang akan dia hadapi esok.


Kita Sebagai Manusia Hanya Bisa Merencanakan Akan Segala Sesuatu, Yang Kemungkinan Akan Terjadi Di Kemudian Hari, Kita Harus Selalu Siap Untuk Menghadapinya.


Bersambung......

__ADS_1


Dari Author : "Terimakasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk singgah di novel recehku ini, jika penasaran dengan kelanjutan cerita ini jangan lupa *LIKE, KOMEN, FAV ORIT*."


Terimakasih banyak 💦


__ADS_2