Tak Secepat Kujatuh Cinta

Tak Secepat Kujatuh Cinta
25. ~ ~


__ADS_3

"Eng ... Enggak kok," jawab Ida yang masih memalingkan wajahnya.


"Kamu mau suamimu masuk angin? Bantu keringin rambutku ya, sayang?"


"Ya udah, kamu duduk dulu ... Aku ambil hair dryer dulu."


Hae duduk di depan cermin rias, dia tersenyum kecil melihat Ida yang malu-malu kucing saat di godanya.


Ida, mengambil hair dryer di laci kemudian menghampiri Hae, dan mulai mengeringkan rambutnya.


Ida mulai mengeringkan rambut Hae dengan lembut, sesekali dia memberikan pijatan pada kepala Hae, supaya Hae merasa lebih rileks.


Dalam keadaan seperti ini, Ida lupa tentang hal yang akan di tanyakan pada Hae.


"Emm ... Pijitan kamu nyaman sekali, sayang," ucap Hae memecah keheningan.


"Gimana kalo kamu pijitin punggungku juga, kamu sangat pandai memijat," sambung Hae.


"Apa Oppa capek?" tanya Ida.


"Yaa, sangat capek, asalkan kamu tahu sayang, selama seminggu ini aku ngejar target pagi, siang, malam pasti selalu ada meeting, maaf tidak sempat memberi tahu mu?"


Barulah Ida sadar tentang apa yang ingin di tanyakan pada Hae, setelah mendengar ucapan Hae tersebut.


"Meeting dengan Shin, maksudmu?" celetuk Ida dan turut menghentikan pijatan di kepala Hae.


Saat Ida hendak pergi menjauh dari Hae, tidak segan-segan Hae langsung berbalik badan menarik tangan Ida dan membiarkan Ida duduk di pangkuannya.


DEG!


Jantung Ida rasanya ingin lepas, kini dia duduk di pangkuan Hae yang tidak memakai baju dan hanya berbalut handuk.


"Apa kamu cemburu?" tanya Hae sambil menatap Ida dan tangannya mendekap pinggang Ida erat.


"Menurut kamu!" seru Ida sambil memalingkan wajahnya yang memanas, dia tak kuasa menatap mata Hae.


"Kamu cemburu, sayang?" bisik Hae lembut di telinga Ida.


"Oppa! Lepaskan aku mau tidur, cepat minum tehnya biar ngga masuk angin," suruh Ida yang berusaha melepaskan diri dari pangkuan Hae.

__ADS_1


"Aku ngga akan lepas, sebelum kamu jawab," tukas Hae, dia semakin mengeratkan pelukannya.


Ida menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Hae. Dia memberanikan diri menatap Hae walau detak jantungnya sangat kencang. Sekencang mobil balap.


"Oppa! Seharusnya aku yang patut bertanya, masalah aku cemburu atau tidak itu kamu pikir aja sendiri!" gerutu Ida.


"Kamu mau tanya apa, sayang?" ucap Hae sambil mencium telinga Ida.


GERR!


Bulu kuduk Ida berdiri dan tubuhnya memanas bergetar seperti tersengat aliran listrik, tapi dia berusaha mengontrol dirinya.


"Bagaimana kamu menjelaskan tentang Shin, yang setiap hari mengunjungimu?"


Hae berpikir sejenak sebelum menjawab, dia menghela nafas dan melepaskan pelukannya pada Ida, lalu dia berjalan mengambil pakaian di lemari.


Sambil memakai baju dan memunggunggi Ida yang masih berdiri mematung di depan meja rias "Maaf aku belum memberitahumu tentang hal ini ... Sebenarnya publik belum tahu kalo aku sudah menikah, dan tentang Shin ... Dia hanya menjadikanku temeng untuk mencari popularitas, apa kamu percaya padaku?"


Aku tidak tahu, aku semakin bingung.


Ida tidak menjawab, dia hanya diam menuju ranjang dan meringkuk dalam selimut membawa pikirannya agar segera memulai mimpi namun, tidak bisa.


"Sayang ... Aku akhir-akhir ini benar-benar lembur, karena aku akan pergi ke acara amal dan pengesahan cabang perusahaan di kota L selama beberapa hari ke depan," ucap Hae.


Ida tidak menjawab, dia pura-pura tidur.


Namun, pada kenyataannya pikirannya melayang memikirkan akan segala kemungkinan yang terjadi padanya.


Aku ngga tahu, harus percaya sama atau engga Hae! ~batin Ida.


"Aku harap kamu percaya, Ida, perlahan-lahan pasti akan ku beritahukan bahwa kamu lah orang yang paling aku cintai, tapi tidak untuk sekarang, ku harap kamu mengerti," sambung Hae lagi.


DEG!


Ida tidak tahu harus menjawab apa. Dia masih melanjutkan tidurnya yang hanya pura-pura itu.


Beberapa saat kemudian, setelah merasa Hae sudah tertidur, Ida memberanikan diri untuk membalikkan badannya dengan sangat pelan dan kini sedang menatap wajah Hae yang terlihat sangat tampan saat tertidur, orang yang terlihat begitu polos dari luar dan membuat Ida bingung dengan sikapnya.


Sebenarnya kamu ini orang yang seperti apa Hae? ~gumam Ida.

__ADS_1


Ida bingung di buatnya, dia harus melakukan sesuatu untuk menemui titik terang akan kehidupan rumah tangganya yang baru berumur sebiji jagung itu.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul, 05.00 KST.


Hae bangun terlebih dulu sebelum Ida, karena hari ini adalah keberangkatannya ke kota L.


Saat bangun, Hae sedikit terkejut namun, juga senang karena Ida menggunakan dada bidang Hae sebagai bantal dan tangan kiri Ida tepat di bahu Hae.


Hae mengelus rambut Ida, mencium pucuk kepalanya, menidurkan Ida ke bantal dengan sangat pelan agar Ida tidak terbangun.


Hae berhasil menidurkan Ida tanpa membuatnya terbangun, sebelum melangkahkan kaki turun dari ranjang dengan sangat pelan, lembut, dan singkat Hae mencium bibir Ida.


CUP!


Makasih morning kissnya, untuk beberapa hari kedepan, mungkin kita ga bakalan ketemu, aku pasti akan sangat merindukanmu ~gumam Hae sambil berjalan menuju kamar mandi.


Ketika Hae memindahkan kepala Ida ke bantal tadi, sebenarnya Ida sudah terbangun namun, dia pura-pura masih tidur.


Ida segera mengambil ponselnya yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Kemudian dia menghubungi Lee.


In Call


"Siapkan mobil untukku, dan jangan beritahu kakakmu, aku ada sedikit urusan yang harus di selesaikan."


Bersambung...


Bagaimana ceritanya? Alurnya jelas tidak, apa ceritanya kurang menarik?


Berikan kritik dan sarannya ya jika berkenan 😊


Like , Komen, Vote, jika tidak keberatan


Terimakasih 💦

__ADS_1


__ADS_2