
Ida berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan badan. Hae menunggu Ida sambil memainkan ponsel di sofa kamar.
Seharian ini, jantung Ida tidak pernah berhenti maraton saat dekat dengan Hae.
Di kamar mandi, di sediakan sabun khas aroma melati, shampo aroma melati, dan semua serba aroma melati, ada juga lilin aroma terapi yang di tempatkan, di ujung washtafle yang bisa menyegarkan dan menenangkan pikiran.
Ida membersihkan badannya dengan lembut. Bermain dengan busa-busa dan menikmati kehidupannya untuk sesaat, walaupun dia masih bingung dengan keadaan.
Pernikahan dadakan? ~itulah yang masih terngiang-ngiang di pikiran Ida.
Setelah selesai mandi, Ida keluar dengan mengenakan piyama berwarna merah, dia merasa segar.
Ketika berjalan keluar dari kamar mandi, Hae menyadari kedatangan Ida dan menatapnya dengan penuh keheranan, tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Hae kagum dengan kecantikan isterinya itu.
Dia terlihat semakin cantik setelah mandi, dan wangi ini cocok sekali dengannya! ~ batin Hae, sambil terus menatap isteri kecilnya.
Ida merasa malu karena Hae terus menatapnya, dia menyeret tangan Hae dan menyuruhnya untuk segera mandi.
"Jangan menatapku seperti itu Oppa! Kamu berhutang penjelasan padaku, pergilah mandi sekarang," suruh Ida sambil menyeret tangan Hae, supaga beranjak dari tempat tidur.
Hae menurut tidak bisa berkata-kata.
"Aneh banget deh," ucap Ida sambil melihat punggung Hae yang berjalan memasuki kamar mandi.
Terlalu lama menunggu Hae, karena terlalu capek Ida tertidur.
Jam masih menunjukkan pukul 18.00.
Setelah selesai mandi, Hae keluar dan melihat Ida sedang tertidur pulas, dia tidak tega membangunkannya.
Dia berjalan mendekat ke Ida, masuk ke dalam selimut yang sama dengan Ida, dan memeluknya dari belakang.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 01.00.
krucuk-krucuk! bunyi dari perut Ida.
Kemudian Ida terbangun . Dia merasa ada beban berat di perutnya. Apalagi kalau bukan tangan Hae.
Ida terkejut dan membeku untuk beberapa saat, kemudian dia menyingkirkan tangan Hae secara perlahan, berharap Hae tidak terbangun.
"Mau kemana?" tanya Hae dengan nyawa yang belum terkumpul semua dan masih memejamkan mata.
"Aku lapar."
"Emmh ... Aku juga belum makan, yuk cari makan di dapur," ajak Hae sambil mengambil posisi duduk dan setengah sadar mengucek-ucek matanya yang baru melek.
Ya ampun! Ternyata dia juga belum makan yah, ~batin Ida.
Kemudian mereka pergi ke dapur, tiba di dapur tidak ada makanan sama sekali. Hanya ada dua sandwich dan dua gelas susu putih di dalam kulkas.
__ADS_1
"Apa kamu ingin makan yang lain?" tanya Ida.
"Kalo aku sih tidak, tapi jika kamu ingin makan yang lain, aku akan membangunkan Bibi Han."
"Nggak usah deh, ini aja."
"Ya sudah," ucap Hae lembut.
Kemudian mereka mulai makan seadanya.
Mayones yang ada di dalam sandwich membuat Ida jadi belepotan kesana kemari ketika memakannya, Ida tidak sadar akan hal itu karena dia terlalu lapar. Hae yang melihatnya terkekeh geli.
"Apa sih?"
Hae tidak menjawab, tapi dia mengusap mayones yang ada di ujung bibir Ida menggunakan tangannya dengan lembut, lalu Hae memakan mayones yang dia pindahkan dari bibir Ida.
Ida yang melihat tingkah Hae pun terkejut, tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa melongo melihat tingkah Hae.
"Sayang mayonesnya, kalau tidak di makan," ucap Hae sambil mengedarkan pandangan ke arah lain.
Ida masih melamun, sambil memegang sandwich -nya yang masih tersisa.
"Kamu sudah apa belum?" tanya Hae, yang membuat Ida tersadar dari lamunannya.
Ida tidak menjawab, kemudian dia memasukkan sisa sandwich, ke mulutnya semua.
Makan mereka di akhiri dengan meminum susu, setelah itu beranjak dari kursinya, berniat untuk mencuci tangan dan bekas minum mereka.
Ida berjalan menuju washtafle dan mulai menyalakan kran. Hae menyusul dan memeluk Ida dari belakang.
Kemudian tangan Hae meraih kran tersebut dan mematikannya.
"Ida, apa kamu tidak ingin?" bisik Hae.
Nafas Hae yang berhembus membuat telinga Ida terasa hangat dan merinding.
"Ing-ingin apa maksud kamu?" tanya Ida dengan gugup.
"Ayo ke kamar, aku akan menunjukkannya padamu," ajak Hae.
Apa yang mau dia lakukan, aku tidak menginginkan apapun. Aku tidak punya pengalaman apapun, pacaran saja belum dan lalu menikah. ~Ida bingung dan terhanyut dalam pemikirannya sendiri.
Hae menggandeng tangan Ida, mereka berjalan berdampingan.
Tiba di kamar, Hae menyuruh Ida untuk duduk di sofa, Ida menurut.
Hae berjalan menuju lemari untuk mengambil sesuatu, terlihat album foto tebal dibawa mendekat ke Ida. Dia duduk di sebelah Ida dan membuka lembaran-lembaran album tersebut, dan berhenti di sebuah foto seseorang yang sudah tua dan berpakaian dokter.
"Siapa ini? Wajahnya tidak asing," tanya Ida sambil menunjuk foto tersebut.
"Dia halmeoni (nenek), pasti kamu mengingatnya, karena dia yang telah memberimu cincin permata empat tahun yang lalu, ingat?" tanya Hae sambil menatap Ida.
Ida mulai mengingat-ingat wajah nenek tersebut, dan benar wajah nenek yang meminta belas kasihan Ida, empat tahun lalu adalah orang yang ada di foto.
"Apa maksudnya ini? Aku belum paham," tanya Ida sambil menatap Hae.
__ADS_1
Hae menjelaskan mengapa dia menikahi Ida dan juga siapa nenek itu sebenarnya.
FLASHBACK ON, ketika ayah Ida mengalami kecelakaan.
"Berhenti, sepertinya di depan ada orang kecelakaan, aku akan melihatnya," suruh Naomi neneknya Hae.
Sopirpun menghentikan mobilnya tepat di samping orang yang kecelakaan tersebut. Naomi turun untuk melihat keadaan orang tersebut, dan orang itu adalah ayahnya Ida.
"Kamu mengeluarkan banyak darah dan nadimu sangat lemah, apa kamu bisa mendengarku?"
"Sa-saya punya permintaan terakhir, saya mohon jagakan anak perempuan sa-saya satu-satunya, berjanjilah pada saya Nyonya, saya bisa pergi dengan tenang setelah anda berjanji. Dia anak yang baik," ucap lirih Ayah Ida bagaikan suatu bisikan, sambil meneteskan air mata dan menyerahkan sebuah foto yang berlumuran dengan darah kepada Naomi.
Setelah itu, ayah Ida memejamkan mata dan tertidur untuk selama-lamanya.
"Pergilah dengan tenang, walaupun aku tidak mengenal siapa dirimu, aku akan menjagakan anakmu," ucap Naomi pada mayat yang terkulai di aspal pinggir jalan tersebut.
Setelah kejadian itu, Naomi menyuruh orang-orangnya untuk mejaga Ida dari kejauhan, setelah beberapa tahun kemudian.
Naomi, pensiun dari pekerjaannya sebagai Dokter. Dia berfikir ini waktu yang tepat untuk menunjukkan jalan terang bagi Ida.
Kemudian dia menyamar sebagai pengemis, bertujuan untuk memberikan cincin permata, supaya saat Ida pergi ke belahan dunia manapun, cucu Naomi bisa menemukannya. Naomi akan menjodohkannya dengan salah satu cucunya, yaitu Hae. Jadi semua yang terjadi pada Ida sudah di rencanakan sejak ayah Ida meninggal.
FLASHBACK OFF
Mendengar semua kejadian itu dari Hae, air mata Ida tidak bisa berhenti mengalir, semakin di paksa berhenti, semakin deras pula aliran air matanya.
Hae memeluk Ida dengan erat dan di balas oleh Ida.
"Menangislah sepuasnya, aku tidak melarangmu untuk menangis," ucap Hae sambil mengeratkan pelukannya.
Setelah beberapa saat Ida menangis, akhirnya dia lebih sedikit tenang sekarang dia melepaskan pelukan Hae dan menatapnya dengan mata yang agak bengkak karena menangis.
"Aku penasaran dengan satu hal, bagaimana bisa kamu mengurus surat pernikahan secepat ini? Sedangkan kamu baru melemarku hari ini?"
"Apa kamu ingat ketika kamu mengirim e-mail lamaran pekerjaan ke butik Eomma? Aku memanfaatkan semua dari situ, karena nenek sangat menginginkanmu ... jadi mau tidak mau kamu harus tetap menerima pernikahan ini," jelas Hae.
Pantas saja ada banyak syarat waktu aku melamar pekerjaan, aku nggak kepikiran sampai sejauh itu ~batin Ida sejenak.
"Jadi, kamu menikahiku hanya karena nenekmu? Bukan karena kamu mencintaiku," tanya Ida dengan serius dan menatap mata Hae.
"Tak kenal, maka tak sayang. Kita akan memulai awal yang baru dari sekarang, aku juga punya alasan sendiri kenapa aku menerima perintah nenek, dan masalah cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu," jelas Hae sambil membalas tatapan dengan lembut dan hanya di respon anggukan kepala oleh Ida.
Kemudian, Hae menidurkan Ida.
Dan......
.
.
.
Bersambung....
LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORIT jika tidak keberatan 😁👍
__ADS_1
Terimakasih, sudah membaca 💦