
Akhirnya mereka tiba di rumah Hae.
Sopir membukakan pintu untuk mereka berdua, kemudian mereka turun dari mobil.
Hae mengulurkan tangannya, untuk memapah Ida turun dari mobil, Ida menurut walaupun dia sedikit tersipu.
Ketika turun dan menginjakkan kaki di halaman rumah Hae untuk yang pertama kali, selama beberapa saat Ida terkagum oleh rumah yang ada di depannya itu.
"Selamat datang di rumah suami mu, Ida," ucap Hae sambil membentantangkan tangan di depan Ida.
Ida mencubit perut Hae dan berbicara dengan malu-malu, "Suami apa sih, nikah aja belum."
"Aw! Masuk yuk, Eomma sudah menunggu di dalam," ajak Hae dengan menarik tangan Ida.
Sopir, membukakan pintu untuk mereka.
Melangkahkan kaki memasuki rumah yang begitu mewah untuk pertama kalinya, jantung Ida semakin berdegup dengan kencang, rasanya seperti ingin lepas dari pemiliknya.
Aroma rumah mewah sungguh berbeda dengan apartment mungil tempat Ida tinggal.
Bau khas bunga lavender yang maskulin membawa ketenangan dan kenyamanan saat Ida memasuki ruang tamu.
Terlihat di sudut ruangan Eommanya Hae, duduk di sofa sambil membaca majalah dengan di temani secangkir green tea dan cookies coklat, yang aromanya menusuk hidung.
"Eomma, aku membawa janjiku untukmu," sapa Hae pada Nyonya Chan.
Nyonya Chan, menoleh melihat kedatangan anaknya itu sambil tersenyum hangat.
"Annyeong, senang bertemu lagi dengan anda Nyonya Chan," ucap Ida sambil membungkukan badannya.
"Uhm! Senang bertemu kembali dengan mu gadis sopan santun yang bekerja di Butik! Mari kita bicara sambil duduk," ajak Chan.
Ida menurut, dia duduk tepat di samping Hae dengan gemetar.
'ini keluarga kaya loh, apa mereka benar-benar menginginkan ku disini, aku hanya seorang yatim piatu,'~batin Ida.
"Iya, mama sudah tau dia kan. Dia gadis pilihan dan harapan terakhirku Eomma," jelas Hae dengan serius pada Chan, Ida hanya terdiam membisu menundukkan kepala tidak tahu maksud dari ucapan Hae, 'harapan terakhirku'.
"Lebih cepat lebih baik Hae, segeralah menikahi gadis ini," ucap Chan dengan lembut.
__ADS_1
"Eomma menetujuinya?"
"Tentu saja."
"Eomma, gamsahabnida. Aku menyayangimu Eomma," ucap Hae sambil memeluk Eommanya.
"Anyeo, ayo kita makan! Bibi Han, sudah masak buat kalian," ajak Chan yang di ikuti oleh mereka, menuju meja makan.
Tiba di ruang makan, Ida di buat kagum lagi oleh ruangan tersebut. Dia berfikir 'Siapa sebenarnya Hae ini, dia sangat kaya. Tapi... Ah sudahlah. kamu ikuti saja dulu Ida kata-kata Hae, semoga dia benar-benar menyukaimu.'
"Jangan melamun, ayo duduk." ajak Hae sambil menggeser kursi untuk Ida.
"Eh, iya,"
"Silahkan, ambil apa pun yang kamu suka. Selamat makan," ucap Chan.
"Selamat makan," balas Ida.
Mereka menyantap makanan yang ada tersedia di meja, hingga tersisa sedikit. Ida tidak makan dengan banyak karena sebelum dia ke rumah Hae tadi sudah makan di kafe.
Setelah selesai makan, Hae mengajak Ida untuk mengelilingi rumahnya. Memperkenalkan Ida pada orang-orang yang tinggal di rumah itu.
"Wah! Perpustakaan ini, sama besarnya dengan yang ada di kampus ku, dulu," ucap Ida dengan kagum dan melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
"Benarkalh, disini semua buku yang kamu cari ada, novel, buku sejarah, dan lain-lain," jelas Hae yang berdiri di samping Ida, sambil mengelus bahu Ida, membuat jantung Ida kembali berdegup dengan kencang.
"Uhm! Bagaimana dengan pekerjaan ku? Apa aku masih harus bekerja di Butik Chantex?"
"Tidak perlu, sayang. Kamu akan menjadi Ibu untuk anak-anak kita, jadi teteplah tinggal di rumah, dan lakukan apa pun yang kamu suka," ucap Hae sambil membalik tubuh Ida, supaya menghadap ke arahnya.
Ida membalas tatapan Hae, jantungnya semakin tidak karuan.
"An-, anak? Aku belum memikirkan itu,"
"Baiklah, kita akan memikirkannya setelah menikah," goda Hae pada Ida, dia mengedipkan matanya.
Setelah dari perpustakaan, Hae mengajak Ida ke kolam renang belakang rumah, lalu ke dapur mengenalkannya pada pengurus rumah, dia adalah Bibi Han, usianya memasuki kepala 5. Suaminya tukang kebun namanya Pak. Han.
"Senang bertemu dengan anda Nona Ida," ucap Bibi Han, setelah mereka berkenalan.
"Jangan panggil aku Nona, panggil saja namaku," suruh Ida.
__ADS_1
Hae menatap Bibi Han dengan tajam tanpa sepengetahuan Ida, Bibi itu tersenyum kikuk dan tidak menjawab, buru-buru pergi dengan alasan melanjutkan pekerjaannya yang belum beres.
Mereka melanjutkan kegiatan untuk mengelilingi seluruh rumah.
"Mulai malam ini, tinggal lah disini," pinta Hae.
"Tapi barang-barang ku?"
"Mana kunci apartment mu? Aku akan suruh Xiao (Sopir Pribadi) mengambilnya,"
"Hemm. Nee," jawab Ida.
Jam dinding menunjukkan pukul 16.00, mereka selesai berkeliling. Hae mengajak Ida ke kamarnya.
"Mandilah dulu, kamu terlihat sangat lesuh, ini kamar kita," suruh Hae.
"Apa kita satu kamar mulai malam ini?"
"Tentu sayang, kita sudah menikah," ucap Hae sambil menunjukkan surat pernikahan di tangannya.
Ida heran, dengan apa yang di lakukan Hae. Mereka menikah tanpa ada upacara pernikahan seperti kebanyakan orang. Namun Ida tidak mau berpikir lebih jauh, ini sudah di putuskan, dia hanya tinggal menandatangani surat pernikahan tersebut.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Like, Komen, Vote, Favorit, jika tidak keberatan 😊
.
.
Terimakasih 😁👍
__ADS_1