Tak Secepat Kujatuh Cinta

Tak Secepat Kujatuh Cinta
28. (╥﹏╥)


__ADS_3

Setelah punggung Hae dan Shin sudah tidak terlihat lagi, Lee segera melepas pelukannya dari Ida.


"Kamu apa-apaan, sih?!" gerutu Ida sambil mendorong Lee.


"Maaf, nggak bermaksud lancang ... Apa kamu nggak lihat, tadi ada Hyung sama Shin?"


"Ap-apa? Kalau gitu ayo kita ikutin mereka," ajak Ida.


"Hmm ...."


"Pak, antar barang-barang ini ke kamar saya dulu, ini kuncinya ... kami masih ada urusan sebentar," suruh Ida.


"Baik," jawab lelaki pengantar barang.


.


.


.


Ida dan Lee segera mengikuti Hae dan Shin, sebelum mereka tertinggal terlalu jauh.


.


.


.


Mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan paling populer di kota tersebut dengan menggunakan taksi. Ida dan Lee mengikuti mereka dari belakang.


Tiba di tempat Hae dan Shin menuju ke toko pakaian brand ternama yang berada di lantai tiga.


Mereka terlihat sangat dekat, sesekali Shin pergi ke ruang ganti dan keluar sambil memperlihatkan penampilannya kepada Hae namun, Hae belum puas dengan pakaian yang di kenakan Shin.


Hingga tiba dengan dress pilihan terakhir berwarna putih yang panjangnya hanya selutut, berhiaskan pita di bahu sebelah kiri dan bahu sebelah kanan di biarkan terbuka. Shin terlihat sangat menawan.


Hae yang melihatnya langsung berdiri dan berkata. "Ini baru bagus, sesuai dengan kemeja yang akan aku gunakan."


"Oppa, suka?" tanya Shin yang hanya di respon anggukan oleh Hae.


Setelah selesai memilih pakaian, mereka langsung membayarnya di kasir.


"Oppa ... makan dulu, yuk?" ajak Shin sambil merangkul lengan Hae.


"Ayo," jawab Hae singkat, ia tak mengelak ketika Shin merangkul tangannya.


Ida yang melihat kejadian tersebut di depan mata kepalanya sendiri hanya bisa mengelus dada, menahan amarah dan sakit hatinya.


Untuk sesaat Lee melirik wajah Ida, terlihat ada bendungan air di matanya saat itu, ia hanya bisa mengelus pundak Ida dengan lembut, seakan ia turut merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Ida saat ini, bagaimana ia bisa sekuat ini.


"Apa kamu masih ingin mengikuti mereka?" tanya Lee dengan nada paling lembut.


"Tentu ... Kenapa tidak!" jawab Ida sambil tersenyum getir dan berjalan mendahului Lee.


Mereka mengikuti Shin dan Hae hingga di tempat makan, tak tertinggal satupun gerak-gerik apapun yang mereka lakukan, kemudian Lee dan Ida memesan meja tepat di samping mereka yang hanya berjarak satu meja dari tempat duduk mereka.


Ketika menunggu makanan yang di pesan datang, Ida mengeluarkan ponselnya. Ia berpikir untuk mengirim pesan kepada Hae. Ia ingin tahu seberapa besar kebohongan yang Hae lakukan.


Isi pesan 💬


👩 "Sudah tiba 'kah? Sedang apa?"


👨 "Maaf, sayang ... Belum sempat memberimu kabar."

__ADS_1


👨 "Kamu udah kangen, ya 😁?"


Ida senang karena Hae segera membalas pesan darinya, namun ia juga bingung. Kenapa Hae tidak langsung menjawab tapi malah balik bertanya.


👩 "Kamu sekarang di mana?"


👨 "Di restoran, aku baru saja mau makan siang, kamu jangan lupa makan, ya?"


👩 "Kalau boleh tahu, sama siapa kamu makan siang?"


👨 "Shin."


👨 "Kamu jangan berpikir banyak, ya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


👨 "Asalkan kamu tahu, sejak turun dari pesawat tadi, kami di ikuti paparazi, sayang!"


Ida tak membalas pesan beruntun yang di kirim oleh Hae. Namun, ia senang Hae telah jujur kepadanya. Lalu ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling apakah benar ada paparazi.


"Ida, apa yang kamu lakukan?" tanya Lee bingung melihat tingkah Ida.


"Eh! Nggak, makanannya lama banget ya," jawab Ida mengalihkan pembicaraan.


"Entahlah ...."


Setelah selesai makan dengan agak tenang Ida dan Lee segera kembali ke hotel. Karena Shin dan Hae juga langsung kembali ke hotel.


Benar yang di katakan Hae, bahwa ada reporter mengikuti mereka. Ida mengetahuinya karena ia masuk ke dalam lift bersamaan dengan Ida.


Namun, saat di dalam lift reporter itu menyadari bahwa ada Lee di situ.


"Maaf, anda tuan Lee Chan, ya? Adiknya Hae Chan!" sapa reporter sambil mempertajam penglihatannya.


Gawat!


"Iya," jawab Lee singkat.


Akhirnya tiba di lantai tiga, mereka segera keluar lift sebelum reporter itu melontarkan lebih banyak pertanyaan lagi.


Mereka segera pergi menuju ke kamar Ida karena barang yang di bawa oleh Lee masih berada di kamar Ida, mereka masuk kamar lalu Ida menguncinya dari dalam sambil menunggu reporter itu pergi.


"Asatga ... Semoga reporter tadi nggak ngenalin wajahku!" ucap Ida khawatir.


"Nggak bakalan, Ida ... Kamu tenang saja," ujar Lee menyemangati Ida.


Setelah reporter tersebut sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya di koridor hotel, Lee langsung pergi ke kamarnya dan membawa barang-barangnya.


.


.


.


Ida masih memikirkan semua yang terjadi padanya hingga saat ini, sampai ia tertidur dengan sangat lelap.


.


.


.


Keesokan harinya, tidak ada tanda-tanda bahwa Hae meninggalkan kamarnya, mungkin ia mempersiapkan pidato untuk malamnya nanti saat acara amal.


Entah kenapa ketika acara amal tiba, Ida tidak ingin mengikuti Hae, ia yakin pasti akan banyak reporter disana, jadi ia hanya meminta bantuan kepada Lee untuk mengikuti Hyung-nya.

__ADS_1


Di pesta


Ketika acara dansa Lee memotret kebersamaan Shin dan Hae, lalu ia mengirimnya kepada Ida.


Isi pesan Lee 💬


👦 "Hanya ini yang mereka lakukan, Ida ... Tidak ada hal lain, aku akan segera kembali ke hotel, perutku sedang tidak mendukung kali ini. Maaf ya, Ida?"


👩 "Segeralah kembali, kesehatanmu lebih penting ... Lagian sebentar lagi acaranya selesai 'kan?"


👦 "30 menit lagi selesai, Ida."


Jam menunjukkan pukul 22.00, Ida tertidur ketika sedang mengamati foto yang di kirimkan Lee.


Di sisi Hae.


Terlihat di meja tempat minuman di letakkan, Shin meneteskan sesuatu pada segelas wine. Kemudian ia membawanya dan memberikannya pada Hae.


Tanpa ragu Hae yang sedang mengobrol dengan rekan kerjanya itupun langsung menerima meneguk wine yang di berikan oleh Shin itu tanpa pikir panjang.


Shin yang melihat Hae meneguk wine itu sampai habis, sangat senang ia tertawa dalam hati.


Tunggu obatnya bereaksi satu jam lagi, aku akan bersiap-siap dan menunggumu.


Lihat saja, bagaimana aku akan menghancurkan rumah tanggamu, Hae!


Kalau aku tidak bisa memilikimu, jangan harap orang lain bisa mengambilmu dariku.


"Oppa! Aku balik dulu, ya?" tukas Shin yang di susul dengan mencium pipi Hae.


"Oke," jawab Hae singkat.


Lalu, Shin meninggalkan Hae yang sedang asik mengobrol dengan rekan kerjannya.


Belum genap satu jam Hae merasa kepalannya berontak badannya terasa sangat panas ia berkeringat, jadi ia memutuskan untuk pergi sebelum pesta berakhir.


Ia tiba di hotel, panasnya sudah tidak tertahankan lagi bagi Hae. Ia masuk ke kamar dengan langkah terhuyung-huyung. Ia terkejut namun sedikit senang karena terlihat seseorang sedang tidur terlelap di ranjangnya.


Apa yang terjadi padaku, kenapa panas sekali. Apa aku harus menghilangkan ini semua dengan melampiaskan ketegangan ini padanya?


Aku minta maaf ... Aku sudah tidak tahan lagi.


Karena merasa sangat panas Hae melepaskan pakaiannya dan hanya tertinggal celana pendek bagian dalam yang menutupi kegagahan tersebut.


.


.


.


Kira-kira siapa yang akan menjadi tempat untuk meluapkan ketegangan Hae.


.


.


.


Bersambung....


Like, komen, Vote jika tidak keberatan 🌺


Terimakasih 😁👍

__ADS_1


__ADS_2