Tak Secepat Kujatuh Cinta

Tak Secepat Kujatuh Cinta
26.


__ADS_3

In Call


"Siapkan mobil untukku, dan jangan beritahu kakakmu, aku ada sedikit urusan yang harus di selesaikan."


"Kamu mau kemana?"


"Jangan banyak tanya, please!"


"Temui aku di teras dekat kolam dulu sebelum pergi," ucap Lee yang langsung mengakhiri panggilan.


End call


Apa sih, aku belum jawab juga, udah di matiin aja teleponnya. Batin Ida agak sebal.


Ida duduk di samping ranjang menunggu Hae yang masih mandi sambil memainkan ponsel.


Setelah menunggu beberapa saat barulah Hae keluar dari kamar mandi.


"Kamu udah bangun?" tanya Hae berjalan keluar dari kamar mandi sambil melirik ke arah Ida, kemudian menuju ke arah lemari untuk mengambil dan mengenakan pakaiannya.


Ida yang sedang asik memainkan ponsel tersentak mendengar sapaan Hae. Namun, ia tidak menoleh karena tau kebiasaan Hae yang hanya berbalut handuk ketika selesai mandi.


"Eh! Udah, kok."


Beberapa saat kemudian, Hae selesai mengenakan pakaiannya, lalu menghampiri Ida yang masih duduk di samping ranjang.


"Apa kamu bisa bantu aku merapikan dasi, ini agak sulit, Ida?" tanya Hae setengah menyuruh dan berjalan mendekat pada Ida.


Ida langsung berdiri dan mendekat ke Hae, ia langsung menjalankan titah Hae namun masih terdiam.


"Ida," panggil Hae dengan nada paling lembut.


Refleks Ida langsung mendongak menatap mata Hae.


"Hmm ...."


Hae memeluk Ida dengan erat, sambil berkata "Selama aku pergi, jaga diri baik-baik ya, sayang. Jangan nakal."


Telinga Ida yang kini tepat berada di dada bidang Hae, dapat mendengar suara detak jantung Hae. Ternyata Hae juga merasakan getaran tersendiri tiap kali bertemu maupun bersentuhan dengan Ida.


Kehangatan dalam tiap sentuhan itu membuat Ida nyaman.


Ida mulai terbiasa dengan aroma khas dari tubuh Hae, baunya yang maskulin dan sangat menenangkan.


Ida hampir terlelap dengan buaian yang membawanya ke dunia fantasi lalu, Ida menjawab dengan gugup "I-iya," jantungnya kini ikut maraton.

__ADS_1


Kemudian Hae melepas pelukannya namun, tangannya masih melingkar di pinggang Ida , ia menatap dalam mata Ida lalu turun ke hidung dan tatapannya berhenti di bibir.


Hae mendekatkan wajah hingga tak ada jarak di antara mereka, Hae memberikan salam perpisahan pada bibir mungil berwarna merah muda yang terlihat menggoda dengan sangat lembut dan dalam, tak segan-segan Ida membalas salam tersebut semampunya dan tanpa sadar ia melingkarkan tangannya di tengkuk Hae.


Ida belum berpengalaman dengan adegan seperti itu, namun Hae melatihnya dengan lembut, walaupun sesekali gigi mereka berbenturan karena kurang bisanya Ida dengan hal tersebut, kondisi seperti ini membuat jantung Ida berdegup tak karuan juga membuat pipinya memerah seperti kepiting rebus dan badannya bagaikan tersengat aliran listrik, dia sangat malu namun, Hae tetap melanjutkannya.


***


Selang beberapa saat Hae melepaskan salamnya kemudian, ia merogoh saku celananya yang tepat di bagian kanan dan mengambil sesuatu dari dalam saku tersebut.


Black card, Hae mengeluarkan kartu yang hanya di miliki oleh orang kaya atau memiliki perusahaan besar di dunia dan Hae adalah salah satunya.


Pengguna black card ini mendapat limit kredit hingga US$300 atau setara dengan Rp. 4,4 milyar.


Hae mengeluarkan kartu tersebut untuk di berikan pada Ida.


"Selama aku pergi, gunakan kartu ini untuk keperluanmu, ya," ucap Hae sambil menyodorkan kartu tersebut pada Ida.


"Kartu apa ini, sepertinya agak beda?" jawab Ida penuh tanya mengambilnya dari tangan Hae dan memperhatikan dengan jeli kartu tersebut.


Maklum Ida belum pernah melihat kartu seperti itu sebelumnya, jadi terlihat agak aneh untuk Ida.


"Ini kartu kredit biasa. Namun, kapasitas isinya lebih banyak dari kartu kredit biasa,"


Wah, Tuhan memihakku, pas banget aku lagi butuh ini. Batin Ida sambil tersenyum dalam hatinya.


"Iya, sayang," ucap Hae sambil mengelus pucuk kepala Ida dengan lembut.


Hae melihat jam tangan yang dia kenakan, ia ternyata hampir terlambat untuk penerbangannya ke kota L.


"Ida, aku harus berangkat sekarang, kamu jaga diri, ya?" pinta Hae sambil mengelus pipi Ida lembut lalu, berjalan meninggalkan kamar dengan terburu-buru sambil menjinjing koper hitam yang tak terlalu besar.


"Hati-hati, Oppa!" seru Ida yang masih berdiri mematung seraya melihat punggung Hae yang sudah menjauh tanpa mengantarnya turun, dia masih bingung memahami apa yang barusan terjadi padanya.


Dia menciumku lagi, dan aku membalasnya lagi! Apa yang terjadi padaku ~gumam Ida pada dirinya dengan penuh tanya sambil menyentuh bekas ciuman dari Hae.


Arghhh! Entahlah ... Aku makin bingung dengan situasi ini, perasaanku ini.


Kemudian Ida pergi mandi dan menyiapkan barang yang ia perlukan nanti. Di tengah-tengah persiapannya ia tersentak oleh notifikasi pesan masuk beruntun di ponselnya.


Ternyata itu adalah pesan dari Lee yang sudah menunggu Ida sejak tadi di teras dekat kolam.


Ida benar-benar lupa bahwa ia harus menemui Lee.


Setelah membaca pesan tersebut, Ida langsung bergegas untuk turun dan menemui Lee yang sedang menunggunya di teras dekat kolam.

__ADS_1


"Huft ... Maaf aku benar-benar lupa kalau kamu menungguku disini?" sapa Ida sembari mengatur nafasnya yang tak beraturan karena lari menuruni anak tangga dari lantai tiga ke lantai satu, ia agak lelah.


Lee yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke air kolam yang berwarna biru lautpun langsung menoleh mendengar suara Ida.


"Nggak apa-apa, Ida," tukas Lee sambil berjalan mendekati Ida.


"Sebenarnya kamu mau kemana?" sambung Lee.


"Kamu tidak perlu tau!" celetuk Ida.


"Benarkah aku tidak boleh tau?" tanya Lee sambil berjalan mendekat ke Ida.


"Bukan urusanmu!" tukas Ida sambil berjalan mundur untuk menjaga jarak dari Lee.


Ida yang merasa jarak di antara mereka semakin dekat, memutuskan untuk berjalan mundur dan semakin mundur secara perlahan namun, Lee masih terus berjalan mendekat dan semakin dekat hingga Ida yang berusaha menjauh kini berasa kakinya telah menyentuh air, sedikit lagi dia akan masuk kedalam kolam jika ia terus melangkah mundur.


"Ka-kamu apaan, sih?"


"Jawab jujur apa aku cium?" bisik Lee tepat di telinga Ida hingga nafasnya terasa hangat di kulit Ida.


"HA!" seru Ida.


"Aku serius, Ida, jawab jujur atau aku cium?" tanya Lee sekali lagi sambil tersenyum smirk.


Akibat dari tingkah Lee, pipi Ida memanas dan jantungnya berdegub dengan kencang, ia tak bisa mengontrol keadaan yang menimpanya saat ini.


Pilihan macam apa itu?


.


.


.


.


Bersambung ....


.


.


.


.

__ADS_1


Like , Komen , Vote jika tidak keberatan


Terimakasih 😁👍


__ADS_2