
Pagi hari yang menegangkan di mulai.
Hari ini, Ida berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya.
Dia melewati lorong yang kosong, belum ada satupun murid yang datang.
Dia langsung memasuki ruang guru, disitu dia terduduk seperti seorang terdakwa di persidangan. Kepala Sekolah dan para guru memandangnya penuh curiga.
"Dimana orang tuamu? kenapa datang sendiri?" tanya Pak Rohmat(Kepala Sekolah) dengan tegas.
"Saya datang sendiri pak. Itu karena saya yatim piatu," jawab Ida dengan sopan.
"Seharusnya dengan kondisi seperti itu kamu rajin belajar, bukan malah membuat masalah di sekolah!" tegas Kepala Sekolah.
"Saya tidak membuat masalah pak. Sebenarnya saya kemarin ketiduran di kelas sampai malam tidak ada yang membangunkan saya," jelas Ida.
"Alasanmu itu sungguh sangat sulit untuk di pertanggung jawabkan dengan logika," ucap Kepala Sekolah.
Ida hanya bisa tertunduk menahan bendungan air mata yang sudah mau menetes itu.
Tiba-tiba, Bu Yuni Wali Kelas Ida membelanya. Dia meminta Kepala Sekolah untuk mendengarkan penjelasan dari Ida . Ucapan Bu Yuni memberikan secercah harapan untuk Ida. Namun Kepala Sekolah masih tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Anda berani membelanya! Setelah semua program sekolah terganggu oleh perbuatannya!" seru Kepala Sekolah.
Ditambah lagi dengan ucapan Pak Yoga yang ikut memojokkan Ida. Dia menjelaskan bagaimana kejadian saat dia memergoki Ida yang sedang berada di ruang guru sendirian saat itu pula api membakar soal ujian dan nilai para siswa .
"Bukan saya, tolong percayalah. Bukankah bisa di lihat melalui CCTV, " jelas Ida.
" Bukannya kamu sendiri ya, yang mematikan CCTV. Saya ingat beberapa saat sebelum kejadian itu CCTV mati. Makanya saya langsung lari ke ruang guru dan ternyata kamu ada disini," jelas Pak Yoga sambil memiringkan kepala.
Bu Yuni melirik kaca yang pecah, kemudian dia membela Ida lagi.
Bu Yuni menjelaskan, "Bagaimana bisa pecahan kaca tersebut berada di luar ruangan, jika Ida di anggap menyelinap masuk melalui jendela? Bukankah seharusnya pecahan kacanya ada di dalam."
Lagi-lagi Bu Yuni membela Ida dengan cara menganalogikan suatu kejadian yaitu, intinya (Ketika kamu membaca koran di dapur dan saat itu istrimu sedang memasak . Bukankah asapnya akan menempel pada bajumu, walaupun kamu tidak ikut memasak ) .
Seisi ruangan hening mendengarkan analogi dari Bu Yuni, ucapan tersebut membuat Ida sedikit tersenyum.
Namun jantung Ida berdetak sangat kencang menunggu respon dari guru lainnya. Dalam hati Ida berharap bahwa yang lain berpikir sama seperti Bu Yuni.
Sebagian guru yang tidak berani berpendapat secara langsung saling berbisik, bahwa apa yang di katakan Bu Yuni ada benarnya juga.
Kepala Sekolah angkat bicara "Ehm ... Baiklah kalau seperti itu, kita tunda dulu rapatnya. Sampai ada bukti lain yang menunjukkan bahwa Ida tidak bersalah."
__ADS_1
Meskipun keputusan belum jelas setidaknya Ida lega karena belum di keluarkan dari sekolah.
Dengan langkah yang masih lemah Ida berjalan keluar ruangan.
Dari lorong sampai kelas Ida merasa di sepanjang perjalanan di perhatikan oleh banyak pasang mata. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini si pulah itu telah banyak membuat masalah karena tidak menyukai peraturan dan undang-undang di sekolah.
Hingga Ida yang tidak bersalah pun terjebak di dalamnya.
Sampai di kelas, Ida berusaha tetap fokus dengan pelajaran dan tidak memikirkan apapun. Hingga pelajaran berakhir.
.
.
.
Bersambung......
LIKE, KOMEN, VOTE yah, jika tidak keberatan 🙂
Terimakasih 💦
__ADS_1