
Tiba-tiba.....
BRAK!
Nana Melinda, salah satu anak orang terpandang di daerahnya, mengebrak meja tempat Ida duduk sambil bicara keras, "Gara-gara kamu ya, alat kosmetik ku di sita, sialan ya kamu!" sambil nunjuk-nunjuk ke Ida.
"Itu salah kamu, sekolah tempat untuk belajar, 'kan? Bukan buat dandan, kenapa aku yang salah?" ucap Ida santai.
"Ya gara-gara kamu lah, kalo kamu gak bikin masalah di sekolah. Mana ada sidak dadakan kayak gini!"
"Tapi, kan kamu gak ada bukti kalo aku pelakunya," bela Ida.
"Kamu berani ya sama aku!" cerca Nana dengan mendorong Ida hingga terjatuh.
"BRUKK! Aww ... " rintih Ida.
"Kalo kamu berani macem-macem, kamu berurusan dengan ku!" pekik Nana sambil berjalan pergi.
"Ida, kamu gak papa? Lain kali jangan ladenin dia ya kamu kan tau sendiri. Dia anak orang kaya, jadi seenaknya," ucap Ayu sambil meraih tangan Ida dan membantunya berdiri.
"Iya Ayu aku tau, aku gak papa, kamu tidak usah khawatir. Oke! " ucap Ida sambil menahan air mata dan memberi senyum getir.
"Gimana tidak khawatir, dia kan mendorongmu."
"Gak papa Ayu, tuh kan ga ada yang lecet. Hehe,"ucap Ida yang pura-pura tertawa, seakan dia kuat.
"Ah, kamu ini ya. Aku mau ke perpustakaan, kamu ikut gak?"
"Gak deh. Aku mau cari angin aja di atap."
"Oh oke, duluan kalau gitu." ucap Ayu sambil meninggalkan Ida.
__ADS_1
Ida berlari ke atap gedung sekolah supaya tidak ada yang tau kalau dia menangis.
Sampai di atap gedung sekolah Ida duduk di tempat yang agak teduh sambil memandang gedung Exotic Entertaiment, dia berharap bisa bekerja disana walaupun bukan menjadi model, seperti yang dia harapkan.
Kadang-kadang air matanya pun menetes, saat dia di tindas dia selalu ingat sama orang tuanya .
Namun dia tidak boleh terlihat lemah di depan semua orang, Ida harus kuat, cita-citanya harus tercapai.
Tiba-tiba, seseorang datang.
Seseorang yang tadi memperhatikan Ida berlari ke atap dan melihat Ida menangis. Jadi orang itu mengikutinya sampai ke atap gedung sekolah.
"Hm ... Gedungnya sangat indah ya kalo di lihat dari sini?" sapa Fajar Cahyadi (Ketua Kelas) sambil membawa gitar di tangan nya .
Dengan sedikit terkejut Ida langsung mengusap air matanya lalu menoleh, "Eh! Ternyata kamu. Iya gedungnya indah. Aku ingin sekali kerja disana, suatu hari nanti."
"Oh, kenapa kamu sangat ingin kerja disana?"
"Aku terinspirasi oleh ayahku. Dia adalah seorang Photografer , ayah sering sekali menyuruhku berpose di depan kamera saat aku kecil dulu. Tapi sekarang ayah sudah tidak ada," ucap Ida sambil meneteskan air matanya lagi.
Ida buru-buru mengusap air matanya dan berkata "Gak papa kok, hehe. Ngomong-ngomong, kamu kenapa kesini, jangan-jangan kamu buntutin aku ya?"
"Emm ... Eh! Kepedean banget sih kamu," jawabnya dengan pipi sedikit memerah, "Ini kan tempat aku main gitar kalo aku lagi bosen,"
"Kirain sengaja buntutin aku, hehehe," canda Ida.
"Ma-mana mungkin?" tanya Fajar sambil memalingkan muka karena pipinya semakin memanas.
"Gak usah merah gitu kali pipinya, aku bercanda, kok. Hehehe," tukas Ida sedikit meledek agar Fajar tidak merasa canggung.
Fajar mengalihkan pembicaraan, "Hari ini cuacanya panas banget ya, panas banget dah..."
__ADS_1
"Hehe. Iya, " jawab Ida
Hening selama beberapa saat.
Kring-Kring-Kring! Bel tanda waktu istirahat sudah habis dan pelajaran baru di mulai.
"Eh! Kita turun yuk, udah bel masuk," ajak Ida sambil berjalan mendahului Fajar.
"Ayo."
Ida berjalan mendahului Fajar.
Tanpa sadar, Fajar berjalan sambil melamun memandangi punggung Ida.
Namun tiba-tiba Ida berhenti, ingin mengambil kaleng bekas minum yang tidak di buang pada tempatnya, rencananya Ida akan membuangnya ke tempat sampah.
Namun ternyata hal ini tidak di ketahui oleh Fajar.
Dan dengan tidak sengaja ...
.
.
.
Bersambung......
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah membaca 💦