
"Bi, bersihkan serpihan gelasnya, hati-hati jangan sampai kena tangan," suruh Chan pada Bibi.
"Baik, Nyonya."
"Maaf Ma, saya benar-benar tidak sengaja," ucap Ida sambil membungkukan badannya.
"Ngga apa-apa, istirahat aja, gih," suruh Chan pada Ida.
"Terimakasih, Ma," ucap Ida sambil berjalan meninggalkan ruang makan.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 KST.
Namun, Hae tak kunjung datang.
Hari-haripun berlalu dengan sangat cepat, Ida merasa sangat jenuh mengisi hari-harinya dengan kegiatan seperti memasak dan membantu Bibi bersih-bersih, setelah itu pergi tidur.
Ini memang terasa seperti mimpi baginya, tinggal di rumah semewah ini, penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing, dan bagi Ida, rasanya sayang sekali rumah sebesar ini seperti tak berpenghuni.
Selama satu minggu terakhir, Ida tidak pernah bertemu dengan Hae dia malah banyak menghabiskan waktu dengan Lee, makan bersama melihat televisi bersama.
Ida pernah berpikir, apakah Hae marah karena Ida menolaknya, atau adakah masalah lain.
Malam ini Ida berniat menunggu Hae, sampai jam berapapun akan dia tunggu. Ida perlu jawaban atas hubungannya karena dia sudah terlanjur menandatangani surat pernikahan.
Beberapa jam kemudian, untuk menghilangkan kantuknya karena terlalu lama menunggu, Ida pergi ke dapur mengambil makanan.
Tiba di dapur Ida mengambil susu yang ada di kulkas ada juga sisa cookies di meja, kemudian memakannya.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di dapur, Kak?" sahut Lee yang baru pulang kerja dan langsung cuci tangan di washtafle dapur.
"Aku menunggu Hae, kemana dia seminggu ini? Sebelum aku bangun dia sudah berangkat, setelah aku tidur dia baru pulang, sampai-sampai aku tidak bisa melihat dirinya, kadang aku bertanya, apa aku ini benar-benar isterinya?" celoteh Ida panjang kali lebar.
"Apa kamu merindukannya?" tanya Lee yang berdiri di samping tempat duduk Ida sambil mengambil cookies yang ada di meja kemudian memakannya.
"Emm ... Aku tidak tahu!"
"Apa kamu percaya kalau kakak benar-benar menginginkanmu?"
Ida mendongak menatap mata Lee dengan tajam, "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kok. Buruan tidur udah malam," suruh Lee.
"Enggak, aku akan tetap menunggu, sampai besok pagipun aku ngga peduli," jawab Ida sebal.
Lee membungkuk mendekatkan wajahnya, hingga tak ada jarak di antara mereka.
"Ka-kamu mau ... Apa!"
"Apa kakak benar-benar sudah melakukannya denganmu?"
"Ap-apa, yang kamu katakan? Aku-aku ngga paham," tanya Ida yang pura-pura tidak tahu apa yang di maksud dari ucapan Lee.
"Apa malam pertama kakak menyenangkan?" bisik Lee di telinga Ida.
"Ini urusanku, kamu tidak perlu tahu!" tukas Ida sambil beranjak dari kursinya dan berlari menuju kamar.
Lee hanya melihat punggung Ida yang semakin menjauh, dia mengernyitkan dahinya.
Tiba di kamar, Ida melanjutkan begadangnya di temani oleh televisi.
Hingga dia melihat sebuah acara di televisi yang menarik perhatiaannya.
*Hot News Selebriti
Pemirsa couple Shin dan Hae akhir-akhir ini ramai di perbincangkan netijen, mereka tidak segan-segan mengumbar kemesraan di depan publik. Inilah potret Shin yang setiap hari mengunjungi kantor CEO Chan grub.
Ida tidak tahan mendengar berita yang baru saja di lihatnya, dia langsung mematikan televisinya.
Ida tidak boleh menangis, dia harus meminta penjelasan langsung pada Hae.
Lima menit kemudian Hae datang membuka pintu kamar.
Ida tidak menyadari kedatangannya, dia tenggelam dalam pemikirannya tentang Shin dan Hae, sambil menatap langit di dekat jendela.
KREK!
Hae datang, sedikit terkejut melihat isterinya berdiri di dekat jendela kamar sambil menatap langit gelap yang hanya di hiasi oleh beberapa bintang dan bulan sabit.
Hae mendekati Ida, dan memeluknya dari belakang. Ida sedikit terkejut namun, dia lebih memilih diam untuk beberapa saat, mengatur hati dan pikirannya agar menyatu supaya dia tidak terbawa emosi.
Hae ikut memandang langit, "Ida, suamimu datang. Kenapa kamu diam saja?" bisik Hae lembut di telinga Ida.
"Bersihkan dirimu dulu, Oppa! ku buatkan teh hangat untukmu, dan kita harus bicara!" suruh Ida.
Hae tidak menjawab, dia mencium pucuk kepala Ida, lalu langsung pergi ke kamar mandi.
Sementara Ida, dia ke dapur membuatkan teh hangat buat mereka berdua.
__ADS_1
Setelah selesai membuat teh, Ida langsung kembali ke kamar. Namun, Hae belum keluar juga dari kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Hae keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Ida membulatkan matanya tatkala melihat pemandangan yang sangat asing baginya.
Tubuh kekar, perut kotak-kotak seperti roti sobek, kulit putih mulus seperti perawan, rambut basah, itulah yang pemandangan yang Ida lihat ketika Hae keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekat ke Ida.
GLEK!
Dengan susah payah Ida menelan air liurnya, rasanya nyangkut di tenggorokan.
Ida tidak memalingkan wajahnya, dia malah mempertajam penglihatannya, dan kini tubuh Hae yang hanya di balut dengan handuk selutut itu berada tepat di hadapan Ida.
"Apa kamu sudah puas melihatnya, sayang?"
Ida tersentak oleh suara Hae, dia langsung memalingkan wajahnya yang memerah.
"Oppa! Pakai baju dulu baru kita bicara, aku ngga mau bicara," ucap Ida yang masih memalingkan wajanya.
Hae membungkukkan badan lalu berbisik di telinga Ida, "Apa ada yang salah dengan seperti ini? Aku suamimu, loh," goda Hae dengan nada paling lembut.
Ida meleleh merasakan kehangatan nafas Hae yang menembus kulitnya, aroma tubuh maskulin yang segar, rambut basah yang menghiasi wajah Hae, sesekali air dari rambht Hae yang basah itu jatuh mengenai pundak Ida yang membuat bulu kuduknya merinding. Ida tidak tahu harus berbuat apa, bahkan dia lupa akan apa yang ingin di tanyakan pada Hae.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankan 😊
.
Like, Komen, Vote, jika tidak keberatan 😁👍
.
Terimakasih 💦
__ADS_1
Bagi teman" yg sudah mampir. mungkin 2 minggu" ini saya belum bisa feedback cerita teman", karena ada sedikit kendala. Mohon di maklumi ya. Terimakasih 🤗