
Setelah selesai makan, Ida dan Shu kembali ke apartment masing-masing.
Di perjalanan pulang, Ida tidak berhenti memikirkan tentang apa yang di katakan oleh Shu.
Terhanyut dalam pikirannya, Ida tidak memperhatikan sekeliling ketika ingin menyebrang jalan.
"Swishhh... Tin... Tin... Tin..," suara klakson dari mobil mewah.
Ida terkejut seketika dan menghentikan langkahnya sambil berbicara pada dirinya sendiri "Astaga, apa yang aku pikirkan, sih? Hampir aja nyawaku melayang."
Mobil mewah itu berhenti, tidak jauh dari tempat Ida yang masih mematung dengan badan yang gemetar.
Seorang laki-laki yang tidak asing di mata Ida turun dari mobil tersebut dan menghampiri Ida.
Betapa tambah terkejutnya Ida melihat laki-laki itu.
"Maaf, kamu tidak apa-apa?," tanya Hae dengan khawatir sambil membungkukkan badan melihat keadaan Ida.
"Ti..., tidak apa-apa, kok," Ida menjawab dengan terbata-bata.
"Ayo, ku antar pulang. Hari sudah mulai gelap," ajak Hae dengan menggandeng tangan Ida, dan di ikuti oleh Ida, tanpa berbicara sepatah kata pun.
Padahal rumah Ida terbilang dekat dari Halte Bus, tetapi Ida malah mengikuti pinta Hae.
Hae membukakan pintu mobil untuk Ida.
Selama perjalanan, yang terdengar hanyalah suara mobil mewah halus dan detak jantung Ida, bagaikan beduk yang sedang di tabuh. Dari mereka tidak ada yang memulai pembicaraan.
Ida bingung apa yang terjadi padanya, dia tidak tau bagaimana perasaannya mengingat tentang ciuman pertamanya yang di ambil oleh seseorang yang sudah memiliki kekasih dan orang itu bersamanya saat ini.
"Apa Hae tidak ada niatan untuk menjelaskan ciuman itu? Kenapa, kenapa aku tidak sanggup memulai pembicaraan ini?!,"~batin Ida yang merasa sangat frustasi.
Tiba di depan apartment, Ida beranjak turun dari mobil mewah Hae. Dan lagi-lagi lelaki itu menghentikan Ida dengan memegang tangannya kemudian menariknya dalam pelukan.
__ADS_1
"Ida, maaf atas sikap ku yang keterlaluan dan tiba-tiba seperti ini," bisik Hae di telinga Ida dengan posisi masih memeluk.
Ida melepaskan pelukannya dengan kasar, keluar dari mobil dan berbicara dari luar.
"Asalkan anda tau Tuan, saya bukan wanita yang akan mengusik hubungan orang lain. Jadi lebih baik anda jangan muncul lagi di hadapan saya. Karena saya tidak ingin berurusan dengan anda dan Shin lagi, sudah cukup sampai disini saja dan terimakasih atas semuanya. Saya mohon jangan mengusik saya lagi," pinta Ida dengan sopan sembari menundukan badannya dan air mata mengalir di pipinya.
Ida berlari ke apartment menutup pintu dengan kasar.
Tidak ingin membersihkan badannya, dia langsung meringkuk dalam selimut, di iringi oleh isakan tangisnya hingga tidur terlelap.
.
.
.
Keesokan harinya, mata Ida agak sedikit bengkak. Ingin melihat pun rasanya sangat sulit baginya. Sebelum berangkat kerja dia membeli obat tetes mata di toko sekitaran Butik tempat dia bekerja.
Tiba di toko dia mencari-cari obat mata tersebut dan akhirnya menemukan, namun tempatnya berada di rak paling atas.
Hingga akhirnya, seseorang mengambilkan obat tersebut. Dia adalah Sook.
"Mau ambil ini ya,?" sapa Sook sambil menggapai obat di rak paling atas.
"Iya, terimakasih," jawab Ida sambil memalingkan wajahnya, dia merasa malu karena matanya bengkak.
"Kalau boleh tau, ada apa dengan matamu?," tanya Sook.
"Hehe, tidak apa-apa, kok. Kemarin pulang kerja jalanan berdebu, jadi iritasi gini," jelas Ida yang terpakasa berbohong.
"Hemm... Kamu sudah mendapat pekerjaan lagi? Dimana kamu bekerja? ,"
"Tentu, sudah. Aku kerja di Butik Chantex sebrang jalan itu," jawab Ida sambil menunjuk Butik Chantex.
__ADS_1
"Oh, Butiknya tante Chan, Eommanya Hae," lirih Sook dengan mengangguk-anggukan kepala.
Ida berpamitan pergi terlebih dahulu kemudain meninggalkan Sook di toko tersebut setelah dia membayar, dia langsung memakai obat matanya.
Ida berjalan memasuki Butik dengan semangat baru. Dia melihat Shu sedang menata beberapa baju sebelum Butik di buka.
"Pagi, Pika Shu?," sapa Ida dengan sumringah.
"Pagi, Ida. Kelihatannya ada yang agak berbeda darimu hari ini," jawab Shu sambil menatap Ida lekat-lekat namun tangan masih dalam posisi menata baju.
Ida hanya merespon dengan cengiran. Dia segera mengambil Sapu bersiap membersihkannya.
"Apa-apaan sih Shu ini, pagi-pagi udah mau mulai mengintrogasiku,"~keluh Ida dalam hati sambil menyapu.
Mereka memulai pekerjaan mereka.
Di sela-sela melayani pengunjung ada seseorang datang.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
LIKE, KOMEN, VOTE, FAVORIT 😊
__ADS_1
Terimakasih 💦