Tak Secepat Kujatuh Cinta

Tak Secepat Kujatuh Cinta
Kamu Baik Sekali


__ADS_3

BRUK!


Spontan tangan Fajar langsung menopang badan Ida dari belakang supaya dia tidak terjatuh. Hal itu membuat waktu berhenti selama beberapa saat, mungkin sekitar satu menit.


Kejadian itu membuat jantung ida berdebar tidak karuan, karena sebelumnya dia tidak pernah berada dalam posisi seperti itu.


Sedangkan gitarnya Fajar di lempar begitu saja entah kemana dan bagaimana.


"E-eh! Maaf ya aku tidak sengaja," ucap Fajar dengan gugup.


"Ngg ... Iya gak papa. Untung aku tidak jatuh," ucap Ida untuk mencairkan suasana supaya tidak canggung. Kemudian mereka kembali berjalan.


Fajar berjalan sambil mengelus-elus gitarnya.


Untung saja gitarnya tidak rusak ku lempar tadi ~ucap Fajar dalam hati.


Tiba di depan kelas. Ida sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Ayu, sahabatnya itu .


Ayu sedang berbicara serius dengan Alex Cornelius dan Marion Pratama. Ida pun menghentikan langkahnya dan memperhatikan apa yang di bicarakan Ayu terlebih dulu.


"Pliss! Tolong Ida ya, Lex. Kamu kan Ketua Osis," pinta Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, tapi aku tidak bisa. Jabatanku sebagai Ketua Osis tidak berpengaruh besar terhadap sekolah," jawab Alex.


"Bagaimana dengan kamu Rio? Ayahmu kan Direktur Sekolah ini?" ucap Ayu sambil mengalihkan pandangannya kepada Rio.


"Aku juga gak bisa bantu, apa lagi berurusan sama ayah," tukas Rio agak sebal.


Ayu memasang wajah sedih karena dia sangat khawatir jika Ida sampai di keluarkan dari sekolah. Kemudian Ida langsung menghampiri Ayu.


"Makasih Yu udah bantuin aku. Tapi aku gapapa kok. Aku janji sama kamu, aku ga bakal di keluarin dari sekolah," ucap Ida sambil mengelus pundak Ayu.


"Maaf ya Ida aku gak bisa bantu banyak, semoga pelakunya cepet di temukan."


"Iya Yu, semoga saja."


Beberapa saat kemudian guru masuk. Para murid mengikuti pelajaran hingga akhir.


hari ini Ida pulang terlebih dahulu sebelum bekerja.


Keesokan harinya Ida mengambil shift pagi yaitu dari jam 08.00 sampai dengan 14.00.


Entah kenapa, ada perasaan gundah di hati Ida saat ini.


"Kenapa perasaanku tidak enak gini ya. Semoga tidak terjadi hal buruk padaku," ucap Ida pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ida, antar Coffe Americano ini ke meja nomor tujuh ya," suruh Danu, atasan Ida.


"Oke kak."


Ida berjalan pergi mengantar pesanan.


"Permisi, Coffe Americano satu," sahut Ida sambil meletakkan minuman di meja.


"Iya. Eh! Ida kamu kerja disini?" tanya Alex sambil menoleh ke Ida.


"Iya, kamu lagi nungguin temen ya?"


"Iya nih. aku baru tau kalo kamu kerja disini."


"Emang kamu langganan disini ya?" tanya Ida.


"Yah, kebetulan hari ini aku datengnya pagi. Biasanya kalo hari minggu aku kesini malem," jelas Alex.


"Oh pantesan ga pernah tau kalo kamu langganan sini. Hehe."


"Iya. Hehe aku in-...."


Pembicaraan mereka terpotong oleh Danu.


" Iya kak,"jawab Ida pada Danu.


"Ngobrolnya lanjutin besok ya disekolah," ucap Ida sambil meninggalkan tempat duduk Alex.


"Oke, Ida! Semangat yaa."


Akhirnya sudah jam 14.00 waktunya Ida pulang. Dia melihat sekeliling mencari tau apakah Alex masih di situ atau tidak . Ternyata Alex sudah pergi. Ida sangat sibuk hari ini jadi dia tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting.


Ida mampir ke Supermarket terlebih dulu untuk membeli susu sama roti .


Di perjalanan dia bertemu seorang nenek misterius yang duduk di pinggiran jalan.


"Nak tolong nenek," sapa Nenek Misterius


Ida berhenti mengayuh sepedanya dan bertanya.


" Ida bisa tolong apa nek? "


"Nenek belum makan udah 1 minggu ini nak, nenek sudah tidak kuat. Nenek laper. Tidak ada yg kasih nenek makanan. Apa kamu mau bantu nenek. Nanti nenek kasih imbalan buat kamu nak," ucap Nenek lirih.


Aku hanya punya roti, aku juga belum gajian. Tapi kasihan neneknya belum makan udah 1 minggu ~batin Ida.

__ADS_1


"Nek, Ida cuma punya roti, ini buat nenek saja."


"Terimakasih nak."


Syukurlah nenek makan dengan lahap walaupun hanya roti~batin Ida.


Nenek misterius itu selesai makan.


"Ini buat kamu nak."


Memberikan cincin permata yang berkilau sangat menyilaukan.


"Tidak usah nek, aku tidak minta imbalan apa-apa, kok."


Kenapa nenek ini ga jual permatanya saja ya buat beli makan?~batin Ida lagi.


"Ambilah nak. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan kalau kamu menyimpan permata ini baik-baik," ucap Nenek sambil menyodorkan cincin.


Ida pun mengambil pemberian nenek misterius dan sibuk memperhatikan cincin tersebut .


"Terimakasih ya Nek."


Namun nenek itu sudah pergi, bersamaan dengan mobil sedan mewah berwarna hitam yang berlalu.


"Loh kemana nenek tadi, cepet banget perginya."


Ida langsung pulang kerumah , menyimpan permata tadi di laci meja tempatnya belajar . Selanjutnya kegiatan Ida adalah bersih-bersih rumah dan belajar buat pelajaran esok.


Pukul 20.00 Ida tertidur.


Ada cahaya di balik laci meja belajar nya Ida.


.


.


.


.


Bersambung....


Kalo tidak keberatan Like, Komen, Vote, Favorit. 🙂


Terimakasih sudah membaca 💦

__ADS_1


__ADS_2