Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 9 Suami, Istri


__ADS_3

****


Zein yang sudah sangat lapar, akhirnya memilih makan di tempat penjual makanan yang ada di pinggir jalan.


"Shanaz, Allysa? Kita makan Kat situ saje ye?" tanya Zein kepada ke dua anaknya, sambil menunjuk ke arah penjual kaki lima.


"Ye, Papa ... tak ape," sahut Shanaz dan Allysa serempak.


Lalu Zein kemudian bertanya pada Alya, dan menatap sekilas pada Alya. "Awak tak ape 'kan, bila makan Kat situ?"


"Tak ape, Pakcik ... ," sahut Alya pelan.


"Awak cakap ape tadi?" tanya Zein mengulang.


"Cakap yang mana maksud, Pakcik?" Alya balik bertanya.


"Yang terakhir awak cakap tadi. Awak panggil saye, Pakcik?" tanya Zein memastikan ucapan Alya.


"Lantas, saye nak panggil ape?"


"Tak 'kan lah saye, panggil Papa juga ... seperti Shanaz dan Allysa panggil," lanjut Alya kemudian.


"Awak boleh panggil saye apa pun! Tapi, saye tak nak awak panggil saye Pakcik, Ok!" tolak Zein tegas.


'Pasal panggil Pakcik pun, dipermasalahkan. Kan tak apa jika dipanggil Pakcik, wong udah jadi Bapak dari dua anak' batin Alya mengumpat.


"Papa. Kita ne jadi makan tak? Kenape pula Papa komplain pasal Aunty panggil Papa ... Pakcik?" tanya Shanaz yang duduk di belakang kemudi.


"Jadi, sayang. Sekejap ye, Papa cari tempat parkir dulu." Zein menyahut, sambil putar arah ke tempat parkir.


"Aunty. Aunty juga boleh panggil Papa Allysa dan Akak, dengan sebutan Papa," bisik Allysa di telinga Alya.


"Makasih ... sayang, tapi Aunty tak nak panggil macem tuh. Sebab Papa tuh, panggilan khusus Allysa dan Akak saje," sahut Alya ikut berbisik di telinga Allysa.


"Shanaz dan Allysa nak makan ape?" tanya Zein menawari ke dua anaknya.


"Nasi lemak dan ice Milo, Papa ... ," sahut Shanaz.


"Allysa juga nak macem Akak," sambungnya.


"Awak?" tanya Zein pada Alya.


"Saye juga nasi lemak dan ice Milo saja Pa ...."


Alya menghentikan ucapannya, saat Zein menatapnya dengan serius. Setelah itu Zein berlalu, untuk mengatakan pesanan mereka, kepada penjual nasi lemak tersebut. Lalu, ia menuju ke penjual aneka minuman, yang berada di samping penjual nasi lemak.

__ADS_1


"Pakcik, ice Milo 3 ye. Same nescafe suam 1, nanti tolong Pakcik hantar Kat situ ye." Zein berucap, sambil menunjuk ke arah meja di mana Alya dan ke dua anaknya duduk.


Pakcik tersebut pun langsung menoleh, ke arah yang Zein tunjuk.


"Ye ... ," sahut Pakcik penjual minuman.


"Ne, uangnya ye Pakcik." Zein sekalian membayar minuman yang ia pesan.


Pakcik itu pun menerima uang pemberian Zein. Lalu, Pakcik itu berkata. "Anak-anak awak, dan istri awak ... comel sangat ye. Same macem awak, Papanya pun handsome."


"Makasih Pakcik, saye ke sana dulu ye." pamit Zein.


Zein pun berjalan ke meja tempat Anak-anaknya dan Alya berada. Ia melihat ke dua anaknya, tengah bercanda dengan Alya ... perempuan yang berhasil merebut hati Anak-anaknya, dan juga hati Zein. Zein pun tersenyum, kala mengingat ucapan dari Pakcik penjual minuman tadi. Yang mengira Alya, adalah istrinya.


'Bila orang yang tak tau, pasti lah mengira kami ne suami-istri. Saye, merasa seperti sebuah keluarga yang bahagia' gumam Zein dalam hati.


Lalu, ia pun duduk di kursi samping Alya. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang.


"Ne, nasi lemaknya ye." Makcik penjual nasi lemak, meletakan 4 piring nasi lemak di meja.


"Makasih ... Makcik," sahut Alya ramah.


"Wah, istri awak ne comel sangat. Anak-anak awak juga comel-comel," ucap Makcik penjual nasi lemak kemudian.


Lalu, Pakcik Penjual minuman datang menghantar pesanan mereka.


"Betulkan ape yang Pakcik kata. Makcik ne pun kata same, yang macem saye katakan tadi," ucap Pakcik itu kembali.


Alya yang mendengarkannya, hanya bisa tersenyum paksa. Berbeda dengan Zein, yang terlihat senang saat mendengar ucapan Pakcik dan Makcik penjual kaki lima itu.


"Selamat menikmati, Makcik do'akan agar rumah tangga awak bahagia selalu ye."


"Aamiin. Saye, juga do'akan agar rumah tangga awak bahagia." Pakcik penjual minuman menyambung ucapan Makcik penjual nasi lemak.


"Shanaz, Allysa. Jom makan, biar kita lanjut otw." perintah Zein.


"Awak juga," lanjut Zein berucap pada Alya.


*


*


*


Zein akhirnya mengajak ke dua anaknya, untuk mengunjugi Melaka Zoo. Yang merupakan kebun binatang yang ada di Melaka, dan termasuk salah satu tempat wisata di Melaka. Shanaz dan Allysa begitu senang, kala melihat hewan-hewan yang ada di sana. Sedangkan Zein dan Alya, hanya duduk sambil memperhatikan Shanaz dan Allysa.

__ADS_1


"Kenape, Pakcik tak bagi tau ke Pakcik dan Makcik tadi. Bila saye ne, bukan istri Pakcik," ucap Alya.


"Pakcik? Awak tengok saye ne, tua sangat kah?"


"Dan, ape awak nak betul-betul jadi istri saye kah?" tanya Zein kemudian, menggoda Alya.


"Bukan seperti tuh yang saye maksud Pakcik!" tegas Alya menatap serius Zein.


Zein pun refleks, menatap Alya juga. Hingga pandangan mereka berdua bertemu.


"Awak tak nak, pasal saye duda kah?" tanya Zein serius.


Alya cepat-cepat membuang pandangannya dari Zein.


"Bukan pasal itu juga. Saye, tak memilih ... pasal lelaki yang akan menjadi jodoh saye kelak. Tapi, saye Tak nak berkata bohong dengan orang-orang. Pasal kita ne ... seperti yang penjual kaki lima katakan tuh," sahut Alya komplain.


Namun, Zein tak berniat menyahut ucapan Alya. Dan, mala menyusul ke dua anaknya yang tengah memberi makan burung.


Karna waktu udah menunjukan ke angka 11 lewat 30 menit. Zein akhirnya mengajak mereka ke Masjid Selat Melaka, sekalian Zein ingin melaksanakan sholat dzuhur di masjid itu.


"Shanaz, Allysa. Dah tengah hari ne, kita ke masjid dulu ye. Lepas tuh, kita pigi ke tempat lain." ajak Zein.


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di Masjid, yang berada di atas Selat Melaka. Yang memiliki bangunan perpaduan gaya Timur Tengah dan Melayu. Masjid ini juga unik, sebab jika dilihat ... masjid ini seolah mengambang. Bahkan, masjid ini bisa menampung sekitar 2000 jamaah.


"Awak nak sholat juga kah? Ape tunggu kat kereta saje?" tanya Zein pada Alya.


"Saye, lagi datang tamu bulanan," sahut Alya malu.


"Oh."


"Tolong jaga Anak-anak saye ye. Saye, sholat sekejap." pamit Zein.


Setelah beberapa menit kemudian, Zein pun udah selesai sholat, dan segera berjalan menuju mobil. Alya yang memperhatikan Zein dari dalam mobil. Begitu terpesona kala melihat ujung rambut Zein, yang masih basah karna air wudhu. Bahkan, Zein pun menggulung setengah lengan kemejanya sampai ke siku. Yang membuat aura ketampanan Zein, semakin bersinar.


'Pantes saje, dia marah dipanggil Pakcik. Wong kamu tu, memang betul-betul handsome dan terlihat seperti bukan duda' gumam Alya dalam hati, sambil tersenyum.


Khem! Khem!


Zein berdehem kala menyadari Alya, yang tengah memperhatikannya. Sedangkan Alya langsung menoleh ke arah depan, ketika ia ketauan oleh Zein, yang tengah memperhatikan dirinya.


"Kita nak cari makan dulu? Atau langsung pigi ke tempat wisata?" tanya Zein meminta pendapat, pada ke tiga perempuan yang ada di dalam mobil itu.


"Langsung pigi saje, sebab saye masih kenyang." ucap mereka bertiga serempak.


"Kenape awak betiga ne, jadi kompak sangat?" Zein berkata, dan kemudian ia langsung menghidupi mesin mobilnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2