
****
Melihat Shanaz dan Allysa menangis, Alya langsung mendekati ke dua bocah itu, dan segera memeluk mereka.
Hiks ... hiks ... hiks!
"Aunty ... kenape Papa marah pade, Akak?" tanya Allysa masih terisak, saat berada dalam pelukan Alya.
"Papa tak marah lah pade Akak, jom kita pigi ke bilik. Biar Aunty kawani awak bedua tidur, malam ne." ajak Alya kepada ke dua kakak beradik itu.
"Abang Faiz nak ke bilik juga tak? Biar Alya bantu dorong kursi roda Abang?" tanya Alya kemudian pada Faiz.
"Nanti Faiz biar Makcik yang tolong, awak tenangkan Anak-anak saje ye, Al." Makcik Diana berucap duluan, sebelum Faiz menjawab pertanyaan Alya.
"Ye, Makcik."
"Zein, kenape awak tak boleh kontrol amarah awak," ucap Makcik Diana setelah Alya dan ke dua cucunya pergi.
"Shanaz tuh masih budak lagi, tak sepatutnya awak limpahkan amarah awak pade Shanaz. Mama lah yang bersalah, sebab dah buat awak seperti ne," lanjut Makcik Diana lirih.
"Ade hal kah yang Faiz tak ketahui, Ma? Faiz rase, Mama dan Along ade something yang dirahasiakan dari Faiz?" tanya Faiz menebak.
Deg!
Makcik Diana terlihat gugup, namun beberapa detik kemudian, ia pun bersikap biasa.
"Tak ade lah Ngah," jawab Mama cepat pada anak lelaki ke duanya.
"Zein nak tengok Anak-anak dulu, Ma." pamit Zein akhirnya, sengaja menghindari kecurigaan Faiz adik satu-satunya.
Setelah mengatakan itu, Zein pun berlalu.
"Angah, awak jangan fikir hal yang mecem-macem. Lebih baik awak juga rehat, biar kondisi kesehatan awak membaik. Sebab, 1 Minggu lagi ... awak 'kan nak melangsungkan pernikahan dengan Alya." Makcik Diana berucap, agar Faiz tak menanyakan lagi tentang kecurigaannya tadi.
*
*
*
Sementara di dalam kamar, Alya masih berusaha untuk menenangkan Shanaz. Berbeda dengan Allsya, yang udah terlihat lebih tenang.
"Shanaz jangan nangis lagi ye, bila awak nangis terus. Nanti Allysa ikut menangis lagi," bujuk Alya sambil mengilap air mata di pipi Shanaz.
"Papa jahat, Aunty. Shanaz hanya nak tanya saje pade, Oma. Tapi, kenape Papa langsung cakap kasar pade Shanaz," rengek Shanaz tersedu-sedu.
"Shanaz tak boleh cakap macem tuh, selama ne ... Papa 'kan tak pernah cakap kasar pade Shanaz dan Allysa. Papa juga selalu bagi apa pun, yang Shanaz dan Allysa nak."
"Mungkin saje, Papa awak tuh tengah penat fikir persoalan pekejean di syarikatnya." jelas Alya kemudian, mencoba memberi pengertian pada Shanaz.
Zein yang mendengar curahan hati anaknya kepada Alya, merasa begitu sedih dan juga bersalah. Lalu ia pun segera mendekati anaknya, yang tengah berada di tempat tidur bersama dengan Alya. Shanaz yang menyadari kehadiran Papanya, langsung bersembunyi di samping badan Alya.
__ADS_1
Zein yang melihat itu, seakan terpukul hatinya.
"Shanaz, Papa minta maaf ye. Sebab, Papa dah cakap kasar pade awak," ucap Zein lirih, dan ikut duduk di tempat tidur samping Shanaz.
Alya pun langsung menggeser duduknya, agar tak terlalu dekat dengan Zein.
"Shanaz, Papa akan terima hukuman ape pun. Asal Shanaz nak memaafkan Papa," lanjut Zein kemudian.
Namun Shanaz masih tak bersuara, dan tetap bersembunyi di samping badan Alya.
"Shanaz, awak tak boleh macem tuh. Bila Papa dah minta maaf, awak harus memaafkan Papa. Aunty tak nak sayang pade Shanaz lagi, bila awak jadi anak yang pendendam macem ne." bujuk Alya sekalian berpura-pura mengancam.
"Shanaz akan maafin ... Papa," ucapnya cepat saat mendengar ancaman Alya.
Zein dan Alya pun sama-sama tersenyum kecil, saat melihat ekspresi Shanaz yang menggemaskan.
"So, Shanaz dan Allysa sekarang ne ... dah tak marah pade Papa lagi 'kan?" tanya Zein memastikan.
Ke dua bocah itu pun menggeleng serempak, bertanda tidak.
"Makasih ye, sayang. Papa sayang sangat pade awak bedua," ucap Zein kemudian sambil memeluk ke dua anaknya.
Alya yang melihat pemandangan di depannya, juga ikut merasakan bahagia.
"Papa, boleh kah Shanaz tanya sesuatu pade Papa?" tanya Shanaz kemudian, dengan hati-hati.
"Awak nak tanya ape, heem?" tanya Zein balik.
Mendengar pertanyaan Shanaz, Zein dan Alya pun saling pandang.
"Papa akan jelaskan pade Shanaz, dan Allysa. Tapi, setelah awak bedua dengar penjelasan Papa. Papa harap awak bedua tak kecewa atau pun marah pade Aunty ye," jelas Zein panjang lebar pada ke dua anaknya.
Ke dua bocah itu pun mengangguk.
Huft!
Zein terlihat menghela nafas berat, sebelum ia mejelaskan kepada ke dua anaknya.
"Papa dan Aunty ... tak jadi menikah," ucap Zein akhirnya, dengan suara bergetar.
Deg!
Ke dua bocah itu pun terlihat terkejut, dan mulai bersedih.
"Kenape, Papa tak jadi menikah dengan Aunty ... Pa?" tanya Shanaz dan Allysa serempak, dengan mata yang berkaca-kaca.
Zein pun terlihat tidak tega pada ke dua anaknya. Lalu ia membawa ke dua anaknya, dalam pelukannya.
"Maafin ... Papa ye Anak-anak. Sebab Papa tak boleh mewujudkan keinginan awak bedua, untuk menjadikan Aunty Alya ... sebagai Ibu awak bedua," ucap Zein merasa bersalah dan matanya pun terlihat memerah.
"Tapi, kenape ... Pa? Ape Papa buat Aunty marah, tuh sebabnya Aunty tak nak menikah dengan Papa?" tanya Shanaz terisak.
__ADS_1
Melihat kesedihan Shanaz dan Allysa, Alya pun juga merasa bersalah pada mereka. Karna udah memberikan harapan palsu pada ke dua bocah itu. Tanpa ia sadari, air matanya pun lolos membasahi pipinya.
"Yang akan menikah dengan Aunty tuh, Uncle Faiz ... sayang." Zein kemudian menjelaskan kembali pada ke dua anaknya.
"Tapi, yang melamar Aunty massa tuh 'kan, Papa? Kenape, jadi Uncle yang akan menikahi Aunty, Pa?" tanya Shanaz lirih.
"Shanaz, sebab jodohnya Aunty tuh bersama Uncle, dan bukan dengan Papa ... ," jawab Zein menjelaskan.
"Jadi, Shanaz dan Allysa tak akan pernah memilik Ibu?" tanyanya kemudian dengan lirih.
Mendengar pertanyaan terakhir yang dilontarkan Shanaz, pada Papanya. Alya pun tak dapat membendung rasa sedihnya lagi, lalu ia memeluk Shanaz dan juga terisak.
"Meskipun Aunty menikah dengan Uncle Faiz, Shanaz dan Allysa boleh menganggap Aunty ne, seperti ibu awak berdua sampai bila-bila massa," ucap Alya terisak dan memeluk Shanaz erat. Sementara Allysa masih berada di pelukan Zein.
"Aunty janji?" tanya Shanaz memastikan, sambil menatap Alya.
"Ye, sayang!" sahut Alya tegas dan mencium kening Shanaz.
Sementara tanpa sepengetahuan mereka, Makcik Diana yang dari tadi berdiri di tepi pintu. Ikut menangis saat mendengar percakapan mereka.
'Ya Allah ... saye serahkan semuanya pade engkau. Semoga selalu ade kebahagiaan dalam keluarga ne' batin Makcik Diana lirih.
****
5 hari kemudian ....
"Alya, hari ne Ibu awak tiba kat Malaysia 'kan?" tanya Makcik Diana saat mereka semua sedang menikmati sarapan pagi bersama, di ruang makan.
"Ye, Makcik. Pukul 9 setengah nanti Ibu saye dah tiba kat lapangan terbang(bandara) KL," jawab Alya.
"Ibu awak datang ke Malaysia, tak seorang saje 'kan Al?" tanya Makcik Diana kembali.
"Ibu saye datang bersama Agency saye, yang dari Indonesia Makcik."
"Alhamdulillah bila macem tuh."
"Zein, awak hari ne tak sibuk kah?" tanya Makcik Diana kemudian pada anak lelaki pertamanya, yang tengah menikmati sarapannya.
"Hari ne, jadwal Zein kosong Ma." Zein berucap sesaat setelah ia selesai menghabiskan makanannya.
"Boleh kah awak menjemput, Ibu dan Agen ... Alya kat lapangan terbang?" tanya Makcik Diana kembali.
"Boleh, Ma. Selepas Zein hantar Anak-anak ke sekolah, Zein akan lanjut ke KL untuk jemput Ibunya Alya." Zein berucap datar.
"Anak-anak dah selesai makan kah? Bila dah selesai, jom berangkat sekolah sekarang." ajak Zein pada ke dua anaknya.
"Ye, Papa. Sekejap ... ," sahut mereka berdua serempak.
TBC
Thanks buat yang udah mampir di cerita recehku ini 🥰. Jangan lupa tinggalin jejak ya 🤗
__ADS_1