Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 6 Massa Lalu


__ADS_3

****


Setelah cukup lama berdiam diri, memikirkan ucapan Mama dan Anak-anaknya. Zein pun menyusul masuk ke dalam resto.


"Apa kabar, Mak Ngah?" sapa Zein, saat ia bertemu dengan Makcik Suh, dan mencium punggung tangan Makcik Suh.


"Alhamdulillah baik, Zen."


"Wah ... awak ne, tambah handsome saje, Zein." Makcik Suh, melanjutkan ucapannya kembali dan memuji ketampanan keponakannya.


"Makasih, Mak Ngah. Tapi, saye 'kan handsome sejak lahir," sahut Zein terkekeh kecil.


"Ye, Handsome. Tapi, sampai sekarang pun awak tuh masih single Zein. Buat apa handsome, tapi tak laku." Makcik Diana, mamanya Zein menyambung ucapan anaknya, dengan kesal.


"Mama. Zein, bukannya tak laku. Tapi, Zein hanya belum menemukan seseorang, yang bisa menerima Zein, serta Anak-anak dengan tulus, Ma. Zein, tak nak kejadian 5 tahun yang lalu ... terulang kembali. Sebab, Zein terlalu terburu-buru mencari pendamping hidup," sahutnya lirih.


Ia pun jadi teringat dengan mantan istrinya, yang telah tega mengkhianatinya.


*Flash Back On*


5 tahun lalu, tepatnya saat usia Shanaz 3 tahun dan Allysa baru berumur 1 bulan lebih. Istri yang sudah 3 tahun lebih ia nikahi, dan yang sangat dicintai Zein, tega mengkhianatinya. Padahal segala sesuatu yang diinginkan istrinya, selalu Zein berikan. Dan, saat cuti berlayar pun ... Zein, selalu menservice istrinya dengan baik.


Ya, Zein adalah Kapten kapal pesiar Internasional. Selain ia memiliki gaji yang cukup fantastis, ia pun jarang pulang ke rumah. Dan, paling cepat ia mendapatkan cuti setelah 3 bulan berlayar.


Ira, istri Zein ... merupakan pramugari di kapal pesiar yang dikendalikan Zein. Setelah 3 bulan mengenal Ira, Zein akhirnya melamar Ira. Namun usia pernikahan mereka, hanya bertahan 3 tahun lebih. Dan, itu pun dikarenakan Ira yang berselingkuh dengan rekan kerja Zein.


Saat itu, Zein yang seharusnya berlayar ke Jepang, dalam waktu 3 hari. Namun, ia meminta izin kepada Manajemen perusahaan kapal, untuk menggantikan tugasnya kepada Kapten atau pun Nahkoda awak kapal yang lain. Karna, iya ingin memberikan surprise kepada istrinya di hari anniversary pernikahannya yang ke tiga. Dan, juga karna ia ingin melihat putri ke duanya yang baru lahir. Sebab, tahun-tahun sebelumnya ... saat tepat hari anniversary pernikahannya. Zein mala masih berlayar , dan saat putri ke duanya lahir pun Zein tak bisa menemani istrinya di ruang persalinan.


Dan, setelah mendapatkan izin lebih awal. Zein pun langsung memesan tiket penerbangan, dari Australia ke Kuala Lumpur. Karna, saat ini Zein tengah berada di Sidney. Dan, Zein pun tak memberitaukan tentang kepulangannya, kepada Istrinya.


Setelah menempuh penerbangan hampir 8 jam, Zein pun langsung menuju Melaka menggunakan transportasi Bus. 2 jam berlalu ... Zein pun telah sampai di Melaka. Namun, ia terlebih dahulu pulang ke rumah Mamanya.


"Assalamualaikum?" ucap Zein memberi salam, saat dia memasuki rumah Mamanya.


"Waalaikumsalam," sahut Mama Zein, yang tengah menggendong Shanaz kecil.


"Zein, bukan kah awak 3 hari lagi baru balek?" tanya Mama kemudian.


Zein hanya tersenyum, dan ia pun lantas mencium punggung tangan Mamanya.


"Kenape, Shanaz Ade sama Mama? Ira, Kat mana dia, Ma?" tanya Zein.


"Tadi, Ira kata ... dia nak ke Cheras. Sebab, ada orang yang nak sewa," jelas Mama Zein.


"Bukan kah, 3 bulan yang lalu ... Ira bagi tau saye, bila rumah Kat Cheras tuh dah Ade yang sewa, Ma." sahut Zein bingung.


"Mama tak tau lah Zein, pasal tuh. Mama rasa, istri awak tuh ada something lah same kawan awak, Zein." Mama Zein menceritakan tentang istri anaknya, yang mulai berubah.


"Maksud, Mama?" tanya Zein tak paham.


"Awak cari tau sendiri lah, Zein."


Zein pun tampak berpikir, namun beberapa detik kemudian. Ia pun mengalihkan tentang ucapan Mamanya. Dan, mendekati putri pertamanya yang digendong oleh Mamanya.


"Shanaz, jom sama Papa sini." Zein mengulurkan ke dua tangannya. Namun Shanaz, mala menolak dan mengeratkan pegangannya di leher Omanya.


Melihat itu, Zein begitu sedih. Tapi ia pun paham, kenapa anaknya tak mau dan merasa asing, sama Papanya sendiri. Sebab, dalam setahun Zein hanya ada waktu 1 bulan baru bisa berkumpul dengan istri dan anaknya.


"Shanaz, ne Papa awak ... sayang. Shanaz, tak rindu kah pada Papa," ucap Mama Zein membujuk Shanaz, agar Shanaz mau bersama Zein.


Setelah cukup lama membujuk, akhirnya Shanaz pun mau digendong Zein.

__ADS_1


"Oh ye, Shanaz ... Papa ada hadiah buat awak dan adek. Tapi, hadiahnya masih ada dalam bag, Papa," ucap Zein lembut, sambil mencium gemas putri pertamanya.


"Zein, awak tak nak tengok Allysa kah?" tanya Mama mengingatkan Zein


"Apa lah Mama cakap ne, tak 'kan lah saye tak nak tengok putri kecik saye tuh, Ma."


Lalu, Zein dan Mamanya ... menuju kamar Zein, semassa Zein belum berumah tangga. Ya, setiap Zein atau pun istri dan anaknya nginap di rumah Mamanya. Pasti mereka akan tidur di kamar Zein.


"Tengok lah, Zein. Putri awak yang ke dua ne, percis sangat macam awak," ucap Mama.


"Shanaz gendong Oma dulu ye, sayang. Sebab, Papa nak gendong adek," ucap Zein.


"Putri kecik Papa, akhirnya Papa bisa gendong awak sayang," ucap Zein haru, sebab saat putri ke duanya lahir, Zein hanya bisa melihat anaknya saat video call dengan istrinya. Bahkan, Zein pun mengadzankan putri ke duanya lewat sambungan video call.


*


*


*


Jam sudah menunjukan ke angka 7 malam, namun Ira juga belum pulang. Zein, yang sudah tak sabar ingin memberikan surprise pada istrinya. Akhirnya memilih ke luar untuk menjemput istrinya.


"Ma, titip Anak-anak ye. Saye, pinjam kereta Mama ye," ucap Zein meminta tolong.


"Awak nak ke Mane, Zein?" tanya Mama.


"Saye, nak cari Ira ... Ma,"


"Oh. Awak, hati-hati ye Zein. Jangan laju-laju sangat bawa kereta." pesan Mama.


"Ye, Ma. Assalamualaikum." pamitnya.


"Waalaikumsalam."


Lalu, Zein teringat dengan ponselnya. Ya, dari Zein sampai ke Melaka. Zein, belum sempat mengganti kartu Malaysianya kembali. Dan tak lupa, ia pun mengecek keberadaan istrinya, melalui gps dari hpnya, yang sudah terhubung ke hp istrinya tanpa sepengetahuan istrinya.


"Hotel?" ucap Zein bertanya-tanya dengan dahi berkerut, saat ia baru saja mengecek ke beradaan istrinya melalui gps.


Tanpa membuang waktu, Zein pun langsung tancap gas menuju hotel tersebut.


Beberapa menit kemudian, ia pun telah sampai ke tempat tujuan.


"Selamat malam, Cik. Nak reservasi bilik VVIP atau biase?" tanya Resepsionis hotel, yang mengira Zein mau pesan kamar.


"Saye, bukan nak reservasi bilik. Tapi, saye nak tanya ... bilik Encik Ira, Ade kat mana?" tanya Zein berusaha tenang, walau sebenarnya hatinya sudah ketar-ketir.


"Maaf Cik, itu privasi klien kami. Jadi, saye tak boleh sembarang bagi tau," sahut Resepsionis itu ramah.


"Saye, suami Encik Ira. Saye, nak bagi surprise dengan istri saye." Zein berucap sambil menunjukan ID card-nya, kepada Resepsionis tersebut.


"Ok, Cik. Bilik Encik Ira, Ade kat lantai 2 nomor 302," jelas Resepsionis itu memberitau.


Zein pun langsung menuju lift, beberapa detik kemudian ... pintu lift pun terbuka tepat di lantai 2. Saat tepat di depan kamar 302, Zein pun menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia mengetuk pintu kamar itu.


Tok!


Tok!


Tok!


3 kali ketukan, pintu itu pun terbuka.

__ADS_1


"Ye, Sayang ... sekej ...." Ira pun sangat kaget, ketika yang ada didepannya Zein.


"Ze ... Zein. Bila, awak balik sayang?" tanya Ira gugup


Tanpa menjawab, Zein pun langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Lalu, ia menutup pintu kamar itu. Setelah cukup puas Zein memperhatikan suasana di dalam kamar itu. Kini, Zein pun beralih pada Ira.


"Jadi, ne yang awak buat ... bila saye tengah berlayar?" tanya Zein menahan emosi dengan mata memerah.


"Jawab Ira!" bentak Zein, ketika istrinya hanya diam saja.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Zein pun langsung membuka pintu itu, dan menepi di samping pintu.


"Sayang, saye tak dapat lah pesanan yang sayang nak tuh," ucap lelaki selingkuhan Ira.


"Sayang, kenape awak ne? Awak sakit kah?" tanya lelaki selingkuhannya kemudian.


"Oh ... jadi, awak lelaki selingkuhan dia," ucap Zein masih berusaha tenang.


"Ze–Zein," ucap lelaki itu terbata.


"Jadi, pasal ne lah yang buat awak tak nak berlayar same dengan saye?"


"Biar awak boleh main dengan perempuan ne, massa saye tengah berlayar?"


"Zein, ne tak seperti yang awak fikir," ucap lelaki selingkuhan Ira mengelak.


"Cukup! Saye tak sebodoh yang awak fikir!" pekik Zein berang.


"Katil tuh, sudah cukup untuk menjadi saksi, permainan menjijikan awak bersama perempuan ne!" tegas Zein, sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang terlihat berantakan.


"Dan, mulai saat ne ... awak tak perlu bersembunyi seperti ne, bila awak nak bermain dengan dia, Ira."


"Sebab, detik ne juga ... awak saye ceraikan!" tegas Zein kemudian, lalu ia ke luar dari kamar itu.


*


*


*


"Zein, mana Ira? Kenape, awak balik tak bersama istri awak?" tanya Mama, saat Zein sampai ke rumah.


"Mulai malam ne, dia bukan istri saye lagi, Ma. Saye, dah menceraikan Ira," sahut Zein lirih.


Mama yang mendengarnya pun sontak terkejut.


"Kenape, awak cakap macem tuh, Zein? Ape hal yang dah terjadi?" tanya Mama.


Akhirnya Zein pun menceritakan ke Mamanya, soal istrinya yang sudah berselingkuh dengan rekan kerjanya.


"Awak yang sabar ye, Zein." Mama berusaha menyemangati anaknya.


"Perempuan seperti tuh, tak pantas buat awak sedihkan," lanjut Mama kemudian.


Flash Back Off


Melihat raut wajah Zein, yang terlihat sedih. Makcik Diana pun, merasa bersalah. Karna sudah mengingatkan anaknya, dengan kisah massa lalu Zein dengan mantan menantunya.


"Zein, Mama selalu do'akan ... agar awak dapat jodoh perempuan yang Sholeha," ucap Makcik Diana, menggenggam tangan anaknya.


"Aamiin ...." Makcik Suh menyahut cepat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2