
"Al. Kamu, yakin ... mau menjadi TKI lagi, di Malaysia?" tanya Buk Ipah, pemilik panti. Yang tengah memperhatikan Alya, sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper.
"Iya, Buk. Alya, udah tanda tangan kontrak Buk. Bahkan, besok pagi ... Alya harus terbang ke Batam. Setelah beberapa hari di asrama, baru Alya dan yang lainnya akan ke Malaysia, lewat jalur laut Buk." Alya menjawab, namun ia tetap fokus, memasukan pakaian-pakaiannya ke dalam koper.
"Oh." Buk Ipah pun menyahut singkat.
"Apa, keberangkatan kamu ... ini. Karna, kamu ingin menemui Faiz, Al?" tanya Buk Ipah kemudian, dengan serius.
Seketika, Alya pun menghentikan kegiatannya. Dan, mendekati Buk Ipah yang sedang duduk di kasur nya.
"Kenapa, Ibu bertanya seperti itu? Apa, Ibu tidak percaya dengan Alya, Buk?" Alya, mala bertanya balik kepada Buk Ipah.
"Bukan begitu, Nak. Ibu, hanya tidak ingin. Kamu, terpedaya oleh cinta. Yang nantinya ... akan membuat kamu dibutakan oleh cinta. Dan, akhirnya kamu ... seperti ... ," belum sempat Buk Ipah melanjutkan ucapannya. Alya pun, langsung menyergah ucapan Buk Ipah.
"Buk. Alya, tau ... Ibu tuh khawatir dengan Alya. Karna, Ibu sayang sama Alya. Tapi, niat Alya kembali menjadi TKI di Malaysia lagi. Itu memang karna Alya mau bekerja, biar Alya bisa bantu Ibu. Untuk merenovasi panti ini, dan memperbesar panti . Agar Ibu bisa menolong Anak-anak yang terlantar. Seperti yang Ibu inginkan." Alya menjelaskan, dan menatap lembut Buk Ipah, sambil menggenggam tangan Buk Ipah.
Huft!
Alya pun menghela nafas. Lalu, ia melanjutkan kembali ucapannya.
"2 tahun ... Alya, lost contact dengan Bang Faiz, Buk. Mungkin pun, Bang Faiz sudah berkeluarga. Ibu, jangan risaukan Alya. In saya Allah ... Alya, bisa jaga diri Buk. Lagian Ibu, 'kan tau bagaimana karakter Alya. Bahkan 2 tahun ini pun, Alya tak ada dekat dengan lelaki manapun. Setelah, Alya dan Bang Faiz lost contact, Buk."
Setelah mendengarkan penjelasan dari Alya. Buk Ipah pun merasa lega. Dan, ia juga merasa bersalah kepada Alya.
Lalu, Buk Ipah meminta maaf kepada Alya, anak asuhnya yang ia rawat saat Alya berusia 8 tahun. Dan, sudah dianggap anak kandungnya sendiri. Begitu juga Alya, yang sudah menganggap Buk Ipah, seperti Ibu kandungnya sendiri.
"Al, maafin Ibu ya," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Minta maaf ... untuk apa, Buk?" tanya Alya bingung.
"Karna, Ibu sudah meragukanmu. Dan, tidak percaya dengan Alya," sahut Buk Ipah lirih.
Alya, yang mendengar ucapan Buk Ipah. Hanya menanggapi dengan senyum. Lalu, ia pun menatap lekat Buk Ipah.
"Ibu, nggak perlu minta maaf ... ke Alya. Lagian, Ibu nggak ada salah apa-apa ke Alya," ucap Alya kembali tersenyum.
"Lagian, Alya paham ... kenapa Ibu bersikap seperti tadi. Ya ... itu, karna Alya tau kalo Ibu tuh sangat menyayangi Alya dan menghawatirkan keadaan Alya," ucapnya kembali, sambil memeluk Buk Ipah.
*
*
*
Hari ini, suasana panti terlihat sunyi. Karna, Anak-anak panti merasa sedih, untuk melepas keberangkatan Alya ke Batam. Sebelum Alya menuju Malaysia.
"Kok, pada diam semuanya ... ini? Apa, nggak ada yang mau ngucapin sesuatu ... gitu ke Kakak? Ini, Kakak mau kerja jauh lho? Apa nggak ada yang sayang lagi, sama Kak Alya?" tanya Alya, memecahkan keheningan yang saat ini terjadi di panti.
"Kami, sayang kok sama Kak Alya. Tapi, kami sedih ... karna, nanti nggak bisa main sama Kakak lagi," ucap Anak-anak panti bersamaan, dengan air mata yang sudah membasahi pipi mereka.
"Kalo, kalian semua nangis. Ntar, Kakak ikut nangis juga. Terus, Kakak bisa ketinggalan pesawat."
"Terus, kalo Kakak ketinggalan pesawat. Kakak, nggak jadi kerja. Ntar ... Kakak, nggak bisa beliin mainan yang kalian mau dong," ucap Alya kembali, berusaha menghibur Adik-adik asuhnya.
Mendengar ucapan Alya, mereka pun berhenti menangis, walaupun sebenarnya mereka sedih. Melepas keberangkatan Alya, untuk menjadi TKI seperti sebelumnya.
__ADS_1
Melihat ekspresi Adek-adek asuhnya, Alya pun tersenyum.
"Ya udah, Kakak berangkat dulu ya, Adek-adek. Do'ain Kakak, semoga selamat sampe tujuan." Alya berpamitan kepada semuanya.
"Hati-hati di jalan ya, Kak Alya!" seru Adek-adek asuh Alya bersamaan.
"Iya, Sayang." Alya menyahut, sambil tersenyum manis kepada mereka semua.
"Kamu, hati-hati ya ... Al. Maaf, Ibu tidak bisa mengantar kamu sampai ke Batam. Kamu, jaga diri baik-baik di negri orang." Buk Ipah berpesan kepada Alya.
"Iya, Buk. Kalo gitu ... Alya pergi dulu ya, Buk. Alya takut ketinggalan pesawat, soalnya jadwal take off maskapai penerbangan rute Batam, jam 7."
*
*
*
Setelah 1 jam 45 menit, pesawat pun landing di Bandara Udara Internasional Hang Nadim, Batam. Tak menunggu lama, begitu Alya ke luar dari Bandara. Pihak Agency, yang mengurus keberangkatan Alya ke Malaysia, sudah datang menjemput Alya.
Kini, Alya pun sudah berada di mess yang disediakan oleh pihak Agency. Bersama sesama teman TKI yang lainnya.
3 hari berlalu ... visa Alya pun sudah turun. Karna, cuaca kurang bersahabat. Dan, air laut sedang pasak. Maka, keberangkatan Alya bersama teman TKI-nya yang lain pun ditunda.
Hingga, setelah 6 hari berada di Batam. Alya dan rekannya pun, baru bisa berangkat ke Malaysia hari ini, menggunakan Ferry. Dari pelabuhan Batam Center, ke pelabuhan Stulang Laut Johor, Malaysia. Setelah melakukan perjalanan laut, hampir 2 jam menggunakan Citra Ferry. Tim Alya pun, telah sampai di Johor, Malaysia dengan selamat.
TBC
__ADS_1