
****
Setelah Buk Ipah masuk ke dalam mobil, Zein pun kemudian berjalan ke arah pintu sisi kanan tempat kemudi. Setelah itu ... Zein menghidupi mesin mobilnya.
"Selamat datang kat Malaysia ye, Buk." Zein berkata sambil fokus mengemudi, dan menoleh sekilas ke samping kemudi, di mana Buk Ipah duduk.
"Iya ...," sahut Buk Ipah singkat, karna bingung mau berkata apa lagi, dan takut Zein tak paham dengan ucapannya. Begitu pun dengan dirinya, yang tak mengerti dengan bahasa Malaysia.
Setelah itu suasana di dalam mobil pun hening. Hinggga 2 jam berlalu, mereka pun telah sampai di Melaka. Di kediaman Mama Zein.
"Jom, Buk ... Encik. Kita dah sampai." ajak Zein pada ke dua wanita itu.
Mereka bertiga pun jalan beriringan, menuju pintu utama rumah Mama Zein. Dan ternyata ... Mama, Alya dan Faiz adik satu-satunya, udah menunggu kedatangan Ibu dan Agency Alya, di ruang tamu.
"Assalamualaikum ... ," ucap Zein saat memasuki rumah.
Dan disusul oleh Ibu beserta Agency Alya, yang mengucapkan salam juga.
"Assalamualaikum." jawab Ibu dan Agency Alya serempak.
"Waalaikumsalam ... selamat datang kat Malaysia, Ibu Alya." Mama Zein menyambut senang, kedatangan Buk Ipah dan Agency Alya.
Karna Zein tak ingin mendengar pembahasan tentang pernikahan Alya dan Faiz. Zein pun berpamitan pada semuanya untuk pergi.
"Ma, Zein pigi ye." pamitnya pada Mamanya.
"Awak nak ke Mane, Zein?"
"Zein nak jemput Anak-anak, Ma. Sekejap lagi 'kan, Anak-anak dah nak selesai belajar." Zein menjelaskan pada Mamanya.
"Maaf Ibu, Encik. Saye pigi dulu ye .... " pamit Zein kemudian pada Buk Ipah dan Agency Alya.
*
*
*
Setelah itu, Alya berjalan mendekati Buk Ipah. Dan, langsung memeluk Buk Ipah.
"Ibu ... Alya rindu sekali sama, Ibu."
"Ibu juga rindu sekali ... sama, Alya." Buk Ipah berucap sama, seperti yang Alya katakan padanya. Dan, membalas pelukan Alya.
"Seronoknya yang jumpa dengan Ibu tuh," goda Mama Zein pada Alya, calon menantunya.
Alya pun tersenyum malu, saat selesai melerai pelukannya dari Buk Ipah.
"Jom ... silahkan duduk Buk, Encik. Kita bincangnya sambil duduk." Mama Zein melanjutkan ucapannya kembali, dan mengajak ke dua tamunya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Tak lama kemudian 2 orang maid wanita, paruh baya dan setengah muda datang membawa beberapa cawan orange Juice dan cookies.
"Terimah kasih ye, Makcik ... Akak." Mama Zein berucap pada ke dua maidnya, setelah mereka berdua selesai meletakan orange Juice dan cookies yang mereka bawa, ke atas meja.
__ADS_1
"Ye, Puan. Same-same," balas ke dua maid itu serempak. Dan berlalu pergi ....
"Ibu, ne lah Abang Faiz." Alya akhirnya memulai percakapan, setelah ke dua maid itu pergi. Untuk mengenalkan calon suaminya pada Ibu asuhnya.
Lalu Alya mendorong kursi roda Faiz, ke hadapan Ibu Ipah. Setelah agak dekat dengan keberadaan Buk Ipah, Faiz kemudian mengambil lembut tangan kanan Buk Ipah, dan mencium punggung tangannya.
Buk Ipah pun membiarkan Faiz mencium punggung tangannya. Dan menatap lekat lelaki dewasa nan tampan yang berada di kursi roda. Yang barusan Alya kenalkan padanya, dengan tatapan bingung.
"Abang Faiz mengalami kecelakaan, saat 2 tahun yang lalu ... Buk." Alya berucap, saat menyadari kebingungan Buk Ipah.
"Satu hari ... saat Bang Faiz dan yang lainnya ingin datang ke Indonesia. Malamnya Abang Faiz kecelakaan, dan Abang Faiz koma selama 2 tahun. Dan, baru 7 bulan ini Bang Faiz ... sadar dari komanya. Karna kecelakaan itu, kaki Bang Faiz pun mengalami lumpuh," jelas Alya kemudian dengan lirih.
Buk Ipah yang mendengar penjelasan dari Alya, merasa terkejut dan juga menatap sendu Faiz.
'Ya Allah ... jadi karna ini Faiz menghilang, dan tidak memberi kabar pada Alya saat 2 tahun yang lalu' batin Buk Ipah sedih.
"Maaf ye, Buk. Sebab saye tak boleh jemput Ibu, kat lapangan terbang (bandara)," ucap Faiz mengalihkan topik percakapan, saat menyadari raut wajah Buk Ipah dan Alya sedih.
"Ibu tidak ada pergi ke lapangan terbang loh, Nak Faiz." Buk Ipah menyahut polos.
Seketika Alya dan Buk Irawan menahan tawa, saat mendengar ucapan Buk Ipah.
"Ibu, Abang Faiz bilang. Maaf ... karna nggak bisa jemput Ibu di bandara," ucap Alya memberi tau pada Buk Ipah, maksud dari perkataan Faiz.
"Owala ... begitu toh maksudnya," sambung Buk Ipah tersenyum malu.
"Nanti bincangnya disambung lagi, jom Ibu ... Encik. Diminum dulu airnya." Mama Zein berucap.
"Ye, Puan. Terimah kasih," sahut Buk Irawan mewakili Buk Ipah.
"Buk, makasih ya. Karna Ibu udah berkenan, untuk menemani Ibu saya ke Malaysia," ucap Alya pada Buk Irawan, yang merupakan Angencynya."
"Maaf juga, jika Alya merepotkan Ibu. Untuk membantu mengurus dokumen kepemilikan Alya di Indonesia," ucap Alya kembali.
"Nggak apa-apa, Al. Kamu jangan sungkan gitu, selagi Ibu bisa bantu kamu. Ibu nggak merasa direpotkan," sahut Buk Irawan tulus.
"Oh iya, Ibu lupa." sambung Buk Irawan kemudian.
Lalu ia mengeluarkan amplop coklat, yang di dalamnya ada beberapa lembar dokumen Alya, agar ia bisa melangsungkan pernikahan yang sah di Malaysia.
"Ini ya, Al. Ibu juga udah minta surat permohonan yang dicop dari kelurahan, tempat tinggal Buk Ipah. Ini kartu keluarga, dan E-KTP kamu. Karna kamu diasuh oleh Buk Ipah dan almarhum suami Buk Ipah, jadi kamu masuk ke daftar kartu keluarga Buk Ipah." jelas Buk Irawan saat memberikan dokumen Alya kepadanya.
"Makasih ... Buk," ucap Alya.
"Same-same,"
Dan tiba-tiba saja, raut wajah Alya berubah sedih.
"Kamu kenapa, Al? Kok sedih?" tanya Buk Irawan saat menyadari kesedihan Alya.
"Alya sedih, karna saat menikah nanti ... nggak ada Ibu dan Ayah kandung Alya, yang menemani Alya," ucapnya lirih.
Mereka semua yang ada di ruang tamu itu pun ikut sedih.
__ADS_1
"Alya, 'kan masih ada Ibu. Kamu jangan sedih ya, Ibu kamu pasti udah tenang di sana ... dan juga ikut bahagia, melihat kamu bahagia," ucap Buk Ipah mengelus lembut pundak Alya.
"Ye, Alya. Awak tak seorang pon, ade Makcik yang akan jadi Ibu awak kat sini," sambung calon mertua Alya menghampirinya, yang duduk di samping Buk Ipah.
"Terimah kasih Buk, terimah kasih Makcik. Sebab dah baik pade Alya," balas Alya terharu.
"Tapi, siapa yang akan jadi wali dipernikahan Alya lusa, Buk?" tanya Alya pada Buk Ipah kemudian.
"Kamu tenang saja, Al. Karna, semuanya udah Ibu urus." Buk Irawan menyambung obrolan Alya dan Buk Ipah.
"Maksud Ibu?" tanya Alya bingung.
"Ada lah, biar ini jadi kejutan untuk kamu ... di hari pernikahan kamu," jelas Buk Irawan tersenyum.
Dari kejauhan ... maid berjalan menghampiri Mama Zein.
"Maaf Puan, saye dah hidangkan untuk makan siangnya," ucap maid itu memberitau.
"Hah ... ye, makasih."
Maid itu kemudian berlalu ....
"Jom lah kita makan dulu, dah pukul 12 lewat ternyata." ajak Mama Zein.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan.
"Makan yang banyak ye, Buk ... Encik. Anggap saje ne rumah sendiri," ucap Mama Zein saat ia mengisi nasi beserta lauk-pauk, ke dalam piringnya.
Dan dibalas senyuman oleh Buk Ipah dan Buk Irawan.
Beberapa menit kemudian, mereka semua telah selesai makan.
"Alya, tolong hantar Ibu awak dan Encik Irawan ke bilik mereka ye. Biar Faiz, Makcik yang bantu ke biliknya." perintah Mama Zein pada Alya.
"Ye, Makcik "
"Ibu, Encik ... selamat berehat ye." Mama Zein berucap, sebelum pergi.
"Ye, Puan. Makasih." lagi-lagi Buk Irawan menjawab, mewakili Buk Ipah.
****
"Ini kamar Ibu," ucap Alya pada Buk Ipah.
"Ibu tidur dengan kamu aja, boleh nggak Al? Kamu tidur sendiri 'kan?" tanya Buk Ipah.
"Boleh, Buk. Dan kebetulan Alya di sini, dikasih kamar sendiri."
"Wah bagus lah, soalnya Ibu kangen tidur bareng sama kamu," jelas Ibu senang.
"Ya udah ... biar Ibu aja yang tidur di kamar ini." Buk Irawan mengeluarkan pendapatnya.
TBC
__ADS_1
Happy reading 🤗 makasih dah mampir di cerita recehku 😚. Jangan lupa tinggalin jejak ya 🥰